Archive

Archive for July, 2011

Pilih yang mana: emas atau uang kertas?

July 25th, 2011 15 comments

“It’s taken almost two centuries for bankers to pull the wool over Americans’ eyes, but today you and I are working for intrinsically worthless paper that can be created by bureaucrats – created without sweat, without creative ability, without work, without anything but a decision by the Federal Reserve.  This is the disease at the base of today’s monetary system.  And like a cancer, it will spread until the system ultimately falls apart.  This is the tragedy

of the great lie.  The great lie is that fiat paper represents a store of value, money of lasting wealth.”

-Richard Russell-

Setelah emas turun ke level terendahnya bulan ini di USD1,478.01/toz pada tanggal 1 Juli, harganya melejit sebesar USD131.50/toz atau 8,9% dan membukukan rekor tertinggi sepanjang sejarah di USD1,609.51/toz hari Selasa lalu (lihat grafik dibawah ini).

Dengan demikian emas mencatat rekor penguatan beruntun terpanjang dalam 11 sesi terakhir yang menyamai rekor pada 1975 silam.  Sejauh ini emas juga telah menguat sebanyak 13% selama 2011 dan potensial menjadikannya rekor kenaikan beruntun terpanjang sejak 1920.

Penguatan kinerja emas disokong oleh maraknya aksi beli investor pada instrumen investasi safe haven, terutama emas, seiring berkembangnya kekhawatiran bahwa tidak segeranya solusi dari permasalahan hutang Eropa dan AS dapat menyebabkan sebuah KRISIS GLOBAL.  Harga emas bahkan terapresiasi bersamaan dengan penguatan dolar AS yang kemudian mendorong emas ke level tertingginya terhadap beberapa mata uang dunia termasuk euro, sterling, rand Afrika Selatan dan dolar Kanada.

Apakah ada potensi untuk pelonggaran moneter lanjutan?

“No bet in the centuries of the monetary history has been safer than the one that a gold coin, inaccessible to the inflationary policies of the governments, will maintain its purchase power better than a banknote.”

-Wilhelm Röpke-

Pada umumnya bulan Juni dan Juli merupakan sebuah periode dimana emas tidak terlalu kuat dan cenderung mengalami konsolidasi saja.  Namun tahun ini harga emas malahan break out keatas, dan sekaligus mencatatkan all-time highs dalam hampir semua mata uang.

Maka boleh dikatakan bahwa emas sedang bertindak sepenuhnya sebagai sebuah currency of last resort.  Artinya peranan sebagai suatu komoditas tidak terlalu signifikan pada saat ini, dan harganya terdorong naik karena permintaannya melonjak berdasarkan kehilangan kepercayaan dalam otoritas moneter dari negara maju.

Mengapa bisa sampai begitu?  Alasannya cukup sederhana, yaitu program QUANTITATIVE EASING yang diterapkan oleh berbagai bank sentral di negara Barat.  Misalnya untuk menanggulangi krisis hutang di Eropa, the European Central Bank atau ECB kemungkinan akan segera memulai program pelonggaran moneternya sendiri lewat pembelian obligasi dari negara PIIGS (Portugal, Irlandia, Italia, Yunani dan Spanyol).  Dan … apabila ECB memutuskan untuk menerapkan program tersebut agar zona Eropa selamat, bukan tidak mungkin the Bank of England akan mempertimbangkan QE2 dan the Fed akan memiliki suatu dalih untuk QE3.

Dalam hal itu, the TREND is your FRIEND dan uptrend logam mulia tetap akan didukung oleh kebijakan moneter yang ultra longgar (lihat grafik diatas ini).  Kenyataan adalah bahwa hanya pencetakan uang dapat membiayai defisit anggaran yang besar dari banyak negara maju.  Jadi jangan heran emas begitu kuat, dan makin banyak orang maupun investor institusi mulai melirik logam yang mengkilap.

Dolar AS, euro, atau … emas saja?

“There is NO basis for confidence in ANY sovereign debt paper because there is NOTHING behind any of it except the promises to pay of future governments.  But how can they “pay” if they go on spending more than they take in.  And if they do pay, what will the stuff they pay with be good for?”

-Bill Buckler, Gold This Week, 09 July 2011-

Sejak 2007, bank sentral di AS, Eropa dan Inggris telah memperluas neraca mereka dengan lebih dari 4,5 trilyun dolar AS.  Disamping itu, suku bunga negatif secara riil (setelah disesuaikan untuk inflasi) dan kemungkinan besar akan tetap rendah karena suku bunga yang naik pasti akan mempunyai dampak yang fatal terhadap kondisi keuangan negara maju.

Biasanya positive real interest rates menekan harga emas, seperti pada tahun 1980an dan 1990an.  Sebaliknya, negative real rates merupakan sebuah stimulans untuk emas.  Maka sangat wajar jika investor memilih emas dibandingkan uang kertas mengingat logam mulia pada saat ini lebih mampu mempertahankan nilainya terhadap inflasi.

Sejarah juga membuktikan bahwa pada akhirnya semua mata uang mempunyai nasib yang sama: mereka menjadi tidak bernilai dan hilang sepenuhnya dari peredaran.  Coba saja melihat gambar dibawah ini, yang menampilkan beberapa mata uang yang hancur berkat penyalahgunaannya dari pembuat kebijakan.

Sekarang Anda kemungkinan berpikir hal tersebut tidak mungkin dapat terjadi di AS, bukankah begitu?  Jika demikian, perlu saya sampaikan bahwa justru HUTANG yang berlebihan dan DEFISIT ANGGARAN yang besar selalu mendahului kejatuhan dari setiap mata uang yang ditampilkan diatas ini.

Peter Bernholz, seorang ahli mengenai hyperinflation, menyatakan secara tegas bahwa “hyperinflation atau inflasi yang sangat tinggi disebabkan oleh defisit anggaran pemerintah.”  Sebagai contohnya defisit anggaran AS untuk tahun ini akan berjumlah sekitar 1,5 trilyun dolar AS, dan diperkirakan tetap akan bertahan di atas USD1 trillion hingga tahun 2020.

Lalu sejak pendirian the Federal Reserve, dolar AS telah kehilangan 95% dari daya beli!  Dengan kata lain, Kepala bank sentral di Amerika Serikat tidak tahu, tidak mau, atau tidak mampu untuk menjaga mata uangnya sendiri (lihat gambar dibawah ini).

Oleh karena itu, investor harus melindungi kekayaannya dengan satu-satunya uang yang tidak dapat dimanipulasi, yaitu EMAS!

Kondisi teknikal terkini

“Gold still represents the ultimate form of payment in the world… Fiat money, in extremis, is accepted by nobody.  Gold is always accepted”

-Alan Greenspan-

Seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini, emas ternyata berhasil break out dari symmetrical triangle atau segitiga simetris setelah berkonsolidasi didalam pola tersebut selama 10 pekan.  Namun kenaikan sebesar USD131.50/toz terjadi dalam waktu yang singkat sekali dan RSI atau Relative Strength Index sudah berada dalam daerah yang overbought, jadi mungkin saja terjadi sebuah koreksi terlebih dahulu dalam beberapa hari kedepan sebelum emas melanjutkan penguatannya.

Apabila harga emas turun dulu, entry point atau titik masuk yang bagus akan tercipta pada saat harganya mendekati MA-50, yang kini akan berlaku sebagai support, dan/atau RSI bertengger disekitar middle line-nya (50).  Kejadian tersebut pun terlihat ketika emas terkoreksi pada pertengahan bulan Maret lalu, dimana harganya menyentuh MA-50 dan RSI turun hingga 49.15.  Maka Anda sebaiknya mengamati kedua indikator ini dengan seksama agar tidak ketinggalan peluang untuk membeli emas di harga yang lebih murah.

Salah satu ukuran lainnya yang bisa digunakan untuk mencari entry point yang bagus adalah fibonacci retracements.  Koreksi yang sehat pada umumnya akan berhenti antara 38.2% dan 50%, seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini.

Misalnya pada waktu emas melemah pada awal bulan Maret, fibonacci retracement sebesar 38.2% cukup kuat untuk menopang harganya.  Jadi kisaran antara USD1,543.75/toz dan USD1,559.25/toz kini merupakan buying zone yang ideal dalam 1-2 pekan kedepan.

Tetapi … perlu dicatat juga bahwa harga tertinggi sebelumnya di USD1,575.79/toz kini berlaku sebagai support pertama.  Makanya jangat terkejut harga emas pekan yang lalu terjebak antara USD1,581.78/toz dan USD1,609.51/toz maupun sekaligus membentuk sebuah flag atau bendera, yang merupakan suatu continuation pattern.

Trading plan dan target harga

“Currencies don’t float, they just sink at different rates”

-Clyde Harrison-

Kini ada dua kemungkinan:

  1. Apabila emas turun dibawah level tertinggi sebelumnya di USD1,575.79/toz, buy on weakness adalah tindakan yang paling bijaksana, dengan entry point dalam kisaran antara USD1,543.75/toz dan USD1,559.25/toz;
  2. Jika harga emas bertahan diatas USD1,580/toz dan hanya membentuk sebuah flag, suatu breakout diatas USD1,610/toz merupakan tanda untuk membeli emas.

Lalu berapa target harga dalam 2-3 bulan kedepan?  Untuk perhitungan tersebut, saya berasumsi bahwa pergerakan sebelumnya adalah patokan yang bagus:

  1. Dari awal bulan Februari hingga akhir bulan Mei, emas mengalami kenaikan sebesar USD267.79/toz atau 20,47%.  Jika harga emas sekarang naik dengan jumlah yang sama (dimulai dari USD1,478.01/toz), target harga terletak antara USD1,745.80/toz dan USD1,780.55/toz;
  2. Apabila emas ternyata hanya berkonsolidasi dalam jangka pendek dan membentuk sebuah bendera (yang biasanya terletak di tengah suatu gerakan naik atau turun), target harga adalah USD1,741.01/toz atau USD1,609.51/toz ditambah USD131.50/toz.

Maka secara garis besar TARGET HARGA selama 2-3 bulan kedepan adalah USD1,740/toz hingga USD1,780/toz.

Kesimpulan

“If you don’t trust gold, do you trust the logic of taking a pine tree, worth $4,000-$5,000, cutting it up, turning it into pulp, putting some ink on it and then calling it one billion dollars?”

-Kenneth J. Gerbino-

Selain berbagai faktor yang mendukung emas pada saat ini, secara musiman emas akan memasuki periode dimana permintaannya cenderung naik menyusul bulan suci Ramadan akan segera dimulai, yang diikuti oleh musim nikah dan festival Diwali di India maupun Natal dan Tahun Baru di Cina.

Akhirnya grafik dibawah ini membuktikan hal tersebut, dengan bulan Agustus dan September sebagai bulan dengan kenaikan yang paling konsisten.

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu Anda dalam mengambil keputusan investasi yang menguntungkan!

Categories: Pasar Internasional Tags:

Kemanakah bursa AS dan bursa regional?

July 18th, 2011 4 comments

Belakangan ini indeks Dow Jones Industrial Average maupun S&P 500, dan juga indeks saham Asia cenderung bergerak sangat fluktuatif dan tanpa arah yang jelas.  Ini disebabkan oleh perekonomian dunia yang kini berada pada suatu titik penentuan dimana ekonom, analis, investor dan pelaku pasar secara umum mempunyai banyak pendapat yang berbeda mengenai pergerakan harga pasar kedepan.

Coba saja melihat grafik harian dari S&P 500 diatas ini, yang menunjukkan suatu perubahan dari trending market ke trading market.  Berarti setelah indeks saham S&P 500 mengalami uptrend yang kuat dari bulan September 2010 sampai bulan Februari 2011, kisaran harga mulai terbatas dan pergerakannya terjebak antara 1,250 sebagai support dan 1,370 sebagai resistance.

Mengapa demikian? Alasan utama adalah bahwa masih ada begitu banyak ketidakpastian yang menghantui investor pada saat ini dan menahan mereka untuk membeli saham secara agresif:

Keuntungan lebih lanjut untuk saham mungkin sulit tercapai ditengah kekhawatiran bahwa PENGHENTIAN RENCANAPELONGGARAN KUANTITATIF dari the Federal Reserve AS akan menyebabkan pelambatan ekonomi global.  Cara yang paling mudah untuk membuktikan korelasi antara neraca the Fed dan pergerakan S&P 500 selama dua tahun terakhir adalah grafik dibawah ini, yang memberikan gambaran yang jelas tentang hubungannya yang erat. Agar memahami kehebatan dari masalah ini – jika mulai tidak terkendali – saya telah menyusun suatu daftar dengan fakta penting mengenai Italia dan Spanyol:

  • Italia adalah perekonomian terbesar ketiga dan Spanyol merupakan ekonomi terbesar keempat di zona Eropa;
  • Hutang terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB di Italia lebih dari 118%, dan pengangguran di Spanyol sudah melampaui 20%;
  • Perekonomian Italia 6 kali lebih besar daripada Yunani, sementara Spanyol 4 kali lebih besar.
  • Hutang Italia begitu besar sehingga mencapai sekitar 25% dari PDB Eropa;
  • Spread untuk yield obligasi Italia terhadap German bunds telah menembus fresh euro lifetime highs pada Senin kemarin dan credit default swaps (CDS) juga menembus level rekor tertingginya, setelah muncul kekhawatiran akan meluasnya krisis hutang.

Ketakutan yang paling besar adalah bahwa bailout fund sebesar 750 milyar euro tidak akan cukup untuk menopang Spanyol maupun Italia setelah Portugal, Yunani dan Irlandia – yang hanya mewakili 6% dari perekonomian zona Eropa – telah dibantu terlebih dahulu.  Maka tanpa dana cadangan untuk menyelamatkan mereka, kedua negara tersebut dapat mengalami default atau gagal bayar, dan dampaknya bisa terasa di seluruh dunia.

Investor terlihat mulai mencemaskan bahwa KRISIS HUTANG EROPA akan meluas dari kelompok ekonomi kecil ke kelompok ekonomi yang lebih besar.  Jika kekhawatiran ini terbukti, maka bursa saham akan kembali terpukul.Investor nampaknya hanya memiliki sedikit insentif untuk membeli saham di harga saat ini, menyusul kemungkinan terjadi PERLAMBATAN PERTUMBUHANEKONOMI di AS dan negara-negara lain telah melemahkan bursa global.  Misalnya laporan terakhir yang suram mengenai pasar tenaga kerja AS mengecewakan investor yang memperkirakan penguatan pemulihan pada ekonomi terbesar didunia tersebut. Departemen tenaga kerja AS mengatakan non-farm payrolls – indikator utama pada pasar global – tumbuh hanya 18.000 bulan Juni, penguatan terlemah sejak bulan September dan jauh dibawah ekspektasi ekonom dari kenaikan sebesar 90.000.-

Sebuah LONJAKAN INFLASI di CINA ke level tertinggi selama 3 tahun terakhir juga meredam optimisme investor dan meningkatkan kekhawatiran terhadap langkah kenaikan suku bunga lanjutan setelah dua minggu lalu Cina menaikkannya untuk ketiga kalinya sepanjang tahun 2011 ini.

Lalu tekanan di bursa saham juga dipengaruhi oleh KEBUNTUAN dalam DISKUSI ANGGARAN AS yang menyentak para investor.

Akhirnya sebuah HARD LANDING di CINA tetap merupakan suatu kemungkinan yang perlu dipertimbangkan oleh investor.  Sebagai contohnya PMI atau PurchasingManagers Index kini hampir berada di zone kontraksi, yaitu pada 50,1.  Jadi perhatikanlah rilis HSBC PMI dengan seksama, yang akan diumumkan hari Kamis mendatang pada pukul 9:30 pagi.

 

Meskipun berbagai faktor yang disebut diatas dapat menggulingkan kembali bursa saham dalam jangka pendek, ada 3 alasan mengapa indeks saham AS maupun Asia tetap menjanjikan dalam jangka menengah:

Sekarang investor menanti LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN AS dan Asia untuk kuartal kedua, sebagai harapan untuk berlanjutnya aksi beli di bursa saham dan aset-aset beresiko.

Indeks Dow Jones Industrial Average kemungkinan juga dapat menguat selama semester kedua dan menuju ke level tertingginya di sekitar 14,200 karena SENTIMEN telah menjadi NEGATIF sekali dalam beberapa minggu terakhir.  Riset dari Citigroup misalnya menunjukkan bahwa pesimisme dari investor kini terlalu berlebihan.

Panic/Euphoria Model mereka, yang ditampilkan diatas ini, merupakan suatu contrarian indicator populer yang mengukur perasaan investor terhadap pasar.  Pada umumnya suatu koreksi pasar terjadi pada saat investor terlalu bullish (Euphoria), sedangkan pasar diharapkan bangkit lagi ketika kebanyakan orang merasa terlalu pesimis (Panic). Seperti dapat Anda lihat, sentimen pasar jatuh kebawah -0.15 pada akhir Juni, yang merupakan tanda baik untuk investor.  Menurut data historis, ada peluang sebesar 90% bahwa pasar akan bergerak naik dalam 6 bulan kedepan dan sebesar 97% untuk setahun mendatang.  Sementara secara rata-rata pasar menguat 8,9 persen selama 6 bulan yang akan datang dan 17,3 persen tahun berikutnya.

Wall Street sangat menyukai paruh kedua dari masa jabatan seorang Presiden baru.  Setelah Presiden Obama menerapkan agendanya selama dua tahun pertama, ia hanya akan mempertahankannya untuk dua tahun berikutnya tanpa mengambil kebijakan yang baru.  Berarti investor dapat memanfaatkan Presidential Election Cycle rally yang akan berlangsung hingga November 2012 karena hal itu sudah terjadi dalam setiap SIKLUS PRESIDENSIAL sejak 1945!

Kondisi teknikal indeks saham AS dan Asia

Setelah membahas kondisi pasar secara fundamental, mari kita meneliti beberapa grafik untuk memutuskan apakah sekarang saat yang tepat untuk membeli, menjual, atau menahan diri saja.

Grafik mingguan dari Dow Jones diatas ini memperlihatkan bahwa kita kemungkinan menyaksikan pembentukan wave atau gelombang C pada saat ini.  Wave C bersifat korektif dan pada umumnya turun setidaknya sampai level terendah dari wave A atau wave 4 sebelumnya. Juga perhatikan trend line pada RSI atau Relative Strength Index yang masih turun terus dan telah mencatat dua lower highs pada 78.63 dan 64.61.  Selama trend line tersebut tidak berhasil dipecahkan keatas, indeks Dow Jones tetap akan cenderung bearish dan melanjutkan penurunannya dan/atau konsolidasinya. Selain itu MACD histogram juga masih berada di bawah garis 0, dan MACD lines pun belum melakukan sebuah cross-up.  Maka untuk sementara waktu investor sebaiknya menahan diri sampai ada sinyal beli yang kuat di weekly chart.

 

Lalu grafik harian diatas ini juga memberikan gambaran yang hampir sama dimana indeks saham Dow Jones mengalami kesulitan dalam seminggu terakhir untuk ditutupi diatas 12,500, sedangkan MACD lines hampir saja menandai sebuah sell signal lewat dead cross. Sekali lagi jika terjadi suatu koreksi lanjutan dalam beberapa minggu kedepan, target minimum adalah 11,862.53.

 

Grafik harian dari Nikkei diatas dengan jelas memperlihatkan bahwa indeks saham Jepang sedang berkonsolidasi antara 9,317 dan 10,017 atau dalam kisaran sebesar 700 poin.  Selama tidak ada breakout yang dapat bertahan selama 2 minggu diatas kisaran tersebut, Nikkei masih cenderung akan melanjutkan konsolidasinya.  Juga waspadailah MACD lines yang kemungkinan akan cross down minggu ini dan memberikan sebuah sell signal.

 

Sementara secara bulanan indeks Nikkei tetap bullish dalam jangka panjang (lihat grafik diatas ini), dengan target antara 11,313.60 dan 13,981.70 untuk beberapa bulan kedepan.  Artinya buy on weakness adalah siasat yang paling tepat, jadi jangan panik apabila bursa saham Jepang terkoreksi terlebih dahulu.

 

Untuk indeks Kospi ada 2 kemungkinan pada saat ini: bursa saham Korsel telah menyelesaikan koreksinya (dalam bentuk A-B-C) dan mencapai level terendahnya dalam jangka menengah di sekitar 265, atau sedang membentuk wave C dan masih berpeluang turun lebih jauh.  Lalu hampir sama halnya dengan indeks Nikkei, MACD lines baru saja memberikan sebuah sell signal dan RSI hanya mampu mendekati middle line disekitar 50.

 

Namun secara bulanan uptrend masih utuh dan kemungkinan berada dalam wave 5 yang belum terselesaikan sepenuhnya, jadi investor juga disarankan untuk beli ketika terjadi koreksi yang cukup dalam.

 

Indeks Hang Seng terlihat paling lemah dan bergerak didalam sebuah downtrending channel yang mulai terbentuk sejak bulan November 2010.  Ditambah MACD lines yang sudah kembali memberikan sebuah sell signal, dan RSI yang makin mendekati daerah oversold lagi.

 

Bursa saham Hong Kong sudah berkonsolidasi selama berbulan-bulan dan seolah-olah terjebak antara fibonacci retracement sebesar 50% dan 61.8% yang masing-masing berada di 21,317.35 dan 23,828.64.  Sementara Relative Strength Index makin turun dan MACD lines telah cross down.  Sekarang ada dua kemungkinan: jika indeks Hang Seng terkoreksi lebih dalam, bisa saja fibonacci retracement sebesar 38.2% akan menjadi support dan sekaligus suatu titik masuk yang menarik.  Namun apabila menguat lagi, targets terdekat adalah 23,828.64, high pada kuartal keempat tahun 2010 di 24,988.57 dan high selama kuartal kedua 2008 di 26,387.37.

 

Terakhir IHSG atau indeks harga saham gabungan adalah salah satu indeks terkuat di dunia belakangan ini, dan berhasil mencetak rekor demi rekor.  Ini tentunya berhubungan dengan investment grade yang segera akan diperoleh oleh Indonesia maupun aliran dana investor asing yang membanjiri bursa saham domestik secara terus-menerus.  Dalam jangka pendek IHSG kemungkinan akan berkisar antara 3,872 sebagai support dan 4,100 sebagai resistance.

 

Uptrend juga terlihat dengan jelas pada grafik mingguan diatas ini.  Sejak awal tahun 2009 bursa saham Indonesia bertahan di atas SMA-40 (atau sama dengan moving average selama 200 hari di grafik harian) yang kini berada di sekitar 3,680. Target yang saya tetapkan pada awal tahun ini, yaitu antara 4,200 dan 4,500, belum berubah dan sudah berada didepan mata.

 

Kesimpulan

Jika Anda bingung setelah membaca sejauh ini mengenai arah pergerakan bursa saham AS dan regional kedepan, saya ingin menegaskan bahwa dalam jangka pendek (bulan Juli dan Agustus) saya cenderung bearish, dalam jangka menengah (setahun kedepan) bullish dan dalam jangka panjang (sampai 2015, terutama untuk bursa saham AS, Eropa dan juga Inggris) bearish.

Pada saat ini hanya ada dua opsi yang dapat diterapkan dalam beberapa bulan mendatang.  Bank sentral di negara Barat bisa melanjutkan QE to infinity – program pelonggaran moneter yang tidak terbatas – yang akan mengakibatkan tingkat inflasi yang tinggi.  Atau … pemerintahan yang mempunyai defisit anggaran yang besar dapat memaksa penghematan, yang kemungkinan akan menyebabkan sebuah depresi yang mirip dengan tahun 1930an.

Maka boleh dikatakan bahwa pilihan adalah antara INFLASI atau DEPRESI.  Dengan jumlah penganggur yang diperkirakan tidak akan berkurang secara signifikan dan pemilihan Presiden yang akan dilaksanakan pada tahun 2012, saya berpendapat the Fed akan terpaksa memberikan stimulus tambahan, dan pada akhirnya mendorong bursa saham maupun memicu inflasi yang lebih tinggi.

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu Anda dalam mengambil keputusan investasi yang menguntungkan!

Categories: Pasar Internasional Tags:

Emas menolak untuk turun banyak

July 11th, 2011 3 comments

Setelah emas mencetak level tertingginya sepanjang sejarah pada 2 Mei 2011 di US$1,575.79/toz, harganya turun secara pelan tetapi pasti dan mencapai level terendah dalam kurun 6 minggu dua pekan lalu di US$1,478.01/toz.

Grafik harian diatas ini menampilkan dengan baik pergerakan harga emas yang terjebak dalam kisaran yang cukup sempit selama 2 bulan terakhir.  Symmetrical triangle atau segitiga simetris ini pada umumnya merupakan sebuah continuation pattern, dimana emas kemungkinan besar hanya berkonsolidasi untuk sementara waktu dan pada akhirnya melanjutkan tren sebelumnya setelah memecahkan resistance-nya.

Kini harga emas makin mendekati garis atas, yang pada saat ini berada di sekitar US$1,550/toz.  Apabila level tersebut berhasil dipecahkan pada minggu ini, emas mungkin saja akan coba mencatat rekor terbaru dalam bulan Juli.

Perhatikan juga MACD-lines yang telah cross up di bawah garis nol, dan RSI atau Relative Strength Index yang membentuk sebuah bullish divergence ketika emas menyentuh support-nya.

Kemudian saya juga menemukan suatu indikator yang sangat menarik pada saat melakukan penelitian untuk artikel ini, yaitu the Gold Price Oscillator.  Apabila kita mengamati indikator itu dengan seksama, kita bisa menyimpulkan bahwa emas kemungkinan sudah menyelesaikan konsolidasinya berdasarkan oscillator yang baru saja break out (lihat grafik dibawah ini).

Faktor yang mendukung emas

“There are about three hundred economists in the world who are against gold, and they think that gold is a barbarous relic – and they might be right. Unfortunately, there are three billion inhabitants of the world who believe in gold.”

-Janos Fekete-

Selain kondisi teknikal yang menunjukkan banyak sinyal untuk membeli emas, ada beberapa indikasi lain yang dapat mendorong harga emas lebih tinggi dalam semester kedua ini:

Tidak ada perbaikan yang berarti dalam perekonomian AS, dengan harga properti yang masih turun terus dan tingkat pengangguran yang kembali naik dari 9,1% ke 9,2%. Ini menyebabkan the Fed atau bank sentral AS cenderung akan tetap mempertahankan KEBIJAKAN MONETER yang ULTRA LONGGAR dalam waktu yang lebih panjang. Hal tersebut tentunya akan menekan dolar AS terhadap mata uang dari negara dimana mereka sudah atau akan menaikkan suku bunganya.  Sebagai contohnya, ekspektasi bahwa ECB atau bank sentral Eropa akan menaikkan suku bunga lebih agresif dibandingkan dengan the Fed telah mengerek performa euro hingga 7% pada 2011, sebuah kondisi yang turut menyokong performa emas. Grafik harian dollar index dibawah ini menguatkan perbedaan dalam penetapan suku bunga.  Indeks dolar AS sekarang berada di sebuah bearish consolidation pattern dari suatu major downtrend.  Maka kemungkinan besar dolar AS hanya akan bertahan sesaat melawan mata uang utama dunia, sebelum melemah lagi secara signifikan pasca penembusan garis bawah dari segitiga.

Pola yang sama terlihat di grafik harian dari euro terhadap dolar AS.  Euro pun bergerak dalam sebuah symmetrical triangle, dengan support dan resistance yang kini masing-masing terletak disekitar 1.42 dan 1.45 (lihat grafik dibawah ini). Meskipun zona Eropa menghadapi begitu banyak masalah selama beberapa bulan terakhir, euro ternyata tidak anjlok melawan dolar AS.  Ini justru membuktikan bahwa dolar AS sungguh lemah dan tidak dapat mengumpulkan cukup tenaga untuk menjadi bullish kembali.

Dan … yang lebih menarik lagi adalah bahwa the Fed kemungkinan besar terpaksa akan melanjutkan quantitative easing-nya pada akhir tahun ini atau awal tahun depan untuk mendongkrak perekonomiannya.  Defisit anggaran tahunan yang melebihi 1 milyar dolar AS, dan jumlah pembeli yang terbatas untuk surat hutang yang menutupi pengeluaran pemerintah tersebut, memastikan bahwa bank sentral AS hampir pasti akan kembali mencetak banyak uang. Berarti pada waktu pelonggaran berikutnya diumumkan, kemungkinan besar dolar AS akan turun secara signifikan dan bahkan dapat mencetak level terendah barunya terhadap mata uang utama dunia.  Oleh karena itu, membeli emas pada saat terkoreksi adalah keputusan investasi yang paling bijak pada saat ini mengingat indikasi program QE akan memberikan dukungan bagi akselerasi kenaikan harga emas.

Data Cina, yang menunjukkan INFLASI pada negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut berjalan pada fase tercepatnya dalam tiga tahun, membawa tambahan insentif untuk membeli emas yang dapat bertindak sebagai lindung nilai terhadap naiknya tekanan harga.  Dari 1994 sampai 2010, tingkat inflasi Cina rata-rata sebesar 4,3% sementara kini telah melebihi 6%.  Oleh karena itu, kekhawatiran akan inflasi yang naik secara terus-menerus kemungkinan besar akan menjadi pemicu utama untuk permintaan emas di Cina dalam jangka pendek. Namun tidak hanya Cina yang mengalami inflasi yang tinggi, tetapi juga Eropa, AS dan Inggris dimana tingkat inflasi telah melampaui target yang ditetapkan oleh bank sentral masing-masing.  Misalnya CPI atau Consumer Price Index di Eropa mencapai 2,7%, di Amerika Serikat 3,6%, dan di Inggris bahkan 4,5%.  Maka jangan heran apabila makin banyak investor memutuskan untuk mengalihkan sebagian dananya ke emas, yang merupakan sebuah inflation hedge yang mampu mempertahankan nilainya terhadap inflasi.

Selanjutnya masih bergantungnya kekhawatiran pasar terhadap isu KRISIS HUTANG Eropa maupun kekisruhan mengenai debt ceiling di AS membuat investor cenderung lari dari aset beresiko tinggi dan berlindung pada aset safe haven seperti emas.  Jadi selama krisis hutang publik di berbagai negara masih menimbulkan ketidakpastian atau belum ada langkah perbaikan konkrit, maka peran safe haven emas masih akan meningkat terus.

PERMINTAAN untuk emas – baik dalam bentuk perhiasan atau sebagai investasi – di ASIA sangat kuat, terutama di Cina dan India.  Pada tahun 2010, kedua negara tersebut mewakili 51% (atau sekitar 1.570 ton) dari permintaan dunia, sedangkan tahun ini sudah meningkat lagi ke 58%.  Penjualan batangan emas pun di Cina sedang berkembang pesat, dimana permintaannya naik dua kali lipat dari 41 ton di kuartal pertama 2010 ke 93,5 ton pada kuartal pertama 2011.

Jika permintaan bertumbuh terus dengan kenaikan yang sama seperti kuartal pertama tahun 2011, kemungkinan pertumbuhan secara keseluruhan dalam 2011 akan sebesar 20,9% (lihat tabel diatas ini).

Khususnya di Cina, pasar properti yang overheating mengakibatkan investor mengubah strategi investasinya.  Menyusul pemerintah Cina berupaya keras untuk mendinginkan real estate bubble dengan berbagai kebijakan, sektor properti menjadi kurang menarik untuk menanamkan modal didalamnya dan pada gilirannya memacu orang untuk berinvestasi di aset lainnya, termasuk emas.

Kesimpulan

“Betting against gold is the same as betting on governments. He who bets on governments and government money bets against 6,000 years of recorded human history.”

-Charles de Gaulle-

Pada umumnya, seasonal weakness memang menekan harga emas selama bulan Juni dan Juli.  Juga patut dicatat bahwa harga terendah pada musim liburan biasanya merupakan kesempatan terakhir untuk membeli emas pada harga yang murah, karena sesudahnya pasar emas cenderung naik selama 5 bulan yang tersisa.

Dari tahun 2001 hingga 2010, emas rata-rata menguat 17,2% dalam setahun.  Namun kenaikan rata-rata dari bulan Agustus sampai dengan bulan Desember adalah sebesar 11,46% (lihat grafik diatas ini).

Artinya harga emas naik paling banyak pada paruh kedua setiap tahun, berhubungan dengan sekian banyak hari raya dan festival yang terjadi di berbagai negara.  Jadi apabila Anda sedang mencari titik masuk yang bagus untuk membeli emas, jangan tunggu terlalu lama dan manfaatkan konsolidasi yang berlangsung pada saat ini.

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu Anda dalam mengambil keputusan investasi yang menguntungkan!

Categories: Pasar Internasional Tags: