Archive

Archive for October, 2010

Apakah Jepang di Ambang Kebangkrutan ?

October 12th, 2010 No comments

Hutang pemerintah Jepang sebagai suatu persentase dari PDB (Produk Domestik Bruto) adalah 52% pada tahun 1989, sebelum anjloknya pasar perumahan maupun bursa saham di “Negeri Matahari Terbit”.  Saat ini hutang tersebut telah sebesar 200% dari PDB, seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini.  Bahkan proyeksi anggaran menunjukkan hutangnya kemungkinan akan mencapai 250% dari PDB di tahun 2015.

Sebuah hukum ekonomi dasar menyatakan bahwa suatu tren yang tidak dapat dipertahankan pada akhirnya memang tidak akan bertahan.  Oleh karena itu, pada saat perekonomian terbesar ketiga didunia tersebut meledak, gemanya akan terasa di seluruh dunia.

Ketika permintaan akan surat hutang Anda melemah, kenaikan dalam tingkat suku bunga yang Anda tawarkan adalah sebuah tahap berikutnya yang masuk akal.  Itu memang terdengar bijaksana kecuali kalau Anda sudah memiliki hutang yang belum terlunasi senilai US$10 trillion.  Kini suku bunga untuk obligasi pemerintah Jepang yang berdurasi 10 tahun sedang berada di sekitar 0,5%.  Biarpun suku bunga tersebut sudah luar biasa rendah, beban bunga sekarang saja telah menghabiskan 59% dari semua pendapatan pajak Jepang (lihat grafik dibawah ini).

Apabila pelaku pasar menuntut suku bunga yang lebih besar dari 3,5% untuk membeli surat hutangnya, Jepang tidak akan mempunyai pendapatan yang secukupnya untuk menutupi beban bunganya.  Seperti ditunjukkan pada grafik dibawah ini, ketika suku bunga mendekati 3,5% Jepang harus menghabiskan semua pendapatan pajaknya untuk membayar bunga atas hutangnya.  Sehingga dengan mudah dapat dijelaskan bahwa Jepang pada akhirnya akan terpaksa gagal untuk membayar hutangnya.

Memang tidak ada pilihan menarik lagi yang tersisa.  Artinya hanya sebuah kenaikan kecil dalam suku bunga dapat menenggelamkan perekonomian terbesar ke-3 di bumi ini.  Kemarin krisis kredit di negara kecil (Yunani dan Irlandia) hampir membuat kondisi pasar kacau-balau, jadi Anda pasti bisa membayangkan bahwa kebangkrutan Jepang kemungkinan besar menimbulkan suatu crash atau kehancuran secara global.

Dengan kata lain, Jepang ibarat kapal Titanic yang telah menabrak sebuah gunung es dan sedang menyerap air dengan cepat.  Pada kenyataannya tidak tersedia cukup banyak perahu penyelamatan.  Intervensi di pasar uang sama saja dengan menyusun kembali perabot di dek kapal sedangkan lebih banyak stimulus seperti band yang bermain musik pada waktu kapal tenggelam.  TUJUANNYA sudah JELAS; hanya WAKTUNYA saja yang BELUM PASTI.

Selamat berinvestasi dan semoga sukses selalu!

Categories: Pasar Internasional Tags: