Archive

Archive for March, 2011

Apakah hyperinflation bisa menghantam Amerika Serikat?

March 28th, 2011 9 comments

Sekarang ada sejumlah indikator yang menunjukkan peningkatan dalam pencetakan uang dan ancaman permulaan sebuah periode yang hyperinflationary (dengan inflasi yang terlampau tinggi), seperti berikut ini:

  1. defisit yang makin besar di berbagai negara maju;
  2. suku bunga atas obligasi jangka panjang cenderung naik;
  3. banyak komoditas, baik itu hard maupun soft commodities, telah mencetak atau mendekati harga tertinggi sepanjang sejarah;
  4. mayoritas mata uang utama terkoreksi terhadap logam mulia;
  5. emas sudah berada diatas US$1,400/toz dan perak menguat lebih dari 80% tahun yang lalu.

Apa itu hyperinflation?

“By a continuing process of inflation, government can confiscate, secretly and unobserved, an important part of the wealth of their citizens.”

-John Maynard Keynes, Economic Consequences of Peace-

Pertama-tama, saya ingin menggarisbawahi bahwa hyperinflation bukan merupakan suatu pembesaran dari inflasi.  Inflasi dan hyperinflation adalah dua “binatang” yang sangat berbeda.  Sekilas mereka tampak sama, karena mata uang kehilangan daya belinya dalam 2 hal tersebut, tetapi pada kenyataannya mereka berbeda.

INFLASI terjadi pada waktu ekonomi terlampau panas.  Ketika permintaan terhadap sumber daya seperti tenaga kerja dan komoditi begitu tinggi, bersamaan dengan pemberian kredit yang makin banyak, harga sumber daya tersebut pasti akan meningkat.  Ini memaksa harga semua barang dan jasa ikut naik, agar produsen dapat mengimbangi pertambahan biaya.  Maka boleh dikatakan bahwa inflasi pada intinya merupakan sebuah peristiwa yang diakibatkan oleh permintaan.

Sedangkan HYPERINFLATION adalah turunnya kepercayaan terhadap mata uang.  Harga juga ikut naik saat hyperinflation sama halnya dengan suatu kondisi inflasi yang tinggi.  Namun kenaikan harga tersebut bukan karena tingginya permintaan, melainkan karena orang ingin segera membelanjakan uangnya.  Dengan kata lain orang lebih rela membayar berapa saja untuk suatu hal (barang atau komoditas) yang bukan mata uang mereka.

Jadi kita perlu membedakan antara inflasi dan hyperinflation.  Tingkat inflasi yang tinggi sering dialami oleh banyak negara.  Namun kondisi hyperinflation adalah suatu hal yang sangat istimewa, dimana tingkat inflasi bisa naik lebih dari 50% dalam sebulan.  Bahkan tingkat inflasinya bisa naik begitu tajam dengan angka yang kadang sungguh menakjubkan (lihat tabel diatas ini).

Apa yang menyebabkan hyperinflation?

“I’m convinced the US government will go bankrupt, but not tomorrow.  Before they go bankrupt, they’ll print money, and then you’ll get very high inflation rates.  Then you get a depression with high inflation.  Then eventually they’ll go to war.”

-Dr. Marc Faber-

Sejak 1920, dunia telah mengalami 29 kali hyperinflation – terakhir kali terjadi di Zimbabwe awal 2007.  12 diantaranya telah diteliti oleh Peter Bernholz dan ternyata ada kesamaan, yaitu hyperinflations selalu ditimbulkan oleh defisit anggaran yang sebagian besar dibiayai oleh pencetakan uang.

Selain itu, Bernholz juga mencari level dimana hyperinflations pada umumnya bermula.  Ia menemukan bahwa defisit yang mencapai 40 persen atau lebih dari pengeluaran tidak dapat dipertahankan, dan biasanya menuju ke inflasi yang tinggi sekali atau hyperinflations.  Yang menarik adalah bahwa Jepang maupun Amerika Serikat pada saat ini berada tidak jauh dari level yang mendahului hyperinflations, seperti dapat Anda lihat pada gambar dibawah ini.

Kesimpulan: hyperinflations tidak disebabkan oleh kebijakan bank sentral yang longgar.  Namun mereka berasal dari pemerintah yang membelanjakan uang diluar kemampuan mereka, dan dibantu oleh bank sentral yang membiayai pengeluaran pemerintah tersebut.

Proses ini disebut MONETIZING THE DEBT.  Dengan demikian monetizing debt adalah sebuah proses dengan dua tahap: 1) pemerintah menerbitkan obligasi untuk membiayai pengeluarannya; 2) bank sentral langsung membelinya dengan uang yang baru dicetak.  Oleh karena itu, peredaran uang pada akhirnya meningkat secara signifikan dan mata uang melemah tajam.

Dua contoh yang menakutkan

“It was horrible.  Horrible!  Like lightning it struck. No one was prepared.  The shelves in the grocery stores were empty.  You could buy nothing with your paper money.”

-from Ralph Foster’s Fiat Paper Currency: The History and Evolution of Our Money, via Shadowstats.com-

Hanya untuk memperlihatkan betapa “gilanya” tingkat inflasi sekali mulai tidak terkendali, coba pandang saja gambar dibawah ini yang menunjukkan inflasi di Weimar Germany.  Anda dapat lihat bahwa menjelang akhir 1923, tingkat inflasi bahkan mencapai 16 juta persen per tahun!

Pada waktu itu mata uang Jerman menjadi begitu tidak bernilai sampai orang benar-benar menggunakannya untuk kertas WC atau kertas dinding.  Lalu Anda bisa pergi ke restoran yang bagus misalnya dimana Anda makan enak dan memesan sebuah botol anggur yang mahal.  Tetapi … hari berikutnya botol anggur yang kosong itu bernilai lebih tinggi dibandingkan malam sebelumnya ketika botolnya masih terisi dengan anggur mahal.

Belum lama kita juga menyaksikan hyperinflation yang luar biasa di Zimbabwe.  Bahkan tingkat inflasi tersebut kemungkinan yang paling ekstrem sepanjang sejarah (lihat gambar disamping ini).

Perbedaan antara Amerika Serikat ataupun Jepang dan negara yang telah mengalami hyperinflation adalah bahwa bank sentral kini belum mencetak banyak uang untuk menutupi sebagian besar dari defisit.  Tetapi jika mereka berencana untuk melakukan hal demikian, orang Amerika dan/atau Jepang harus siap-siap membayar ribuan untuk sebuah roti atau semangkok mie.

Mungkinkah terjadi di AS?

Kongres pada saat ini “menghamburkan” uang seperti tidak ada hari esoknya, dan the Fed (bank sentral AS) suka menyuntik uang kedalam ekonomi setiap suatu permasalahan muncul.  Berdasarkan kenyataan yang kurang bijaksana ini, kira-kira berapa besar probabilitas Amerika Serikat akan mengalami inflasi yang tinggi sekali atau malahan hyperinflation?

Sebagai contohnya, yang mungkin akan membuat banyak orang merasa keheranan, hanya Inggris kini terancam hyperinflation karena 100% dari defisit anggaran ditutupi oleh bank sentralnya.  Maka sejak itu, tingkat inflasi di Inggris secara terus-menerus melebihi prediksi yang ditetapkan oleh Bank of England sendiri, dan pada bulan Februari sudah sebesar 4,4% dalam basis tahunan.

Kita hanya dapat berharap bank sentral di AS kedepan akan bersikap cukup bijaksana pada waktu menghadapi krisis berikutnya.  Namun saya secara pribadi berpendapat bahwa the Fed tetap akan mencetak uang baru lagi ketika ekonomi melambat kembali.

Sebagai buktinya, bank sentral AS sudah membeli hampir 95% obligasi pemerintah selama beberapa bulan terakhir dengan QE2 (lihat tabel diatas ini).  Jadi pertanyaan yang penting adalah: “Apakah the Fed akan kembali menerapkan program pelonggaran moneter tambahan pada saat ekonomi AS terancam resesi?  Jika iya, hyperinflation akan menjadi suatu kemungkinan yang perlu dipertimbangkan oleh investor agar siap dalam menyesuaikan portofolio sebelum terlambat.

Emas adalah satu-satunya safe haven

“The Fed’s quantitative easing enables reckless federal spending like an accommodating bartender enables an alcoholic.”

-Rep. Ron Paul-

Pada tahun ini the Treasury atau Kementerian Keuangan AS perlu menerbitkan hutang baru dan membiayai ulang hutang lama sebesar US$4 trillion lebih.  Seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini per September 2010, Cina dan Jepang memegang paling banyak obligasi pemerintah AS.

Apabila kedua negara tersebut mulai meragukan kemampuan Amerika Serikat untuk melunasi hutangnya dan mengkhawatirkan bank sentral yang akan mencetak uang terus untuk membayar hutang tersebut, maka dolar AS berpeluang anjlok dengan cepat.  Dan … jika dolar AS benar-benar jatuh karena berbagai negara menjual Treasuries (bahkan dengan rugi yang besar) secara bersamaan, emas kemungkinan besar akan “diborong” olehnya sebagai gantinya.

Kesimpulan: makin cepat jumlah hutang bertambah, makin besar tekanan the Fed untuk mencetak uang, yang tentunya akan meningkatkan peredaran uang.  Dan … makin jauh peredaran uang bertambah, makin besar desakan investor di seluruh dunia untuk membeli emas, perak, dan hard assets yang lainnya.

Dengan kata lain, permintaan untuk emas dalam jangka menengah-panjang seharusnya naik terus, menyusul Ben Bernanke dkk. dengan sengaja tidak mau tahu dampak dari tindakan mereka terhadap inflasi.

Selamat berinvestasi dan semoga artikel ini bisa membantu Anda dalam mengambil keputusan investasi yang menguntungkan!

Categories: Pasar Internasional Tags:

Apakah Emas ‘Mencari Nafas’ Terlebih Dahulu?

March 14th, 2011 2 comments

Bulan yang lalu emas ternyata berhasil membukukan kenaikan bulanan tertinggi sejak Agustus 2010 silam.  Kenaikan tersebut didukung oleh eskalasi kerusuhan di Libya dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong investor untuk membeli logam mulia sebagai safe haven atau aset aman.

Kerusuhan di Timur Tengah dan Afrika Utara, yang menumbangkan pemimpin di Tunisia dan Mesir sebelum menyebar ke Libya, Bahrain, Yaman dan negara-negara lain, memicu kenaikan sebesar 6% pada harga emas di bulan Februari.

Kenaikan emas juga dipengaruhi lonjakan harga minyak dunia yang telah menambah kekhawatiran terhadap inflasi dan prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi.  Bahkan harga emas sempat mencatat rekor tertingginya di US$1,444.40/toz pada hari Senin 7 Maret, sebelum melemah pada dua hari perdagangan terakhir minggu kemarin.

Dolar AS di persimpangan jalan

“Gold is money.  Everything else is credit.”

-J.P. Morgan-

Selain faktor yang disebut diatas, emas pun diuntungkan oleh dolar AS yang merosot ke level terendahnya selama 3 ½ bulan terhadap sejumlah mata uang utama.  Kemungkinan koreksi tersebut akan berlanjut sepanjang Kepala the Fed Ben Bernanke melanjutkan program kebijakan moneternya (quantitative easing).

Namun dolar AS rupanya tidak akan menyerah begitu saja tanpa perlawanan sedikitpun, apalagi setelah dollar index kini berada dekat support-nya yang sudah bertahan selama 3 tahun lebih (lihat grafik dibawah ini).

Sekarang pertanyaan adalah apakah dollar index akan bertahan di atas sekitar 76.90, yang merupakan support kuat untuk saat ini, atau tidak.  Maka Anda sebaiknya perhatikan pergerakan dolar AS dengan seksama sebab nasibnya akan ikut menentukan langkah emas kedepan.

Kesimpulan: jika support dollar index dipecahkan dan dolar AS kembali melemah terhadap mata uang utama di dunia, emas kemungkinan besar akan melonjak ke US$1,500an/toz.

Waspadai koreksi dalam jangka pendek

“Gold has worked down from Alexander’s time …  When something holds good for two thousand years I do not believe it can be so because of prejudice or mistaken theory.”

-Bernard Baruch-

Berdasarkan grafik dibawah ini, emas pada umumnya mengalami suatu koreksi pada bulan Maret.  Jadi investor yang ketinggalan rally dari US$1,308/toz ke US$1,400an/toz kemungkinan akan diberikan peluang untuk buy on weakness atau membeli emas pada saat melemah.

Terutama periode dari 2001 hingga 2010 menarik karena jangka waktu tersebut mewakili bull market yang sedang berlangsung.  Menurut hemat saya, arah pergerakan harga emas sampai akhir tahun ini akan berjalan seperti berikutnya:

  • bulan Maret: pelemahan yang telah dimulai pada hari Kamis 10 Maret merupakan koreksi yang sehat, setelah harga emas naik lebih dari 10% hanya dalam 5 minggu.
  • bulan April dan Mei: sesuai dengan pola harga sebelumnya, kemungkinan emas akan berhasil menguat kembali pada dua bulan tersebut.
  • bulan Juni hingga Juli/Agustus: kuncinya pada bulan Juni adalah QE2 atau program pelonggaran moneter yang akan berakhir pada bulan Juni mendatang.  Apabila pembelian obligasi pemerintah benar-benar dihentikan oleh bank sentral AS, saya sungguh khawatir bursa saham maupun pasar emas akan anjlok secara signifikan. Terakhir kali terjadi koreksi yang besar adalah dari bulan Juli sampai Oktober 2008, dimana harga emas turun dari US$989.60/toz ke US$681/toz.  Apakah sejarah akan terulang?  Nanti pada bulan Juni akan saya coba mengangkat topik ini dan mengulasnya secara lebih dalam lewat analisa fundamental maupun teknikal.
  • bulan September hingga Desember: jika bursa saham terperosok dan tingkat suku bunga atas obligasi pemerintah melonjak, seiring dengan keengganan investor asing untuk menggantikan peran the Fed sebagai pembeli siaga selama stimulus moneter dilaksanakan, desakan untuk menerapkan QE3 atau program lanjutan akan meningkat. Maka pasar emas mungkin baru akan bangkit lagi pasca tambahan likuiditas oleh bank sentral dari AS dan juga negara-negara lain, dan memulai tahap terakhir dari bull market.

Kesimpulan: volatilitas diperkirakan akan lebih tinggi selama beberapa bulan yang akan datang.  Saya menyarankan investor untuk memusatkan perhatian kepada kebijakan the Fed dan pergerakan dolar AS terhadap mata uang utama dunia kedepan karena kedua hal itu akan sangat mempengaruhi pasar emas.  Waspadai pula peluang koreksi pada harga emas yang cukup besar di akhir semester pertama bersamaan dengan selesainya QE2.

Technical outlook

Seperti dapat Anda lihat pada grafik diatas ini, emas telah naik sekitar 10% dalam 6 pekan terakhir dari US$1,308/toz sampai US$1,444.40/toz pada hari Senin yang lalu.  Selama kenaikan tersebut, harga emas bergerak antara channel line, yang baru ditembus pada hari Kamis ketika support-nya berada di sekitar US$1,427/toz.

Sebelumnya memang sudah ada indikasi bahwa akan terjadi pelemahan, yang ditunjukkan oleh bearish divergence baik pada RSI maupun MACD.  Jadi pelaku pasar tidak terlalu terkejut pada saat koreksi berlangsung.

Lalu kalau kita meneliti grafik harian emas untuk mencari entry point atau titik masuk yang menarik (lihat grafik dibawah ini), zona beli yang pertama terletak antara 38.2% dan 23.6% fibonacci retracement yang masing-masing berada di US$1,392.30/toz dan US$1412.21/toz.

Kemungkinan pelemahan harga emas pada bulan ini akan cenderung terbatas, dan seharusnya pasar emas menjadi bullish lagi seusai konsolidasi.  Dan … jika faktor musiman tetap berlaku tahun ini, emas berpeluang menguat lebih lanjut pada bulan April dan Mei.

Supaya laporan ini lengkap, saya juga menambahkan satu grafik lagi dibawah ini yang menunjukkan bahwa pola harga sekarang sangat mirip dengan pola yang terbentuk antara bulan Juni dan September 2010.

Apabila kelanjutan dari pola tersebut kedepan sama dengan yang sebelumnya, investor dapat mengharapkan target emas sebesar US$1,550/toz.

Selamat berinvestasi di pasar emas dan semoga artikel ini bisa membantu Anda dalam mengambil keputusan investasi yang menguntungkan!

Categories: Pasar Internasional Tags: