Home > Pasar Internasional > Kemanakah bursa AS dan bursa regional?

Kemanakah bursa AS dan bursa regional?

Belakangan ini indeks Dow Jones Industrial Average maupun S&P 500, dan juga indeks saham Asia cenderung bergerak sangat fluktuatif dan tanpa arah yang jelas.  Ini disebabkan oleh perekonomian dunia yang kini berada pada suatu titik penentuan dimana ekonom, analis, investor dan pelaku pasar secara umum mempunyai banyak pendapat yang berbeda mengenai pergerakan harga pasar kedepan.

Coba saja melihat grafik harian dari S&P 500 diatas ini, yang menunjukkan suatu perubahan dari trending market ke trading market.  Berarti setelah indeks saham S&P 500 mengalami uptrend yang kuat dari bulan September 2010 sampai bulan Februari 2011, kisaran harga mulai terbatas dan pergerakannya terjebak antara 1,250 sebagai support dan 1,370 sebagai resistance.

Mengapa demikian? Alasan utama adalah bahwa masih ada begitu banyak ketidakpastian yang menghantui investor pada saat ini dan menahan mereka untuk membeli saham secara agresif:

Keuntungan lebih lanjut untuk saham mungkin sulit tercapai ditengah kekhawatiran bahwa PENGHENTIAN RENCANAPELONGGARAN KUANTITATIF dari the Federal Reserve AS akan menyebabkan pelambatan ekonomi global.  Cara yang paling mudah untuk membuktikan korelasi antara neraca the Fed dan pergerakan S&P 500 selama dua tahun terakhir adalah grafik dibawah ini, yang memberikan gambaran yang jelas tentang hubungannya yang erat. Agar memahami kehebatan dari masalah ini – jika mulai tidak terkendali – saya telah menyusun suatu daftar dengan fakta penting mengenai Italia dan Spanyol:

  • Italia adalah perekonomian terbesar ketiga dan Spanyol merupakan ekonomi terbesar keempat di zona Eropa;
  • Hutang terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB di Italia lebih dari 118%, dan pengangguran di Spanyol sudah melampaui 20%;
  • Perekonomian Italia 6 kali lebih besar daripada Yunani, sementara Spanyol 4 kali lebih besar.
  • Hutang Italia begitu besar sehingga mencapai sekitar 25% dari PDB Eropa;
  • Spread untuk yield obligasi Italia terhadap German bunds telah menembus fresh euro lifetime highs pada Senin kemarin dan credit default swaps (CDS) juga menembus level rekor tertingginya, setelah muncul kekhawatiran akan meluasnya krisis hutang.

Ketakutan yang paling besar adalah bahwa bailout fund sebesar 750 milyar euro tidak akan cukup untuk menopang Spanyol maupun Italia setelah Portugal, Yunani dan Irlandia – yang hanya mewakili 6% dari perekonomian zona Eropa – telah dibantu terlebih dahulu.  Maka tanpa dana cadangan untuk menyelamatkan mereka, kedua negara tersebut dapat mengalami default atau gagal bayar, dan dampaknya bisa terasa di seluruh dunia.

Investor terlihat mulai mencemaskan bahwa KRISIS HUTANG EROPA akan meluas dari kelompok ekonomi kecil ke kelompok ekonomi yang lebih besar.  Jika kekhawatiran ini terbukti, maka bursa saham akan kembali terpukul.Investor nampaknya hanya memiliki sedikit insentif untuk membeli saham di harga saat ini, menyusul kemungkinan terjadi PERLAMBATAN PERTUMBUHANEKONOMI di AS dan negara-negara lain telah melemahkan bursa global.  Misalnya laporan terakhir yang suram mengenai pasar tenaga kerja AS mengecewakan investor yang memperkirakan penguatan pemulihan pada ekonomi terbesar didunia tersebut. Departemen tenaga kerja AS mengatakan non-farm payrolls – indikator utama pada pasar global – tumbuh hanya 18.000 bulan Juni, penguatan terlemah sejak bulan September dan jauh dibawah ekspektasi ekonom dari kenaikan sebesar 90.000.-

Sebuah LONJAKAN INFLASI di CINA ke level tertinggi selama 3 tahun terakhir juga meredam optimisme investor dan meningkatkan kekhawatiran terhadap langkah kenaikan suku bunga lanjutan setelah dua minggu lalu Cina menaikkannya untuk ketiga kalinya sepanjang tahun 2011 ini.

Lalu tekanan di bursa saham juga dipengaruhi oleh KEBUNTUAN dalam DISKUSI ANGGARAN AS yang menyentak para investor.

Akhirnya sebuah HARD LANDING di CINA tetap merupakan suatu kemungkinan yang perlu dipertimbangkan oleh investor.  Sebagai contohnya PMI atau PurchasingManagers Index kini hampir berada di zone kontraksi, yaitu pada 50,1.  Jadi perhatikanlah rilis HSBC PMI dengan seksama, yang akan diumumkan hari Kamis mendatang pada pukul 9:30 pagi.

 

Meskipun berbagai faktor yang disebut diatas dapat menggulingkan kembali bursa saham dalam jangka pendek, ada 3 alasan mengapa indeks saham AS maupun Asia tetap menjanjikan dalam jangka menengah:

Sekarang investor menanti LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN AS dan Asia untuk kuartal kedua, sebagai harapan untuk berlanjutnya aksi beli di bursa saham dan aset-aset beresiko.

Indeks Dow Jones Industrial Average kemungkinan juga dapat menguat selama semester kedua dan menuju ke level tertingginya di sekitar 14,200 karena SENTIMEN telah menjadi NEGATIF sekali dalam beberapa minggu terakhir.  Riset dari Citigroup misalnya menunjukkan bahwa pesimisme dari investor kini terlalu berlebihan.

Panic/Euphoria Model mereka, yang ditampilkan diatas ini, merupakan suatu contrarian indicator populer yang mengukur perasaan investor terhadap pasar.  Pada umumnya suatu koreksi pasar terjadi pada saat investor terlalu bullish (Euphoria), sedangkan pasar diharapkan bangkit lagi ketika kebanyakan orang merasa terlalu pesimis (Panic). Seperti dapat Anda lihat, sentimen pasar jatuh kebawah -0.15 pada akhir Juni, yang merupakan tanda baik untuk investor.  Menurut data historis, ada peluang sebesar 90% bahwa pasar akan bergerak naik dalam 6 bulan kedepan dan sebesar 97% untuk setahun mendatang.  Sementara secara rata-rata pasar menguat 8,9 persen selama 6 bulan yang akan datang dan 17,3 persen tahun berikutnya.

Wall Street sangat menyukai paruh kedua dari masa jabatan seorang Presiden baru.  Setelah Presiden Obama menerapkan agendanya selama dua tahun pertama, ia hanya akan mempertahankannya untuk dua tahun berikutnya tanpa mengambil kebijakan yang baru.  Berarti investor dapat memanfaatkan Presidential Election Cycle rally yang akan berlangsung hingga November 2012 karena hal itu sudah terjadi dalam setiap SIKLUS PRESIDENSIAL sejak 1945!

Kondisi teknikal indeks saham AS dan Asia

Setelah membahas kondisi pasar secara fundamental, mari kita meneliti beberapa grafik untuk memutuskan apakah sekarang saat yang tepat untuk membeli, menjual, atau menahan diri saja.

Grafik mingguan dari Dow Jones diatas ini memperlihatkan bahwa kita kemungkinan menyaksikan pembentukan wave atau gelombang C pada saat ini.  Wave C bersifat korektif dan pada umumnya turun setidaknya sampai level terendah dari wave A atau wave 4 sebelumnya. Juga perhatikan trend line pada RSI atau Relative Strength Index yang masih turun terus dan telah mencatat dua lower highs pada 78.63 dan 64.61.  Selama trend line tersebut tidak berhasil dipecahkan keatas, indeks Dow Jones tetap akan cenderung bearish dan melanjutkan penurunannya dan/atau konsolidasinya. Selain itu MACD histogram juga masih berada di bawah garis 0, dan MACD lines pun belum melakukan sebuah cross-up.  Maka untuk sementara waktu investor sebaiknya menahan diri sampai ada sinyal beli yang kuat di weekly chart.

 

Lalu grafik harian diatas ini juga memberikan gambaran yang hampir sama dimana indeks saham Dow Jones mengalami kesulitan dalam seminggu terakhir untuk ditutupi diatas 12,500, sedangkan MACD lines hampir saja menandai sebuah sell signal lewat dead cross. Sekali lagi jika terjadi suatu koreksi lanjutan dalam beberapa minggu kedepan, target minimum adalah 11,862.53.

 

Grafik harian dari Nikkei diatas dengan jelas memperlihatkan bahwa indeks saham Jepang sedang berkonsolidasi antara 9,317 dan 10,017 atau dalam kisaran sebesar 700 poin.  Selama tidak ada breakout yang dapat bertahan selama 2 minggu diatas kisaran tersebut, Nikkei masih cenderung akan melanjutkan konsolidasinya.  Juga waspadailah MACD lines yang kemungkinan akan cross down minggu ini dan memberikan sebuah sell signal.

 

Sementara secara bulanan indeks Nikkei tetap bullish dalam jangka panjang (lihat grafik diatas ini), dengan target antara 11,313.60 dan 13,981.70 untuk beberapa bulan kedepan.  Artinya buy on weakness adalah siasat yang paling tepat, jadi jangan panik apabila bursa saham Jepang terkoreksi terlebih dahulu.

 

Untuk indeks Kospi ada 2 kemungkinan pada saat ini: bursa saham Korsel telah menyelesaikan koreksinya (dalam bentuk A-B-C) dan mencapai level terendahnya dalam jangka menengah di sekitar 265, atau sedang membentuk wave C dan masih berpeluang turun lebih jauh.  Lalu hampir sama halnya dengan indeks Nikkei, MACD lines baru saja memberikan sebuah sell signal dan RSI hanya mampu mendekati middle line disekitar 50.

 

Namun secara bulanan uptrend masih utuh dan kemungkinan berada dalam wave 5 yang belum terselesaikan sepenuhnya, jadi investor juga disarankan untuk beli ketika terjadi koreksi yang cukup dalam.

 

Indeks Hang Seng terlihat paling lemah dan bergerak didalam sebuah downtrending channel yang mulai terbentuk sejak bulan November 2010.  Ditambah MACD lines yang sudah kembali memberikan sebuah sell signal, dan RSI yang makin mendekati daerah oversold lagi.

 

Bursa saham Hong Kong sudah berkonsolidasi selama berbulan-bulan dan seolah-olah terjebak antara fibonacci retracement sebesar 50% dan 61.8% yang masing-masing berada di 21,317.35 dan 23,828.64.  Sementara Relative Strength Index makin turun dan MACD lines telah cross down.  Sekarang ada dua kemungkinan: jika indeks Hang Seng terkoreksi lebih dalam, bisa saja fibonacci retracement sebesar 38.2% akan menjadi support dan sekaligus suatu titik masuk yang menarik.  Namun apabila menguat lagi, targets terdekat adalah 23,828.64, high pada kuartal keempat tahun 2010 di 24,988.57 dan high selama kuartal kedua 2008 di 26,387.37.

 

Terakhir IHSG atau indeks harga saham gabungan adalah salah satu indeks terkuat di dunia belakangan ini, dan berhasil mencetak rekor demi rekor.  Ini tentunya berhubungan dengan investment grade yang segera akan diperoleh oleh Indonesia maupun aliran dana investor asing yang membanjiri bursa saham domestik secara terus-menerus.  Dalam jangka pendek IHSG kemungkinan akan berkisar antara 3,872 sebagai support dan 4,100 sebagai resistance.

 

Uptrend juga terlihat dengan jelas pada grafik mingguan diatas ini.  Sejak awal tahun 2009 bursa saham Indonesia bertahan di atas SMA-40 (atau sama dengan moving average selama 200 hari di grafik harian) yang kini berada di sekitar 3,680. Target yang saya tetapkan pada awal tahun ini, yaitu antara 4,200 dan 4,500, belum berubah dan sudah berada didepan mata.

 

Kesimpulan

Jika Anda bingung setelah membaca sejauh ini mengenai arah pergerakan bursa saham AS dan regional kedepan, saya ingin menegaskan bahwa dalam jangka pendek (bulan Juli dan Agustus) saya cenderung bearish, dalam jangka menengah (setahun kedepan) bullish dan dalam jangka panjang (sampai 2015, terutama untuk bursa saham AS, Eropa dan juga Inggris) bearish.

Pada saat ini hanya ada dua opsi yang dapat diterapkan dalam beberapa bulan mendatang.  Bank sentral di negara Barat bisa melanjutkan QE to infinity – program pelonggaran moneter yang tidak terbatas – yang akan mengakibatkan tingkat inflasi yang tinggi.  Atau … pemerintahan yang mempunyai defisit anggaran yang besar dapat memaksa penghematan, yang kemungkinan akan menyebabkan sebuah depresi yang mirip dengan tahun 1930an.

Maka boleh dikatakan bahwa pilihan adalah antara INFLASI atau DEPRESI.  Dengan jumlah penganggur yang diperkirakan tidak akan berkurang secara signifikan dan pemilihan Presiden yang akan dilaksanakan pada tahun 2012, saya berpendapat the Fed akan terpaksa memberikan stimulus tambahan, dan pada akhirnya mendorong bursa saham maupun memicu inflasi yang lebih tinggi.

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu Anda dalam mengambil keputusan investasi yang menguntungkan!

Categories: Pasar Internasional Tags:
  1. sbastian
    July 19th, 2011 at 09:41 | #1

    mumet saya pak..belum bisa baca grafik…thx atas pencerahannya anyway!

  2. Budiman
    July 22nd, 2011 at 07:32 | #2

    saya sebelumnya sering membaca ulasan dari pak NICO di harian kontan online dan menurut saya sangat bermanfaat, hingga saat ini saya tetap mengikuti berita yg ditulis pak Nico dan setelah membaca serta mengikuti perkembangan ttg kondisi diamerika dan eropa saya sendiri kadang menjadi bingung sehingga ada yg ingin saya tanyakan kepada pak Nico.

    Jika ekonomi dieropa terjadi krisis karena masalah italy dan spanyol benar2 terjadi apa yg akan terjadi dengan US dollar dan emas? Disamping itu apabila QE tahap 3 benar2 dilaksanakan apakah US dollar akan melemah dan emas melambung melihat fakta bahwa kondisi di eropa jg tidak begitu bagus?

    Bagaimana dengan prospek mata uang australia AUD bila ekonomi di RRC terjadi hard landing? apakah peluang terjadinya hard landing di RRC besar karena menurut saya biasanya negara RRC sangat mengutamakan stabilitas dan mereka biasanya berhasil dalam mengatur kebijakan ekonominya? pertanyaan terakhir disebutkan bahwa eropa dan amerika masih mengalami krisis mengapa harga minyak dunia masih begitu tinggi padahal perekonomian telah melambat dan ini sangat tidak logis menurut saya? mohon pendapat dari pak Nico.

    Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih atas berita2 yang bermanfaat dari pak Nico. Sukses selalu utk Bapak Nico Omer.

  3. July 24th, 2011 at 08:41 | #3

    Thank you for contribution, very useful article

  4. August 11th, 2011 at 06:41 | #4

    jadi index saham AS dan Asia bisa menjanjikan lebih lama dibanding yang lain ya Pak Nico?

  1. No trackbacks yet.