Archive

Archive for April, 2011

Waspadai akhir dari QE2 (Part 1)

April 25th, 2011 5 comments

 

Pendahuluan

 

By eliminating QE II, the Fed would be ripping a

Band-Aid off a partially healed scab.  Ouch!”

-Bill Gross, who runs the world’s biggest bond

fund at investment manager Pimco-

 

Pada 3 November 2010, the Federal Open Market Committee atau FOMC memutuskan untuk membeli obligasi pemerintah senilai US$600 milyar antara bulan November dan akhir bulan Juni.  Pelonggaran moneter ini dikenal sebagai QE2 atau quantitative easing jilid kedua, dan bertujuan membiayai defisit anggaran AS.

 

 

Sementara jilid pertama dari quantitative easing sebesar      

US$1.7 trillion, yang diumumkan tanggal 18 Maret 2009,

lebih berpusat kepada pembelian mortgage-backed securities

untuk menyelamatkan sektor properti.

 

 

 

Dalam pidatonya di Jackson Hole pada 27 Agustus tahun lalu, Federal Reserve Chairman Ben Bernanke mengatakan stimulus tambahan dibutuhkan karena tingkat INFLASI masih terlalu RENDAH dan tingkat PENGANGGURAN terlalu TINGGI.  Namun karena unemployment telah turun dari 10,2% ke 8,8% dan core inflation atau inflasi inti sudah naik dua kali lipat dari 0,6% ke 1,2% YoY (lihat grafik dibawah ini), kemungkinan besar QE2 akan dihentikan sesuai dengan jadwal.

 

Secara spesifik, grafik disamping ini

menunjukkan dengan jelas kenaikan

tingkat inflasi sejak awal QE2.

Terutama inflasi yang memperhitungkan

all items (termasuk makanan dan

energi) kini telah melebihi 5% dalam

basis tahunan!

 

 

Apa pengaruh terhadap pasar?

Meskipun QE2 baru akan berakhir pada bulan Juni mendatang, investor akan mulai menyesuaikan portofolionya dalam jangka pendek.  Jadi pertanyaan sekarang adalah: “Apa yang akan terjadi ketika the Fed tidak membeli surat hutang negara AS lagi?”

Perubahan dalam kebijakan bank sentral AS adalah peristiwa penting yang bisa membuat investor panik.  Mengapa demikian?

Secara sederhana, the Fed selama ini menyuntik sekitar US$4 milyar setiap hari kedalam pasar AS sejak November 2010.  Oleh karena itu, baik pasar modal maupun pasar komoditas naik ke level yang lebih tinggi daripada level yang dapat dicapai tanpa bantuan tersebut.

US$4 milyar atau hampir 35 trilyun rupiah adalah jumlah uang yang sungguh besar.  Maka segera sesudah program pelonggaran moneter dari bank sentral AS selesai, pasar harus bertahan dengan likuiditas yang berkurang drastis.

Kesimpulan: diantara bulan Mei dan September bursa saham, komoditas, mata uang utama terhadap dolar AS, dan emas terancam anjlok antara 10% dan 20%.

 

Apakah bursa saham akan anjlok?


“Higher stock prices will boost consumer wealth and

help increase confidence, which can also spur spending.

Increased spending will lead to higher incomes.”

-Federal Reserve Chairman Ben S. Bernanke,

Washington Post, November 4, 2010-

 

 

Apabila Anda memperhatikan grafik diatas ini dengan seksama, Anda pasti menemukan bahwa ada suatu hubungan yang erat antara pergerakan bursa saham AS – dalam hal ini S&P 500 – dan QE1 maupun QE2.  Bahkan korelasi antara perubahan dalam neraca the Fed dan arah pergerakan S&P 500 dalam dua tahun terakhir adalah 86%!

Dengan kata lain, jika program quantitative easing atau pencetakan uang benar-benar berakhir dalam waktu dekat, Ben Bernanke selaku Kepala the Fed harus menarik likuiditas yang sebelumnya merupakan bahan bakar untuk penguatan bursa saham.  Pada gilirannya neraca bank sentral AS akan mengecil … dan harga saham pun kemungkinan akan turun.

Sejak akhir Agustus lalu, ketika Bernanke untuk pertama kali memberi isyarat mengenai pelonggaran moneter lanjutan, S&P 500 telah naik lebih dari 25%.  Maka investor pada saat ini bertanya apakah pemulihan ekonomi akan berlanjut tanpa bantuan sama sekali dari the Fed.  Jika tidak, kita butuh mempersiapkan diri untuk pergerakan pasar yang kurang menentu.

 

Apakah sejarah akan terulang?

Tahun yang lalu, dari 23 April hingga 27 Agustus, bank sentral AS membiarkan neracanya menyusut dari US$1.207 trillion ke US$1.057 trillion.  Inilah sebuah kontraksi sebesar 12% pada waktu QE1 berakhir.  Selama periode tersebut, S&P 500 melemah dari 1,217 ke 1,064 atau hampir 13% (lihat grafik dibawah ini).

Berdasarkan pengalaman sebelumnya dengan QE1, investor yang bijaksana kemungkinan sedang menetapkan siasatnya untuk melindungi dirinya terhadap koreksi yang dapat terjadi di pasar.  Siapa tahu akhir dari QE2 kembali menyebabkan penurunan bursa saham antara 10% dan 15%?

 

Jepang juga mengalami nasib yang sama

 

Hanya untuk membuktikan bahwa bursa saham tidak menyukai pengurangan likuiditas, saya menampilkan grafik dari indeks saham Jepang atau Nikkei diatas ini.  Sama dengan saham AS, saham Jepang pun terguling pada tahun 2004 ketika intervensi di pasar valuta asing berakhir dan sekali lagi di tahun 2006 pada waktu QE dihentikan.

Artinya pada saat bank sentral meningkatkan peredaran uang, harga saham naik.  Tetapi … apabila peredaran uang diturunkan, bursa saham langsung melorot.

 

Sentimen pasar terlalu bagus

Kebanyakan investor merasa sangat complacent atau berpuas hati pada saat ini.  Hal tersebut ditunjukkan oleh dua penelitian yang terpisah:

1)      Survai dari ISI membuktikan 93% dari investor institusi berpendapat bahwa kita sedang berada dalam sebuah bull market;

2)      Menurut Investors Intelligence, kini hanya 15,7% dari investor bearish, yang merupakan level terendahnya dalam 20 tahun terakhir.

 

Sementara Investors Intelligence juga melaporkan bahwa 57,3% dari seluruh investor sekarang merasa bullish.  Oleh karena itu, spread antara bulls dan bears kini lebih dari 40 atau dekat dengan spread yang terlihat pada puncak pasar di tahun 2007 (lihat grafik dibawah ini).

 

Survai ini seringkali digunakan sebagai indikator yang contrarian atau berlawanan dengan kenyataan.  Pada akhirnya, kalau sebagian besar investor sudah bullish, siapa yang tersisa untuk menjadi pembeli dan mengangkat pasar lebih tinggi?

 

Masa depan yang kelam

 

 

 

 

 


 

 

 


 

 

Untuk melengkapi faktor yang dapat menahan penguatan bursa saham dalam jangka pendek, saya ingin menampilkan satu grafik dari Gallup.  Grafik itu memperlihatkan bahwa optimisme orang Amerika Serikat mengenai arah dari perekonomian AS di masa yang akan datang turun lebih lanjut di bulan Maret.

Dengan demikian, level yang sekarang pada dasarnya menyamai titik-titik terendah tahun yang lalu, yaitu 32% pada Juli, 33% di Agustus, dan 32% pada September.  Artinya jika konsumen tidak merasa begitu yakin tentang masa depan, bagaimana mereka bisa diharapkan untuk menaikkan pembelanjaannya?  Dan … apakah pemulihan ekonomi akan berjalan mulus ditengah pesimisme masyarakat AS?

 

Technical outlook

Terlepas dari semua faktor yang disebut dalam pembahasan diatas, bursa saham AS memang sangat memerlukan suatu koreksi yang sehat karena kondisi pasar adalah overbought secara teknikal.  Coba saja meneliti RSI atau Relative Strength Index yang telah mencapai lebih dari 70, dan juga membentuk sebuah bearish divergence (lihat grafik dibawah ini).  Divergence itu merupakan peringatan bahwa kekuatan indeks saham AS secara internal mulai melemah, jadi investor sebaiknya memperketat stop loss-nya apabila mempunyai posisi beli.

Grafik mingguan ini pun menunjukkan Dow Jones pada saat ini sedang membentuk wave 5, yang kemungkinan akan segera berakhir dalam waktu dekat.  Menurut Elliot Wave Theory, seharusnya terjadi koreksi (A-B-C) yang bisa berlangsung selama 2 sampai 3 bulan.  Baru setelah koreksi tersebut selesai, bursa saham AS dapat melanjutkan penguatannya dan menuju ke level tertingginya sepanjang sejarah di sekitar 14200.

 

Kesimpulan

Memang tidak ada seorang pun tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tetapi kita selalu perlu mengingat pepatah lama: “Sell in May and go away”.  Mari kita melihat bersama-sama apakah ungkapan tersebut akan kembali terwujud seperti tahun yang lalu, dimana bursa saham AS maupun bursa regional berjatuhan satu demi satu pada bulan Mei.

Menurut hemat saya, Dow Jones akan melemah menjelang akhir dari QE2 di bulan Juni sampai pengumuman QE berikutnya atau QE3, yang akan saya bahas lebih detil dalam artikel selanjutnya.  Maka manfaatkanlah koreksi ini untuk membeli indeks saham atau saham secara individual, dan siapkan daftar belanja Anda.  Manajer investasi dan investor institusi berkeyakinan the Fed akan tetap berusaha menopang bursa saham kedepan, jadi setiap penurunan pasar merupakan sebuah peluang emas untuk membeli di level yang lebih rendah!

Hanya sebagai informasi, saya juga ingin menambahkan bahwa pertemuan FOMC, yang diselenggarakan pada tanggal 27 April, akan diamati dengan seksama.  Mengapa demikian?  Karena Federal Reserve Chairman Ben Bernanke akan memberikan konferensi pers untuk pertama kalinya dalam sejarah the Fed, setelah kebijakan moneter diputuskan.

Tujuannya adalah untuk menjadi lebih transparan, tetapi pada saat yang sama tentunya akan meningkatkan kekhawatiran antara pelaku pasar seputar pembicaraan tentang QE2.  Banyak pertanyaan perlu dijawab, jadi ketidakpastian maupun volatilitas akan cenderung naik beberapa pekan kedepan.

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu Anda dalam mengambil keputusan investasi yang menguntungkan!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Categories: Pasar Internasional Tags: