Archive

Archive for May, 2011

PERSONAL NOTES

May 31st, 2011 No comments

►  Kerusuhan di Timur Tengah mengancam persediaan minyak dan pemulihan ekonomi dunia.

Gempa bumi dan tsunami di Jepang akan memperlambat laju ekonominya dalam kuartal kedua dan ketiga tahun ini (Jepang masih merupakan perekonomian terbesar ketiga di dunia).

►  Apakah Cina akan mengalami sebuah hard landing menyusul pengetatan moneter tetap berlanjut (Cina kembali memperketat kebijakan persyaratan cadangan bank)?

►  Krisis hutang publik di Eropa sama sekali belum usai.

►  Pasar properti di AS kembali anjlok dan harga rumah turun lagi.

►  SUPPORT untuk IHSG berada di 3814 dan RESISTANCE di 3872

►  Beberapa catatan menarik mengenai perdagangan hari ini:

1)      Meskipun Nikkei, Kospi dan Hang Seng naik hampir 2%, IHSG hanya mampu menguat sebesar 0,28%.

2)      Mengapa demikian?  Laporan riset dari Morgan Stanley (tgl. 27 Mei) men-downgrade Indonesia ke UW (underweight).  Salah satu alasan yang disebut adalah relative forward P/E premium terhadap MSCI EM yang kini berada pada all-time high, yaitu di 1,35x.

3)      Selain itu, baik RSI (Relative Strength Index) maupun MACD menunjukkan sebuah bearish divergence, dan dengan demikian memberikan tanda bahwa suatu koreksi bisa terjadi dalam waktu dekat (lihat grafik dibawah ini).

4)      Breadth dari market tidak terlalu bagus dengan 108 saham yang turun dan 135 saham yang naik.  Disamping itu, investor asing juga menahan diri dan hanya punya net buying sebesar 247 milyar rupiah dalam 2 hari perdagangan terakhir.

 

►        Target koreksi dalam jangka menengah adalah antara 3524 dan 3657, yang masing-masing merupakan 61,8% dan 38,2% fibonacci retracement (lihat grafik dibawah ini).

 

►  Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan masih akan terjadi deflasi di Mei.  Namun deflasi kemungkinan lebih kecil dibandingkan April lalu akibat kenaikan harga Pertamax dan perhiasan.

►  Perhatikan data non-farm payrolls AS yang akan dirilis pada hari Jumat mendatang, dan akan menentukan arah pergerakan bursa saham di Amerika Serikat maupun bursa regional kedepan.

Categories: Rekomendasi Saham Tags:

US dollar up; gold down

May 30th, 2011 1 comment

Berhubungan saya mendapatkan banyak pertanyaan mengenai prediksi yang saya buat dalam artikel dengan judul “Apakah kilapan emas mulai memudar?”, saya akan coba menjelaskan lebih lanjut mengapa saya tetap berpendapat bahwa harga emas akan cenderung turun dalam jangka pendek maupun menengah.

Adapun tiga alasan utama untuk perkiraan tersebut, yaitu:

1)      Perekonomian dunia mengalami pelambatan pada saat ini.  Sebagai contohnya, PDB di Amerika Serikat dalam kuartal pertama turun ke 1,8% dari 3,1% pada kuartal keempat 2010.  Selain itu ekspektasi untuk PDB Q2 dan Q3 di Cina, Eropa dan Jepang mulai diturunkan.

Maka jangan heran apabila investor kedepan secara bertahap mulai memindahkan dananya dari bursa saham, yang sudah memperlihatkan tanda pelemahan selama beberapa pekan terakhir, kepada surat hutang publik.  Dengan kata lain, sangat mungkin peranan safe haven beralih dari emas ke obligasi pemerintah jika pelaku pasar menganggap tingkat inflasi akan turun seiring dengan anjloknya pertumbuhan ekonomi di negara maju.

2)      Rasio cadangan modal perbankan di Cina telah dinaikkan 11 kali (termasuk 5 kali sepanjang 2011) sejak awal tahun 2010.  Tujuan dari kenaikan ini adalah mendinginkan spekulasi di pasar properti dan menahan laju inflasi yang sudah melebihi 5% dalam basis tahunan.

Namun jika Cina injak-injak remnya terlalu keras dan menurunkan likuiditas di pasar keuangan secara berlebihan, ada kekhawatiran roda perekonomian akan mandek.  Oleh karena itu, kita perlu mewaspadai penurunan harga komoditas (termasuk emas) kedepan menyusul Cina merupakan konsumen terbesar untuk kebanyakan komoditas.

3)      Antisipasi QE2 atau program pelonggaran moneter jilid kedua yang akan berakhir pada bulan Juni mendatang kemungkinan besar akan menyebabkan US dollar menguat terhadap mata uang utama di dunia.  Jadi perhentian pencetakan uang oleh the Fed seharusnya meyakinkan investor di pasar valuta asing bahwa dolar AS adalah alternatif yang lebih baik dibandingkan euro atau currency yang lain selama beberapa bulan mendatang.  Dan … penguatan US dollar pada gilirannya mempunyai dampak bagi harga emas kedepan.

 

Apakah US dollar dapat memberikan kejutan?

Salah satu faktor yang sangat menentukan arah pergerakan selanjutnya di pasar emas adalah dolar AS.  Mengapa demikian?  Karena seperti kita ketahui, ada korelasi negatif antara emas dan US dollar.

Maka kita sebaiknya selalu memperhatikan apa yang terjadi dengan US dollar index (lihat grafik dibawah ini) agar dapat memperkirakan apakah harga emas cenderung akan turun atau naik.

Pekan yang lalu, indeks dolar AS mengalami penurunan yang cukup dalam setelah menguat sekitar 5% sejak awal bulan Mei.  Di samping itu, RSI memang membentuk sebuah bearish divergence pada waktu US dollar index melampaui 76, dan dengan demikian memperingatkan pelaku pasar bahwa suatu koreksi akan terjadi dalam jangka pendek.

Retracement yang berlangsung pada saat ini sangat wajar dan kemungkinan akan berakhir ketika Relative Strength Index mendekati 30 atau berada dalam daerah yang oversold.  Lalu pada grafik harian indeks dolar AS kita juga bisa melihat sebuah pola yang dinamakan inverted head and shoulders dengan neckline atau garis leher di sekitar 76.

Berarti jika US dollar index berhasil rebound pada bulan Juni dan memecahkan neckline-nya, bukan tidak mungkin indeks dolar AS akan kembali melanjutkan penguatannya dan menuju ke target di 80.290.  Dengan kata lain, kuncinya selama beberapa pekan kedepan adalah penembusan dari garis leher di US dollar index.

 

Technical outlook untuk pasar emas


Pertama-tama mari kita melihat grafik harian diatas ini.  Setelah harga emas anjlok dari USD1,575.79/toz ke USD1,463.35/toz hanya dalam 4 hari perdagangan (wave 1), kini emas tengah berkonsolidasi dan membentuk subwave a, b dan c dari wave 2.  Apabila wave c sama dengan wave a, harga emas mungkin saja mencapai sekitar USD1,453/toz terlebih dahulu sebelum melanjutkan penurunannya.

Yang paling perlu diperhatikan dalam beberapa hari kedepan adalah pembentukan sebuah candlestick yang menunjukkan pembalikan dari uptrend seperti evening star, bearish engulfing atau dark cloud.  Juga trend line, yang selama ini belum berhasil dipecahkan kebawah, harus dipantau terus.

Kalau support – yang hari ini akan berada di sekitar USD1,505/toz – pada akhirnya bisa ditembus secara signifikan, tren akan menjadi bearish dalam jangka menengah.  Target koreksi untuk wave 3 berada antara USD1,410.73/toz dan USD1,425.66/toz, yang diperoleh dari:

●  proyeksi sebesar 100% dari 1,575.79 ke 1,463.35, yang mulai pada 1,538.10 ke 1,425.66;

●  61,8% retracement dari 1,308.70 sampai 1,575.79, yang terletak di 1,410.73;

●  38,2% retracement dari 1,155.6 sampai 1,575.79, yang terletak di 1,415.28.

Grafik mingguan diatas ini menunjukkan bahwa harga emas sekarang masih jauh dari trend line yang pekan lalu berada di USD1,356.61/toz.  Selanjutnya RSI yang kembali mendekati daerah overbought maupun MACD histogram yang cenderung turun dan kemungkinan akan membentuk sebuah dead cross membuktikan bahwa upside pada saat ini relatif terbatas.

 

Kesimpulan

Dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian dalam Q2 dan Q3 – akhir dari QE2, inflasi yang turun dan US dollar yang menguat – maupun berbagai indikator teknikal, sungguh sulit untuk mempercayai emas akan mempertahankan momentum-nya yang kuat.  Maka saya tidak akan terkejut apabila emas cenderung terkoreksi dalam 3 bulan kedepan, meskipun masih banyak analis lainnya bullish terhadapnya.

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu Anda dalam mengambil keputusan investasi yang menguntungkan!

Categories: Pasar Internasional Tags:

Nikkei sangat menjanjikan dalam jangka panjang

May 17th, 2011 3 comments

Gempa dengan kekuatan 9 di skala Richter pada tanggal 11 Maret lalu adalah yang paling buruk dalam sejarah Jepang maupun yang terparah kelima yang pernah disaksikan di dunia.

Getaran tersebut, yang diikuti oleh tsunami besar dan beberapa ledakan pada komplek PLTN Fukushima Daiichi, memicu panic selling yang menyebabkan Nikkei 225 Index merosot hingga 17% hanya dalam dua hari.  Penurunan 2 hari berturut-turut itu merupakan yang terbesar sejak 1987 dan sekaligus persentase penurunan terbesar sejak krisis finansial pada tahun 2008.

Pada hari Kamis, sehari sebelum gempa dan tsunami di Sendai, Nikkei ditutup pada level 10,434.38.  Berarti indeks saham Jepang sudah turun 73% dari rekor tertingginya di 38,957.44, yang tercapai tanggal 29 Desember 1989.

 

Masa depan yang cerah

Sekarang pertanyaan yang ada di benak investor adalah, “Apakah saham Jepang menawarkan peluang investasi yang menarik atau sebaiknya dihindari sama sekali?”  Menurut penghematan saya Nikkei memang dapat melemah lebih lanjut dalam waktu dekat, tetapi setahun kemudian mungkin saja Anda menyesalinya apabila tidak menangkap kesempatan yang baik ini.

Mengapa demikian?  Pandangan optimis saya mengenai Nikkei didasari atas 3 faktor utama:

1) PDB dalam kuartal kedua kemungkinan besar akan menunjukkan kontraksi sebesar 1,4% YoY akibat gempa dahsyat dan tsunami di bulan Maret, namun ekonomi Jepang diperkirakan akan mulai mengalami pertumbuhan positif sebesar 2,7% di Q3 dan 3,9% di Q4.

Sebagai pembandingan, coba saja melihat kedua grafik dibawah ini yang membuktikan bahwa pelambatan PDB maupun industrial production setelah gempa di Kobe pada tahun 1995 hanya berlangsung singkat.

2) Jepang kehabisan uang karena pemerintah pada saat ini sudah berhutang 2.000% dari pendapatan pajak tahunan dan tingkat simpanan makin mendekati 0%.  Oleh karena itu, bank sentral Jepang kemungkinan terpaksa menerapkan kebijakan moneter yang sangat longgar melalui pencetakan yen dalam jumlah yang tidak terbatas.

Pengaruhnya tidak akan langsung terasa, tetapi akan luar biasa dimana yen bisa anjlok secara signifikan terhadap mata uang utama lainnya dan harga barang maupun jasa naik dengan cepat.  Jika itu terjadi, orang cenderung akan berinvestasi dalam saham (daripada obligasi) untuk melindungi dirinya lawan inflasi yang tinggi.

Selain itu, yen yang lemah seharusnya juga bertindak sebagai suatu katalis untuk Nikkei sebab dapat membantu sektor ekspor dan mendongkrak pendapatan perusahaan yang tercatat di bursa.

Maka siapa tahu saham Jepang pada akhirnya menjadi salah satu aset dengan kinerja yang terbaik di dunia?

3) Sebelum gempa dan tsunami menghantam Jepang, bursa sahamnya sudah merupakan salah satu yang termurah di dunia.  Kini berbagai indikator menunjukkan Nikkei benar-benar menggiurkan:

  • The forward 12-month price-to-earnings ratio mencatat level tertingginya pada  tahun 1989 di 70x dan sekarang hanya 13,6x untuk Topix index atau pasar Jepang secara keseluruhan.
  • Perusahaan Jepang dan bank lokal memiliki terlalu banyak uang tunai.  Simpanan di bank Jepang misalnya telah melampaui pinjaman yang disalurkan dengan US$1.8 trillion.
  • Seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini saham Jepang diperdagangkan pada 1,06x nilai bukunya, atau kira-kira setengah dari indeks saham S&P 500 di AS dan indeks Hang Seng dari Hong Kong.  Sementara itu, lebih dari 60 persen saham di papan utama bursa Jepang diperdagangkan di bawah nilai bukunya.  Bahkan harga small-cap Japanese stocks hanya 0,7x book value-nya dan 0,34x penjualannya.  Dengan kata lain, ini sungguh terlalu murah! Jadi jangan heran apabila Marc Faber mengatakan bahwa penurunan indeks saham Jepang telah menciptakan sebuah “lifetime buying opportunity”.  Artinya investor kemungkinan akan jarang menyaksikan valuasi yang begitu menarik dalam kehidupan mereka.
  • Saham di negara maju diperdagangkan pada sekitar 10 kali cash yang dihasilkan oleh perusahaan yang tercatat di bursa, sedangkan perusahaan Jepang hanya dinilai sebesar 6 kalinya.
  • 25 persen dari perusahaan Jepang diperdagangkan di bawah 10x pendapatannya per saham, dibandingkan hanya 4 persen untuk indeks S&P500.
  • Price-to-sales ratio saham Jepang 3 kali lebih rendah daripada sebuah keranjang yang terdiri dari pasar BRIC (Brazil, Rusia, India dan Cina).

Waspadai koreksi dalam jangka pendek

Meskipun Nikkei dalam jangka panjang masih sangat menjanjikan, rebound yang terjadi pasca gempa 11 Maret nampaknya telah kehilangan momentumnya dan dalam jangka menengah pasar berpeluang kembali tergelincir.  Terutama kurangnya pasokan sumber daya listrik ke kawasan industri merupakan masalah utama pada saat ini.

Bahkan Perdana Menteri Naoto Kan menginstruksikan penutupan operasional reaktor nuklir di wilayah tengah Jepang yang akan berimbas pada turunnya aktifitas manufaktur dan juga sentimen pelaku bisnis serta meningkatkan ketidakpastian dari mana Jepang akan menutupi kekurangan pasokan listrik.

Kondisi terakhir memperlihatkan bahwa perusahaan dan masyarakat Jepang akan terpaksa menghemat listrik, menurunkan produksi dan juga menekan konsumsi mereka.  Dan … ini tentunya sebuah indikasi yang berdampak negatif pada perekonomian Jepang secara keseluruhan.

Pendek kata pasar kemungkinan akan mengkhawatirkan kinerja Nikkei pada pertengahan kuartal kedua 2011, saat musim laporan pendapatan perusahaan lokal, khususnya dikaitkan dengan dampak kerusakan akibat gempa.  Oleh karenanya tidaklah heran banyak kalangan memproyeksikan bakal terjadinya penurunan besar di periode tersebut.

Jika perusahaan-perusahaan Jepang merilis prakiraan pendapatan yang pesimis untuk tahun ini, maka bukan tidak mungkin Nikkei akan sulit menembus dengan leluasa level 9,000, sampai ada indikasi perolehan pendapatan korporasi Jepang yang lebih baik.

Technical outlook

“Frequently, something out of the blue like this, an extraordinary event, really creates a buying opportunity.  I have seen that happen in the United States; I have seen that happen around the world.  I don’t think Japan will be an exception.”

-Warren Buffett-

Cara yang terbaik untuk meneliti kondisi terkini adalah melihat apa yang terjadi di bursa saham Jepang setelah gempa di Kobe pada tanggal 17 Januari 1995.  Ketika itu Nikkei anjlok 24,6% dan mencapai titik terendahnya di akhir bulan Juni, atau sekitar 6 bulan sesudah gempanya yang menewaskan 6.434 orang (lihat grafik dibawah ini).

Awal bulan ini Nikkei memang telah memperoleh kembali sekitar dua pertiga dari kerugian yang diderita setelah gempa 11 Maret, tsunami dan krisis nuklir.  Tetapi, perlu saya ingat sekali lagi mengenai downside risk dalam beberapa pekan mendatang karena hasil laba pertama pasca gempa bisa memukul pasar, dan berlimpahnya likuiditas akibat program quantitative easing AS berangsur hilang di bulan Juni.

Pertama-tama coba kita melihat grafik harian Nikkei dibawah ini yang menunjukkan bahwa indeks saham Jepang pada saat ini makin mendekati support di sekitar 9,455.  Apabila level tersebut berhasil ditembus Nikkei kemungkinan akan menuju ke 8,845, yang merupakan target simetris dari gerakan sebelumnya.

Disamping itu, MACD (Moving Average Convergence-Divergence) dalam waktu dekat (pekan ini?) akan membentuk sebuah dead cross, suatu sinyal bahwa tren dalam jangka pendek akan kembali menjadi bearish.

Gambaran yang sama diperoleh dari weekly chart dimana Relative Strength Index atau RSI tertahan di bawah moving average-nya, dan Nikkei pun tidak berhasil menembus EMA-20 (lihat grafik dibawah ini).

Oleh karena itu, saya berpendapat indeks saham Jepang dalam beberapa pekan kedepan akan cenderung tertekan – bersamaan dengan indeks Dow Jones di AS – dengan target koreksi di sekitar 8,800, yang merupakan support kuat selama dua tahun terakhir.

Namun jika bursa saham di negara maju merosot tajam dalam kuartal kedua dan ketiga tahun ini, bisa saja bahwa Nikkei anjlok lebih dalam ke sekitar 8,225 atau bahkan 6,995, yang merupakan level terendahnya di tahun 2008.

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu Anda dalam mengambil keputusan investasi yang menguntungkan!

Categories: Pasar Internasional Tags:

Apakah kilapan emas mulai memudar?

May 9th, 2011 4 comments

Gold was not selected arbitrarily by governments to be the monetary standard.  Gold had developed for many centuries on the free market as the best money; as the commodity providing the most stable and desirable monetary medium.”

-Murray N. Rothbard-

Emas naik dalam rangkaian empat harinya berturut-turut Senin lalu dan mencapai rekor tertingginya pada US$1,575.79/toz, seiring pelemahan dolar AS dan maraknya demonstrasi di negara pengekspor minyak yang meningkatkan daya tarik emas sebagai mekanisme lindung nilai terhadap inflasi.  Kombinasi antara kebijakan moneter yang sangat longgar oleh sejumlah bank sentral, kekhawatiran kondisi hutang zona euro dan kerusuhan politik di Afrika Utara dan Timur Tengah telah menjadi faktor pendorong utama bagi laju kenaikan emas selama 3 bulan terakhir.

US dollar ternyata berhasil bangkit kembali

“Is it any wonder that gold is the traditional gift for the rare accomplishment of a couple’s 50th wedding anniversary? On the other hand, the couple that reaches the easily attainable one year anniversary gets to celebrate with the gift of, you guessed it, paper.”

-Darren C. Pollock, prudentbear.com-

Dari awal tahun ini, shorting atau menjual dolar AS adalah salah satu transaksi yang paling menguntungkan.  The U.S. dollar index misalnya, yang merupakan sebuah perhitungan tertimbang dari dolar AS lawan suatu keranjang yang terdiri atas beberapa mata uang, turun lebih dari 10% sejak bulan Januari 2011.

Untuk traders transaksi tersebut mudah sekali menyusul US dollar memang berada di bawah trend line terus, yang ditunjukkan oleh garis turun yang terputus-putus (lihat grafik diatas ini).  Namun apa yang akan terjadi jika dolar AS naik lagi?  Yang jelas banyak short positions atau posisi jual perlu dilikuidasi, yang akan menyebabkan a short squeeze, sebuah rally dari US dollar, dan penjualan komoditas secara besar-besaran.

Seperti saya katakan dalam artikel pekan lalu, “… setiap saat bisa terjadi sebuah pembalikan tren secara tidak terduga, yang memecahkan downtrend line yang terbentuk di grafik harian.  Maka hati-hati apabila Anda masih berminat untuk menjual US dollar …”  Dan itulah yang kita saksikan pada dua hari perdagangan terakhir.

Grafik harian yang saya tampilkan diatas dibuat pada hari Jumat sore, sebelum dolar AS melejit seperti roket hari Sabtu dini hari.  Tetapi saya dapat memastikan bahwa downtrend line sudah pecah karena the U.S. dollar index ditutup pada 74.914, dan dengan demikian melampaui resistance yang berada di 74.776.

Selain itu, MACD (Moving Average Convergence-Divergence) pun telah memberikan sinyal untuk beli maupun menunjukkan sebuah bullish divergence, baik MACD lines dan histogram-nya.  Maka kemungkinan besar dolar AS akan melanjutkan rebound dalam beberapa pekan (atau bahkan bulan) kedepan setelah kondisinya sudah sangat jenuh jual.

Apa implikasi terhadap emas?

“Gold is the money of kings; silver is the money of gentlemen; barter is the money of peasants; but debt is the money of slaves.”

-Norm Franz-

Rebound US dollar tersebut berpotensi menekan harga emas secara signifikan karena ada korelasi negatif atau terbalik antara komoditas – termasuk emas – dan dolar AS.  Disamping itu, koreksi di bursa komoditas juga dipicu oleh rasa khawatir para investor terhadap laju pemulihan ekonomi global dan pengetatan moneter di Cina, yang merupakan konsumen terbesar bahan baku dunia.

Sekali lagi saya ingin mengutip dari artikel yang saya menulis pekan yang lalu untuk menggambarkan kondisi teknikal terkini bagi emas: “… bisa saja bahwa spekulasi yang berlebihan mengakibatkan harga emas terus melaju dan membentuk sebuah spike atau blowoff top.”  Pada akhirnya pola tersebut langsung tercipta hari Senin tanggal 2 Mei, seperti dapat Anda lihat pada grafik diatas ini.

Setelah emas mencetak sebuah dark cloud atau awan gelap, harganya turun dengan cepat dan menuju ke trend line yang telah bertahan sejak awal Februari.  Pekan ini akan menjadi sangat menarik sebab kita bisa menyaksikan bersama-sama apakah uptrend ini masih akan berlanjut, atau trend line malahan ditembus dan harga emas terkoreksi secara signifikan.

Time to sell!

Dengan US dollar yang baru saja mampu memecahkan downtrend line-nya dan emas yang membentuk sebuah bearish engulfing pada weekly chart (lihat grafik dibawah ini), sekarang saatnya untuk menjual emas.  Lalu penyelesaian 5 waves atau gelombang besar yang terhitung dari level terendahnya di tahun 2008 seharusnya diikuti oleh suatu periode konsolidasi yang lumayan panjang.

Selebihnya MACD histogram pun membuktikan bahwa momentum sudah melemah, yang ditunjukkan oleh panah kecil berwarna ungu, dan MACD lines akan segera berpotongan ke bawah.  Oleh karena itu, koreksi pada dasarnya baru saja dimulai …

Berapa besar penurunan harga emas ke depan?

“Just about anything you buy, rather than paper, is better. You’re bound to come out ahead, in the long pull.  If you don’t like gold, use silver, or diamonds or copper, but something.  Any damn fool can run a printing press.”

-Nelson Bunker Hunt-

Sebelum gerakan maju dengan 5 gelombang besar ini, terjadi suatu koreksi yang besar dari bulan Juni hingga Oktober 2008, dimana harga emas turun dari US$990/toz ke US$680/toz.  Berarti harga emas anjlok sebesar US$310/toz atau sekitar 31% hanya dalam 4 bulan.  Namun kita tidak bisa menggunakan koreksi pada tahun 2008 sebagai sebuah patokan, sebab ketika itu ekonomi global mengalami resesi yang dalam.

Dengan pertimbangan bahwa pertumbuhan ekonomi tetap akan positif di negara maju (kecuali Jepang pada kuartal kedua ini), saya menetapkan target koreksi antara US$1,233/toz dan US$1,364/toz, yang masing-masing merupakan fibonacci retracement sebesar 38,2% dan 23,6%.  Jadi dari harga penutupan pada hari Jumat lalu di US$1,491.80/toz, harga emas masih berpeluang turun lebih dari US$200/toz.

Kesimpulan

“It’s not the gold price we should be worrying about, it’s how many ounces we own because the money is being destroyed.  Who knows what the nominal price will be, all I know is it’s going to be a lot higher.”

-John Embry, Chief Investment Strategist at Sprott Asset Management-

Kemungkinan besar pasar emas akan dilanda tekanan yang sungguh kuat, dan level tertingginya di sepanjang sejarah pada US$1,575.79/toz rupanya akan bertahan selama beberapa bulan kedepan.  Suatu koreksi yang serius dapat menurunkan harga emas dengan 10%, 20%, atau siapa tahu … sebesar 30%.

Meskipun demikian tren utama emas tetap utuh, tetapi pasar yang terkuat sekalipun kadang-kadang perlu berhenti untuk beristirahat sejenak.  Dengan kata lain, apabila Anda ketinggalan rally sebelumnya, jangan lupa memanfaatkan koreksi yang dalam untuk nanti membeli emas di harga yang lebih murah karena ini benar-benar sebuah hadiah.

Categories: Pasar Internasional Tags:

Waspadai akhir dari QE2 (Part 2)

May 2nd, 2011 4 comments

Setelah membahas akhir program pelonggaran moneter dari bank sentral AS dan pengaruhnya terhadap bursa saham dalam bagian pertama, saya ingin menguraikan dampaknya bagi dolar AS maupun emas pada bagian kedua ini.  Selain itu, kita juga akan coba menelusuri apakah the Fed cenderung akan melanjutkannya dengan QE3 atau malahan memperketat kebijakan moneternya kedepan.

 

Apa itu U.S. Dollar Index?

Apabila kita ingin mengetahui pergerakan dolar AS terhadap mata uang utama lainnya, kita menggunakan indeks dolar AS atau U.S. dollar index untuk menyimpulkan apakah dolar AS pada umumnya menguat atau melemah.

Seperti dapat Anda lihat pada tabel diatas (courtesy of Wikipedia), the U.S. dollar index adalah sebuah perhitungan tertimbang dari dolar AS lawan suatu keranjang yang terdiri atas beberapa mata uang.

 

Kebijakan the Fed tidak berubah

Ben Bernanke, dalam konferensi pers usai pertemuan moneter FOMC the Fed AS, mengatakan tetap akan menyelesaikan program pembelian obligasi pemerintah senilai US$600 milyar hingga Juni dan kembali menegaskan akan mempertahankan tingkat suku bunga diantara 0% dan 0,25% for an extended period atau jangka waktu yang panjang.

Dengan kata lain bank sentral AS mengisyaratkan akan meneruskan kebijakan moneternya yang ultra longgar maupun mengakhiri program quantitative easing kedua atau QE2 sesuai jadwal.  Oleh karena itu, dolar AS jatuh ke level terendah terbarunya selama 3 tahun terhadap sejumlah mata uang dimana indeks dolar AS merosot sampai 72.834, tidak jauh dari rekor terendahnya di 70.698 yang dicapai bulan Juli 2008.

 

Apakah dolar AS berhasil rebound?

Jika the Fed benar-benar menghentikan pencetakan uang untuk membiayai defisit anggaran pada bulan Juni, kemungkinan besar US dollar akan bangkit lagi.  Mengapa demikian?  Karena investor institusi yang memiliki dana pengelolaan besar akan memutuskan dolar AS kembali aman untuk dipegang menyusul peredaran uang tidak dinaikkan lebih lanjut.

Kini sebagian besar investor telah menjual dolar AS untuk memakainya dalam carry trade, dan hampir semua pelaku pasar menyetujui trennya sangat bearish.  Jadi boleh dikatakan bahwa sentimen buruk terhadap US dollar agak ekstrem belakangan ini, yang juga tergambar dalam pergerakan harga.

 

Technical outlook untuk dolar AS

 

Setahun yang lalu, the U.S. dollar index mencapai 88.708 sementara pekan ini sudah menembus 73 (lihat grafik disamping ini).  Artinya dolar AS melemah hampir 20% dalam setahun terhadap mata uang utama lainnya.

 

 

US dollar tetap akan bearish selama berada di bawah trend line, yang ditunjukkan oleh garis turun yang terputus-putus.  Namun jika kita mempelajari grafik mingguan dibawah ini, Relative Strength Index memperlihatkan dengan jelas bahwa dolar AS sudah sangat oversold atau jenuh jual pada saat ini.

Berarti setiap saat bisa terjadi sebuah pembalikan tren secara tidak terduga, yang memecahkan downtrend line yang terbentuk di grafik harian.  Maka hati-hati apabila Anda masih berminat untuk menjual US dollar ataupun membeli mata uang yang lain.

Terutama currencies yang telah mengalami penguatan yang signifikan terhadap dolar AS dan juga memiliki tingkat suku bunga yang lebih tinggi bisa terkoreksi tajam, seperti Aussie dollar, euro dan pound sterling.

 

Bagaimana dengan emas?

“BEFORE the great gold tsunami we might have a frightening

gold correction that would clean out all the gold skeptics.

This ‘clean out’ may be necessary prior to the big gold tsunami,

and it’s a reason to hold some cash and not put ALL your money

into gold at this time.  Remember the old adage – “The market

always does what it’s supposed to – BUT NEVER WHEN.”

-Richard Russell

 

Sekarang banyak orang berpendapat bahwa hanya ada satu arah untuk pergerakan emas, yaitu naik, naik … dan naik lebih tinggi.  Salah satu faktor yang memberikan kontribusi terhadap kekuatan pasar emas adalah dolar AS yang turun dalam sekali.  Sebab mayoritas dari komoditas dinilai dalam US dollar, ada korelasi negatif atau terbalik antara komoditas – termasuk emas – dan dolar AS (lihat grafik dibawah ini).

Tetapi seperti kita telah bahas sebelumnya, perubahan dalam kebijakan the Fed yang akan mengurangi pelonggaran moneter kedepan seharusnya dapat menopang dolar AS.  Dan … rebound US dollar tersebut berpotensi menyebabkan pelemahan yang cukup besar di sektor komoditas maupun menekan harga emas secara signifikan.

Selain itu, perlu juga selalu diingat bahwa bulan Juni hingga Agustus pada umumnya bukan waktu yang menguntungkan untuk logam mulia.  Terakhir kali terjadi koreksi yang besar adalah dari bulan Juli sampai Oktober 2008, dimana harga emas turun dari US$989.60/toz ke US$681/toz.  Mari kita melihat bersama-sama apakah sejarahnya akan terulang kembali …

 

Kondisi teknikal terkini untuk emas

Untuk menjelaskan pandangan pasar emas kedepan, saya ingin menampilkan dua grafik yang menarik.

 

Pertama-tama, grafik harian disamping ini menunjukkan bahwa RSI telah memasuki daerah overbought dan berada di atas 75. Jadi investor disarankan untuk meningkatkan kewaspadaannya karena upside sudah mulai relatif terbatas.

 

 

 

 

Kedua, grafik mingguan dibawah ini menggambarkan 5 waves atau gelombang besar yang terhitung dari level terendahnya di tahun 2008.  Lalu wave 5 pun terbagi dalam 5 subwaves yang terlihat secara jelas.

Target yang saya tetapkan dalam artikel dengan judul “Apakah emas mencari nafas terlebih dahulu?” pada tanggal 14 Maret lalu masih berlaku, yaitu di sekitar US$1,550/toz.  Kebetulan target itu juga hampir sama dengan 61,8% dari gelombang atau subwaves 1 hingga 3 didalam wave besar 5.

Meskipun demikian, bisa saja bahwa spekulasi yang berlebihan mengakibatkan harga emas terus melaju dan membentuk sebuah spike atau blowoff top.  Pada akhirnya makin besar kenaikan harga emas, makin dalam kejatuhannya pada waktu terkoreksi!

 

Kesimpulan

“The definition of insanity is doing the same thing

over and over again and expecting different results.”

-Albert Einstein-

 

QE2 sebetulnya merupakan sebuah istilah yang keren untuk suatu tindakan yang sangat sederhana: MENCETAK UANG.  Seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini “pembengkakan” neraca the Fed telah menyebabkan harga saham maupun emas naik, dan dolar AS anjlok.

Menyusul akhirnya dari quantitative easing kedua, bank sentral AS kemungkinan besar tidak akan langsung melanjutkannya dengan QE3.  Kalau itu terjadi bursa saham dan pasar emas dapat mengalami koreksi yang besar, sedangkan US dollar dan obligasi pemerintah AS tiba-tiba bisa menguat.

Oleh karena itu saya menyarankan investor untuk memiliki uang tunai yang cukup banyak dalam jangka pendek.  Menurut hemat saya, tidak begitu bijaksana apabila investor atau trader masih ingin membeli (indeks) saham atau emas pada saat ini dan seolah-olah mengejar harganya yang melambung tinggi.

Cash sama dengan “peluru” yang dapat dimanfaatkan untuk membeli aset ketika harganya lebih menarik.  Dan … hanya satu hal yang dibutuhkan untuk melaksanakan siasat tersebut, yaitu KESABARAN.

 

Sekarang kita tinggal menunggu penerapan QE yang berikutnya saja.

Mengapa demikian?  Karena sama dengan QE1 dan QE2, QE3 akan mendorong harga berbagai aset seperti saham, komoditas dan emas.  Maka biarkan BULL (banteng) mengistirahatkan badannya dan BEAR (beruang) berkuasa untuk sesaat, sebelum menikmati gelombang selanjutnya dari bull market ini.

 

 

 

Kapan QE3 akan diumumkan?

“We may drop 10 to 15 percent.  Then QE3 will come,

(then) QE4, QE5, QE6, QE7 – whatever you want.

The money printer will continue to print, that I’m sure.”

-Marc Faber, the author of the Gloom,

Boom and Doom Report-

 

Tidak ada seorang pun yang dapat memperkirakan dengan pasti kapan the Fed akan mengisyaratkan stimulus tambahan.  Namun ada sesuatu yang menjadi patokan: QE2 tidak terjadi segera setelah QE1 selesai, jadi kemungkinan QE3 pun tidak akan langsung diterapkan sampai bank sentral AS mempunyai dasar yang kuat untuknya.

Adapun beberapa tanda yang bisa memberikan indikasi mengenai quantitative easing yang berikutnya:

1)      Selama defisit anggaran bertengger di sekitar 10% dari PDB, pencetakan uang sulit untuk dihentikan.  Pertanyaan adalah: “Siapa akan menyerap begitu banyak surat hutang negara AS diluar the Fed?”

Apalagi setelah Cina menderita defisit perdagangan dalam kuartal pertama 2011 (untuk pertama kali dalam 7 tahun terakhir) dan Jepang membutuhkan banyak dana untuk membangun kembali daerah yang terkena tsunami.  Maka jangan heran jika bank sentral AS terpaksa melaksanakan QE3 di kuartal ketiga atau keempat tahun ini sesudah menyaksikan reaksi pasar yang kurang baik.

2)      Apabila tingkat pengangguran hampir tidak turun dan pertumbuhan Produk Domestik Bruto melambat dalam dua kuartal mendatang, the Fed tidak akan ragu untuk kembali menjalankan mesin cetak.  Selain itu, tahun depan merupakan election year dimana Presiden AS yang berikutnya akan dipilih jadi bank sentral kemungkinan akan terpacu untuk menyuntik dana ke perekonomian setidaknya 6 bulan atau bahkan setahun sebelum pelaksanaan pemilu.

3)      Belakangan ini the Fed menerima banyak komentar yang kritis tentang program pelonggaran moneter mereka.  Terutama inflasi yang naik dengan cepat dipermasalahkan oleh berbagai pihak.  Tetapi … kalau bursa saham AS jatuh 10% sampai 20%, mungkin saja semua pengecam malahan akan berdiam dan justru meminta pencetakan uang baru.

 

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu Anda dalam mengambil keputusan investasi yang menguntungkan!

 

 

 

 

 

 

 

 


Categories: Pasar Internasional Tags: