Home > Pasar Internasional > Peluang dan tantangan pada tahun 2011 (Part 2)

Peluang dan tantangan pada tahun 2011 (Part 2)

January 24th, 2011 Leave a comment Go to comments

Sebagai lanjutan dari artikel pekan yang lalu, sekarang saya ingin lebih memusatkan perhatian terhadap peluang yang kemungkinan akan muncul selama beberapa bulan yang mendatang.  Seperti tulisan saya sebelumnya, dalam jangka pendek bursa saham AS sudah overbought dengan RSI (Relative Strength Index) yang telah berada di atas 70 pada grafik mingguan.  Berarti suatu koreksi yang signifikan – antara 5% dan 10% – dapat mengejutkan pelaku pasar setiap saat.

Selain itu, kini tidak seorang strategist pun yang disurvei oleh Bloomberg merasa bearish terhadap equities. Dengan kata lain, pelaku pasar pada saat ini cenderung terlalu yakin mengenai potensi kenaikan selanjutnya.  Sikap itu justru kebalikannya dari apa yang kita alami pada Maret 2009 dan level terendahnya di bulan Juli 2010. Sebagai akibatnya, prospek untuk kuartal pertama tahun ini tidak begitu menjanjikan.

Untuk mengetahui kira-kira berapa lama dan sejauh mana bursa saham akan terkoreksi, mari kita melihat ke belakang terlebih dahulu.  Pada waktu indeks Dow Jones menyelesaikan wave ke-5 di awal bulan Mei 2010, bursa turun selama 10 pekan dan melemah sedikit lebih jauh dari titik terendah wave ke-4 (di 9,835) tetapi masih bertahan diatas 38.2% fibonacci retracement di level 9,428.  Jadi meskipun kejatuhannya terasa besar ketika krisis hutang di Eropa meledak, koreksi tersebut pada dasarnya tergolong biasa sekali dan “menyehatkan” pasar yang terlalu panas (lihat grafik dibawah ini).

Berdasarkan kejadian sebelumnya, kita bisa membuat suatu perkiraan tentang koreksi yang akan segera datang.  Grafik dibawah ini menunjukkan bahwa indeks Dow Jones kemungkinan akan melemah ke sekitar 11,030, yang merupakan 38.2% fibonacci retracement, hingga 10,929 sebagai level terendahnya dari wave ke-4.

Apabila Anda sudah tahu bursa saham akan turun dalam beberapa pekan kedepan, Anda bisa mempersiapkan diri dengan tenang, dan melakukan salah satu atau kedua hal tersebut:

1) Supaya Anda tidak tertindas bursa saham yang turun maupun menderita kerugian yang berlebihan, Anda dapat melakukan HEDGING melalui penjualan indeks saham Asia.  Target koreksi untuk Nikkei, Kospi dan Hang Seng masing-masing adalah 9,872-10,048, 239.95-249.40 maupun 21,981-22,691.

Setelah penurunannya selesai, Anda tentunya bisa menutupi posisi jual di indeks saham itu atau switch dengan membeli salah satunya.  Ketiga indeks saham Asia tersebut menurut saya mempunyai daya tarik tersendiri dan menawarkan potensi keuntungan yang menggiurkan.

Terutama indeks Nikkei cukup menjanjikan karena saham Jepang tetap relatif murah pada saat ini.  Meskipun indeks Nikkei telah mencatat kenaikan hingga 15% sejak November, saham Jepang masih dianggap undervalued dengan price-to-book value (P/BV) sebesar 1.2.  Hal ini akan mendukung kenaikan bursa saham Jepang dimana Nikkei diperkirakan akan mencapai 11,000 dalam semester pertama dan 12,000 pada akhir tahun 2011.

Disamping itu investor asing makin melirik saham di negeri matahari terbit, yang dapat terlihat dari money inflow pada grafik diatas ini.  Mereka menjadi net buyer selama 3 bulan terakhir ini menyusul bursa saham Jepang dianggap relatif tertinggal dari bursa saham Asia dan global lainnya.

2) Jika Anda ingin berinvestasi dalam saham secara individual di Indonesia, pusatkan perhatian pada large caps atau perusahaan pilihan dengan:

  • pertumbuhan penjualan dan/atau laba bersih;
  • dividend yield yang tinggi maupun P/E yang relatif rendah;
  • cash flow yang sehat maupun OPM yang besar;
  • DER yang rendah dan ROE yang tinggi.

Menurut hemat saya, sektor yang menjanjikan tahun ini adalah energi & pertambangan, perkebunan (CPO), properti, semen dan consumer goods.  Sementara Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. (PTBA), PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP), Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI), Indocement Tunggal Prakasa Tbk. (INTP) dan Mayora Indah Tbk. (MYOR) merupakan saham favorit dalam sektor tersebut.

Pelonggaran moneter tetap mendukung

Quantitative Easing (QE), yang sedang diterapkan oleh bank sentral dari Amerika Serikat, Eropa, Inggris dan Jepang, mempunyai dampak besar bagi perekonomian global.  Di satu sisi harga saham dapat didorong naik lewat intervensi pasar, dan di sisi lain pelonggaran moneter ini bantu membiayai defisit pemerintah pada tingkat suku bunga yang rendah.

Namun efek dari stimulans tersebut hanya terasa sepanjang mesin cetak uang berjalan terus.  Ketika the Fed dan bank sentral lainnya berhenti menciptakan uang baru dan membeli berbagai aset, harga saham akan jatuh, kekayaan investor menguap, pengeluaran konsumen menurun maupun ekonomi  tergelincir kedalam resesi lagi.

Kita hanya perlu menimbang apa yang terjadi pada 2010 untuk melihat bahwa ini benar.  Pada tanggal 31 Maret, the Fed mengakhiri pembelian aset beracun dari bank senilai US$1,7 trilyun (lihat grafik diatas ini).  Lalu sampai akhir bulan Juni yang lalu, indeks S&P 500 di AS turun hampir 15% dan dengan demikian menghancurkan setidaknya US$1,5 trilyun lewat pelemahan harga saham hanya dalam 3 bulan.

Setelah koreksi itu, Ben Bernanke – Kepala bank sentral AS – mulai mengusulkan kampanye QE2 untuk membeli obligasi pemerintah.  Kemudian bursa saham mengalami rebound dan … perekonomian bangkit kembali.  Maka boleh dikatakan bahwa ekonomi AS telah menjadi tergantung pada stimulus yang diberikan oleh pencetakan dolar yang tidak terbatas.  Kini harga saham maupun obligasi, penjualan ritel dan tingkat pengangguran naik dan turun seiring dengan suntikan likuiditas oleh the Fed.

Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa makin mendekati akhir dari masa berlaku QE2 pada bulan Juni tahun ini, makin banyak pelaku pasar akan menyerukan untuk melanjutkan pelonggaran moneter dengan suntikan uang yang berikutnya.  Berbagai dalih akan digunakan untuk memperkuat kebijakan tersebut seperti pasar properti yang merosot lagi, unemployment yang tetap tinggi, dan/atau pertumbuhan ekonomi yang belum pulih sepenuhnya dan kembali menunjukkan tanda pelemahan.

Dampak dari QE

Jika the Fed memutuskan untuk melanjutkan peningkatan peredaran uang dengan program QE3, QE4 dan seterusnya, pasar ataupun sektor ekonomi berikut ini akan diuntungkan:

1) Menurut majalah The Economist, tingkat pertumbuhan yang tertinggi di dunia pada tahun 2011 akan terjadi di Asia dengan PDB Cina yang diperkirakan akan naik 8,9% dan India 8,6%.  Berhubungan dengan itu, EKONOMI NEGARA ASIA lainnya juga akan mengalami ekspansi yang cukup tinggi, termasuk Indonesia;

2) Jika the dollar index anjlok lagi dalam jangka menengah, kebanyakan aset lainnya malahan akan berhasil menguat.  Yang paling jelas adalah bahwa pelemahan dolar AS tentunya akan mendukung harga KOMODITAS mengingat adanya korelasi yang negatif antara komoditas secara umum dan dolar AS.  Sebagai akibatnya, harga minyak, batu bara, CPO, tembaga, nikel, gandum, kedelai, timah, jagung, karet, dsb. diprediksi tetap akan cenderung naik.  Dan … siapa tahu minyak berhasil memecahkan all time high-nya di US$147/barel apabila dolar AS menembus level terendahnya terhadap mata uang utama di dunia?;

3) Terlepas dari volatilitas dalam jangka pendek, EMAS dan PERAK tetap menjadi INFLATION HEDGE yang terbaik dalam jangka panjang untuk menjaga lawan kehilangan daya beli dari dolar AS;

4) Akhirnya, MATA UANG yang didukung oleh KOMODITAS akan diburu terus.  Sebagai contohnya Aussie dollar dan Canadian dollar adalah dua mata uang yang sungguh menjanjikan dalam jangka panjang.

Semoga artikel ini mengenai peluang dan tantangan pada tahun 2011 bermanfaat untuk Anda, dan nilai portofolio Anda menunjukkan perkembangan yang menggembirakan!

Categories: Pasar Internasional Tags:
  1. irawan
    January 24th, 2011 at 09:27 | #1

    pak, bagaimana dgn saham DILD, apakah menarik/ sehat untuk dikoleksi? mengapa harganya turun terus, padahal sdh dibawah nilai bukunya? thx

  2. Sri M. Salimin
    January 26th, 2011 at 05:08 | #2

    Pak, apakah saham KRAS boleh hold atau mesti dilepas dengan kondisi diatas ?

  1. No trackbacks yet.