Archive

Archive for August, 2011

Badai pasti berlalu di pasar emas

August 26th, 2011 3 comments

“Gold, unlike all other commodities, is a currency … and the major thrust in the demand for gold is not for jewelry.  It’s not for anything other than an escape from what is perceived to be a fiat money system, paper money, that seems to be deteriorating.”

-Alan Greenspan, August 23, 2011-

Berhubungan saya mendapatkan begitu banyak pertanyaan mengenai penurunan harga emas dalam tiga hari terakhir, saya memutuskan untuk memberikan sebuah update dengan grafik harian agar Anda mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang kondisi teknikal terkini.  Pada dasarnya ada tiga alas an utama mengapa emas anjlok:

1) Banyak orang telah membeli emas ketika harganya masih di $1,500an/oz sampai $1,700an/oz, jadi sebagian diantaranya menilai sudah saatnya untuk mengambil untung terlebih dahulu.  Jangan lupa bahwa emas memang naik dengan cepat dalam waktu yang sangat singkat, dimana harganya telah meningkat hampir 35% atau $500/oz sejak Januari 2011.  Bahkan dari 1 Juli hingga 23 Agustus harga emas melonjak dari $1,478.01/oz ke $1,911.46/oz!

2) Salah satu katalis yang juga menekan harga emas adalah kenaikan gold margins di Shanghai Gold Exchange sebesar 26%.  Selain itu the CME (Chicago Mercantile Exchange) Group Inc., yang merupakan perusahaan induk dari bursa-bursa utama yang memperdagangkan logam dan energi di Amerika Serikat, pun menaikkan margin requirements di pasar emas untuk kedua kalinya bulan ini.  Untuk bertransaksi kontrak emas investor pada saat ini memerlukan jaminan senilai $9,450 per 100-ounce contract, atau 27% lebih tinggi (dibandingkan/daripada) sebelumnya.

3) Seperti dapat Anda lihat pada grafik harian diatas ini, harga emas mengalami akselerasi yang luar biasa dalam dua pekan terakhir sebelum mencapai level tertingginya sepanjang sejarah di $1,911.46/oz.  Bersamaan dengan itu, RSI menunjukkan sebuah bearish divergence dan MACD – pada grafik mingguan – tidak pernah setinggi itu dalam lebih dari 30 tahun.  Maka koreksi ini adalah sangat wajar, dan hanya bersifat sementara saja.

Target koreksi sendiri terletak antara $1,694.74/oz dan $1,745.88/oz, yang masing-masing merupakan 50% dan 38,2% fibonacci retracements.  Jadi low pada hari Kamis 25 Agustus di $1,703.90/oz kemungkinan adalah level terendah dari koreksi yang berlangsung sekarang.

Kesimpulan

Secara fundamental tidak ada perubahan sama sekali.  Tren utama pun tetap bullish, maka buy on weakness adalah siasat yang paling bijaksana.

Kepercayaan saya terhadap emas sebagai suatu investasi yang menjanjikan tidak tergoyah sedikitpun.  Pada akhirnya emas masih merupakan sebuah safe haven maupun inflation hedge yang terbaik dalam kondisi perekonomian yang mengarah kepada STAGFLASI (atau pertumbuhan ekonomi di negara maju yang stagnan dibarengi dengan inflasi yang tinggi).

Koreksi adalah hal yang biasa dan merupakan bagian dari uptrend.  Mudah-mudahan Anda dapat menerimanya secara tenang karena VOLATILITAS tetap akan tinggi sekali dalam beberapa tahun kedepan.

Dan … sebagai pengetahuan Anda saja, saya masih mempertahankan target emas di $1,935.15/oz untuk kuartal keempat tahun ini dan tidak akan terkejut apabila harga emas melebihi $2,000/oz sebelum tahun ini usai.

Selamat berinvestasi di pasar emas dan semoga sukses selalu!

Categories: Pasar Internasional Tags:

”Kereta emas” melaju terus

August 23rd, 2011 11 comments

“Even though critics will not tire of discrediting gold as the barbarous relic and yesterday’s money that has no place in modern society, we would like to ask the question what timeline they have looked at. “Natural laws” such as “property prices don’t fall”, “US Treasuries are risk-free”, or “The Earth is flat” may have applied in the (recent) past, but if we broaden the (time) horizon, we find that the picture changes.  The mere extrapolation of the past leads to disastrous results in the long term.  Gold on the other hand has a track record of 6000 years as the currency of last resort and has never turned worthless.”

-Ronald-Peter Stöferle, In GOLD we TRUST-

Pagi ini emas kembali membukukan level tertinggi sepanjang sejarah di $1,911.46/oz, dan seolah-olah merupakan sebuah kereta yang telah meninggalkan stasiunnya dan tidak dapat dihentikan oleh apapun atau siapapun.  Meskipun volatilitasnya agak menurun pada awal pekan lalu dengan kisaran rata-rata sebesar $25, akhirnya emas breakout lagi pada hari Kamis dimana range harian meningkat hampir dua kali lipat ke $46 selama tiga hari perdagangan terakhir.

Ternyata trading plan yang saya berikan di artikel sebelumnya cukup mapan dan menghasilkan return yang memuaskan: “Maka ada dua opsi untuk investor yang ingin membeli emas pada saat ini, yaitu menunggu sampai emas terkoreksi antara $1,685/oz dan $1,735/oz atau membeli emas ketika resistance di sekitar $1,770/oz ditembus.

Pada kenyataan emas hanya memasuki buying zone tersebut pada 12 Agustus di $1,723.95/oz maupun 15 Agustus di $1,729.10/oz, dan cuman me-retrace sekitar 23,6% dari gerakan sebelumnya dari $1,478.01/oz hingga $1,813.79/oz.  Berarti the bulls are very strong belakangan ini dan mengendalikan pasar emas sepenuhnya!

Pertarungan antara emas dan uang kertas berlanjut

“In effect, there is nothing inherently wrong with fiat money, provided we get perfect authority and god-like intelligence for kings.”

-Aristotle-

Setelah emas berkonsolidasi selama 2 bulan antara Mei dan Juni, harganya beranjak naik terus karena makin banyak investor menyadari bahwa hanya ada satu mata uang yang mereka bisa percayai.  Coba saja menjawab pertanyaan berikut ini: “Mata uang apa yang tidak pernah akan menghilang dari muka bumi ini dan mempertahankan nilainya ketika suatu krisis global mengancam perekonomian dunia?”  Apabila jawaban Anda EMAS, Anda pun mulai memahami aset ini merupakan satu-satunya uang yang sesungguhnya!

Seperti saya katakan dalam artikel sebelumnya, emas lebih dari sekedar sebuah komoditas.  Selain itu, emas menawarkan suatu cara yang sederhana untuk mendiversifikasi maupun mengurangi volatilitas dari portofolio Anda sebab korelasinya dengan asset classes yang lainnya rendah.  Selanjutnya emas tidak mengandung liquidity risk atau credit risk, dan sama sekali tidak bisa default karena tidak ada counterparty risk.

Nah, mengapa emas akhir-akhir ini makin sedikit dipandang sebagai sebuah komoditas?  Jika Anda meneliti grafik dibawah ini, yang menampilkan harga emas dibandingkan harga komoditas secara umum, Anda pasti akan bisa menemukan jawabannya.

Jelas terlihat bahwa harga emas sudah naik lebih dari 100% sejak akhir tahun 2008, sementara sector komoditas hanya berhasil rebound secara terbatas.  Biasanya emas memang bergerak seirama dengan sektor komoditas secara umum, namun korelasi tersebut mulai terputus pada akhir 2008.  Dengan kata lain, kemerosotan pasar komoditas menunjukkan perekonomian global mengalami kesulitan, sedangkan harga emas yang membubung tinggi membuktikan dolar AS – dan juga uang kertas lainnya – sedang bermasalah.

Nasib US dollar kurang baik

“The U.S. dollar is an ‘I owe you nothing’ …   and the Euro is a ‘who owes you nothing.”

-Doug Casey-

Setelah the Fed mengatakan tingkat suku bunga akan dipertahankan antara 0% dan 0,25% setidaknya sampai pertengahan tahun 2013, bank sentral AS pada dasarnya memberitahu kepada pelaku pasar bahwa mereka tetap akan menerapkan sebuah kebijakan moneter yang sangat longgar selama 2 tahun kedepan.  Tentunya kebijakan tersebut secara tidak langsung akan menurunkan nilai tukar dolar AS, yang pada gilirannya akan memanfaati emas.

Di samping itu, kini ada dua BOM WAKTU yang dapat mengancam posisi dolar AS sebagai the world reserve currency, yaitu trilyunan US dollars yang berada diluar Amerika Serikat (yang bisa mengalir kembali ke AS dengan cepat) dan trilyunan dolar AS didalam Amerika Serikat yang dicetak untuk menyelamatkan sistem perbankan pada tahun 2008.  Mengapa demikian?

Pertama, trilyunan dolar AS yang diciptakan pada waktu ekonomi Amerika Serikat mengalami resesi hanya ditahan oleh bank saja.  Ini terjadi karena konsumen maupun perusahaan tidak mau menambah hutang lagi, dan bank pun takut untuk meminjamkan uang selama resikonya terlalu tinggi.  Maka pemberian kredit sangat minim pada saat ini, tetapi situasi itu tidak akan selalu demikian.  Ketika sekian banyak US dollars mulai membanjiri perekonomian, harga barang maupun jasa berpeluang naik secara tiba-tiba.

Lalu bagaimana jika investor asing memutuskan untuk melepas sebagian dari obligasi pemerintah AS yang mereka pegang?  Sekarang saja berbagai bank sentral dan investor institusi lainnya memegang sekitar 6 sampai 7 trillion US dollars jadi mereka makin gelisah setelah peringkat hutang Amerika Serikat di-downgrade.  Bayangkan apabila beberapa investor institusi yang besar secara mendadak menjual kepemilikan aset mereka yang berdenominasi dolar AS, dan menimbulkan suatu kepanikan global dimana semua pihak berbalap untuk “membebaskan dirinya” dari US dollars

Seperti dapat Anda lihat pada grafik harian diatas ini, tidak ada indikasi apapun bahwa Dollar Index akan rebound dalam waktu dekat.  Sejak awal bulan Mei lalu dolar AS hanya mampu berkonsolidasi terhadap mata uang utama dunia lainnya, dan masih tertahan di bawah SMA-50 maupun SMA-200.  Pendek kata, indeks dolar tetap bearish dan kemungkinan besar akan melanjutkan penurunannya pada saat support-nya ditembus.

Bulan September yang menggembirakan

Secara tradisional bulan September menandakan mulanya dari gift-giving season untuk emas.  Banyak hari raya maupun festival diadakan selama beberapa bulan kedepan, terutama di India maupun Cina, yang menyebabkan permintaan untuk emas melonjak (lihat gambar dibawah ini).

Selain faktor musiman tersebut, adapun siklus 2-tahunan yang mengulangi dirinya setiap tahun ganjil pada bulan September.  Lihat saja tabel dan grafik dibawah ini, yang menunjukkan fenomena itu dengan jelas.

Akan sungguh menarik untuk menyaksikan apakah pasar emas akan kembali menggeliat pada bulan September 2011 atau tidak, dan apakah kenaikan rata-rata sebesar 6,8% dapat dilebihi.  Only time will tell of course

Bubble oh bubble … dimanakah engkau?

“The run-up to the peak in markets like gold is between now and 2015. I think it will all be over by 2015, a lot of it depends on how aggressively paper monies get printed from here on in.  I think $3,000 is an absolute minimum target.  I can believe in targets certainly above $5,000 and it’s theoretically possible to go to $12,000, that’s dollars an ounce for gold. If Mr. Bernanke stays on his current agenda I think those higher numbers will be what you will see.  We’re looking at the trashing of the dollar.”

-Robin Griffiths of Cazenove-

Ketika saya memberikan sebuah seminar mengenai emas dan bertanya apakah investor telah membeli emas, kebanyakan orang malahan mengatakan bahwa mereka takut harganya sudah terlampau tinggi.  Banyak diantaranya juga menyampaikan ini kemungkinan hanya sebuah bubble atau gelembung yang sedang mencari sebuah jarum untuk dipecahkan.

Saya mengakui memang tidak mudah untuk membeli emas setelah harganya telah meroket lebih dari 500% selama dasawarsa terakhir.  Mungkin agak membuat hati berdebar-debar untuk membeli emas diatas $1,800/oz, tetapi saya secara pribadi lebih khawatir apabila tidak memilikinya sama sekali.

Sayang tapi nyata, meskipun sekian banyak faktor mendukung emas pada saat ini, mayoritas dari investor (profesional sekalipun) tetap menolak untuk menganggap emas sebagai suatu asset class yang pantas untuk dimiliki.  Berapa orang yang Anda kenal sudah mempunyai emas dalam bentuk koin atau batangan (kecil ataupun besar)?  Mungkin saja hanya Anda seorang diri diantara teman yang berinvestasi didalamnya.  Oleh karena itu, jumlah pembeli emas jauh mengungguli jumlah orang yang sedang memegangnya.

Anda pasti sudah seringkali membaca atau mendengar orang berseru bahwa emas terlalu beresiko atau mahal, dan pada dasarnya merupakan sebuah benda mati yang tidak memberikan penghasilan apapun.  Namun orang yang sama menyatakan hal demikian ketika harga emas mencapai $1,000/oz, lalu $1,500/oz dan awal pekan ini bahkan sudah $1,900/oz.  Saran ini terbukti sangat merugikan untuk orang yang mengikutinya sebab emas tetap saja melanjutkan uptrend-nya.

Jadi apakah pasar emas membentuk suatu bubble atau bagaimana?  Menurut penghematan saya, the mania phase atau tahap terakhir dari bull market baru saja dimulai dan harga emas masih akan jauh lebih tinggi dari sekarang.  Secara sederhana pasar emas tetap akan bullish kedepan karena investor sedang mencari suatu tempat yang aman untuk mempertahankan kekayaan mereka.

Semua bank sentral kini berupaya sekeras mungkin untuk melemahkan mata uang mereka agar dapat membayar hutang kembali dengan uang yang lebih “murah”.  Lagipula mereka juga hampir tidak menawarkan suatu return sama sekali – mengingat real interest rates pada saat ini negatif di negara maju – dan mencetak uang secara terus-menerus untuk menutupi defisit anggarannya.

Maka jangan heran apabila makin banyak investor ingin memiliki satu-satunya aset yang tidak bisa dimanipulasi, dicetak, didevaluasi maupun hilang dari peredaran dan/atau mengalami default, yaitu EMAS yang akan menjadi the last man standing atau aset yang terpilih ketika terjadi sebuah krisis global!

Bayangkan jika begitu banyak investor (individual maupun institusi), perusahaan dan bank sentral tiba-tiba ingin memborong emas pada saat yang sama dan apa dampaknya terhadap arah pergerakan harga …  Maka berdasarkan asumsi itu saya berani memprediksi bahwa bubble yang sesungguhnya masih berada didepan kita.

Belakangan ini saya juga mulai makin curiga bahwa kita kemungkinan akan menyaksikan kenaikan yang cukup signifikan dalam beberapa bulan kedepan, yang mungkin mirip dengan periode kuartal ketiga 2007 hingga kuartal pertama 2008.  Seperti dapat Anda lihat pada grafik harian diatas ini, dari 16 Agustus 2007 sampai 17 Maret 2008 emas menguat dari $641.10/oz hingga $1,030.80/oz atau sebesar 60,8%!

Jika emas kini mengalami kenaikan yang serupa dari $1,478.01/oz, harganya dapat (melaju/meroket) ke $2,376.64/oz.  Dan … kebetulan atau tidak, level tersebut hampir sama dengan inflation-adjusted high atau level tertinggi sepanjang sejarah yang disesuaikan untuk inflasi di sekitar $2,400/oz (lihat grafik dibawah ini).

Kesimpulan

“Up until August 15, 1971, there has never in history been an era when no paper currency was linked to Gold.  The history of money is replete with instances of coin clipping, printing, debt defaults, and the other attendant ills of currency debasement.  In all other eras of history, people could always escape to other currencies, whose Gold backing remained intact.  But since 1971, there is no escape because no paper currency has any link to Gold. All of the economic, monetary, and financial upheaval of  the past 40 years is a direct result of this fact. The global paper currency system is very young.  It depends for its continued functioning on the belief that the debt upon which it is based will, someday, be repaid.  The one thing, above all others, that could shake that faith, and therefore the foundations of the modern financial system itself, is a rise (especially a sharp rise) in the U.S. Dollar price of Gold.”

-Bill Buckler, The Privateer-

Apabila Anda masih belum yakin harga emas akan naik, naik, dan … naik lebih jauh lagi, coba saja meneliti tabel berikut ini:

Selama kebanyakan pemerintahan di dunia tetap tidak mampu untuk mengendalikan pengeluaran mereka, menumpuk hutang yang makin besar, membiarkan defisit anggaran membengkak dan mencetak uang dalam jumlah yang tidak terbatas, uang kertas akan kehilangan nilainya dan harga emas akan makin tinggi.  Dengan demikian cara yang paling ampuh untuk mengamankan portofolio maupun mempertahankan kekayaan Anda dari krisis moneter yang akan datang adalah logam mulia, baik emas dan perak.

Selamat berinvestasi dan semoga sukses selalu!

Categories: Pasar Internasional Tags:

Peringkat Amerika Serikat AA+, tetapi … peringkat emas AAA

August 15th, 2011 4 comments

Pekan yang lalu harga emas dunia kembali melambung ke level tertinggi sepanjang sejarah di USD1,813.79/toz, dimana pergerakan harian sesi Kamis 11 Agustus terhitung merupakan salah satu pergerakan terbesar sepanjang masa dengan kisaran sebesar USD80.94.  Kenaikan ini terdorong berbagai factor yang mendukung minat investor pada aset safe haven.

Minat investor pada emas mendapat sokongan dari muramnya data PDB Amerika Serikat untuk kuartal kedua yang tercatat hanya tumbuh 1,3% serta berlanjutnya kekhawatiran pada krisis hutang AS dan Uni Eropa.  Peringkat kredit Amerika Serikat – setelah Standard & Poor’s memangkas peringkatnya dari AAA ke AA+ – dan beberapa negara di zona Eropa juga berpotensi mengalami pemangkasan lebih lanjut sehubungan keraguan pada berhasilnya penanganan hutang di masing-masing kawasan tersebut.

Pertumbuhan ekonomi AS terbukti tidak banyak terbantu oleh program quantitative easing kedua dan untuk mengatasinya the Fed diperkirakan akan meluncurkan program pelonggaran moneter berikutnya.  Kondisi tersebut tentunya akan menjadikan tingkat suku bunga bank sentral AS bertahan di level terendahnya untuk jangka waktu yang sangat lama, dan pada gilirannya mendorong permintaan untuk emas karena real interest rates akan tetap negatif kedepan.

Turut mendukung penguatan harga emas adalah langkah ECB atau European Central Bank yang membeli obligasi Italia dan Spanyol sebesar 2 milyar euro untuk mencegah menjalarnya krisis kredit pada kedua negara tersebut.  Langkah ini oleh investor dilihat sebagai pintu masuk bagi pelaksanaan program quantitative easing seperti yang dilakukan the Fed.

Sementara itu dilaporkan bahwa bank sentral Korea Selatan melakukan pembelian emas untuk pertama kalinya dalam lebih dari 1 dekade terakhir sebanyak 25 ton pada rentang antara Juni hingga Juli sebagai upaya diversifikasi cadangan devisanya, meskipun harga emas tengah mencapai level tertingginya.  Berita tersebut kemudian menguatkan pandangan bahwa saat ini mayoritas investor, asset managers dan bahkan bank sentral global menggunakan emas sebagai mekanisme lindung nilai utama terhadap pergerakan portofolio investasi lainnya ditengah kondisi ketidakpastian ekonomi global.

Namun pada dua sesi perdagangan terakhir pekan lalu emas tercatat melemah 2,7% ke USD1,740.30/toz menyusul naiknya minat investor pada aset beresiko yang kemudian memicu aksi ambil untung pada emas.  Meskipun demikian, dalam sepekan terakhir emas masih mencatat penguatan tajam 5% yang merupakan kenaikan mingguan terbesar sejak awal November 2008 silam.  Bahkan dalam dua pekan terakhir emas mencatat penguatan sebesar 13%.

Selanjutnya Goldman Sachs saat ini menaikkan estimasi harga emas hingga akhir tahun ke USD1,860/toz, sedangkan analis lain mengatakan tidak lama lagi emas akan menembus USD2,000/tozJPMorgan bahkan menyebut kenaikan ke USD1,800/toz hingga akhir tahun sangat konservatif atau boleh dibilang sangat mungkin dan merupakan target yang tidak terlalu sulit untuk tercapai.  Oleh karena itu, JPMorgan sendiri memprediksi hingga akhir tahun emas akan mencapai setidaknya USD2,500/toz dengan volatilitas perdagangan yang sangat besar!

AS dan Eropa tenggelam dalam lautan hutang

“There is, of course, great conjecture that Gold prices will once again correct – perhaps severely – when the US government raises its Treasury’s debt limit.  That might happen.  It might indeed be a long-lived and deeper “correction” than was the one in anticipation of the European summit.  The problem is that if and when the US government does raise the limit, nothing will have changed, least of all for the better.  The debts will still be growing.  The REAL economy will still be moribund.  And the yawning chasm between the talk and the actions of politicians everywhere will be even more blatantly obvious than it is now – for anyone who wants to see it.”

-Bill Buckler, Gold This Week, July 23, 2011-

Salah satu hal yang perlu diingat oleh semua investor adalah bahwa Amerika Serikat kini hanya dapat melunasi hutang lamanya dengan menerbitkan obligasi pemerintah yang baru.  Sebagai contohnya hampir $500 billion U.S. Treasuries akan jatuh tempo pada bulan ini, menurut the Bipartisan Policy Center (lihat tabel dibawah ini).

Jumlah tersebut belum memperhitungkan defisit anggaran selama bulan Agustus senilai $159 billion, jadi pemerintah akan memerlukan $635.5 billion untuk menutupi seluruh pengeluarannya.  Dengan kata lain, hutang tersebut lebih banyak daripada program quantitative easing kedua dari bulan November hingga Juni lalu sebesar $600 billion!

Lalu menurut the U.S. Government Accountability Office, sekitar $3 trillion hutang jatuh tempo selama 4 tahun yang mendatang.  Maka boleh dikatakan bahwa Amerika Serikat kedepan tetap akan meminjam uang secara terus-menerus untuk melunasi uang yang mereka telah pinjam sebelumnya.  Dan … itupun tanpa mempertimbangkan defisit anggaran yang kini lebih dari $1 trillion setiap tahun fiskal sejak krisis keuangan melanda perekonomian dunia pada 2008-09.

Bahkan peningkatan dalam the debt ceiling tidak akan menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Amerika Serikat karena ini hanya memberikan izin kepada Kementerian Keuangan AS untuk membelanjakan dan meminjam lebih banyak uang.  Artinya dalam jangka menengah-panjang peredaran uang akan meningkat terus dan merupakan salah satu faktor yang sangat bullish untuk emas.

Coba saja melihat grafik dibawah ini yang menunjukkan hubungan antara jumlah hutang AS, the US debt limit dan pergerakan harga emas.  Tidak dapat dipungkiri bahwa memang ada korelasi yang “gaib” antara kenaikan harga emas dan peningkatan dalam the US debt ceiling, yang telah bertahan selama 30 tahun terakhir.

Lalu situasi di Eropa juga tidak menggembirakan belakangan ini. Bukan tidak mungkin kita akan menghadapi suatu krisis perbankan di Eropa, yang malahan bisa lebih parah dibandingkan subprime crisis.  Seperti kita ketahui, Yunani, Irlandia, dan juga Portugal sudah diberikan sebuah bailout, tetapi sekarang Spanyol dan Italia pun mempunyai banyak masalah.  Yield atau tingkat suku bunga untuk obligasi pemerintah mereka telah naik lebih dari 1% hanya dalam sebulan, dan Italia misalnya harus meng-roll over jumlah hutang yang besar dalam 5 tahun yang akan datang (lihat grafik dibawah ini).

Krisis hutang, baik di Eropa maupun di Amerika Serikat, jelas-jelas tidak akan terpecahkan dalam beberapa tahun mendatang.  Oleh karena itu, harga emas tetap akan cenderung menguat dan mungkin saja mencapai USD2,000/toz sebelum tahun ini berakhir.

Pada akhirnya emas masih berfungsi sebagai suatu SAFE HAVEN.  Yang paling ditakuti oleh investor pada saat ini adalah counterparty risk, yang makin meningkat di berbagai negara maju seiring dengan penurunan peringkat hutangnya, dan naiknya CDS (credit default swaps) maupun suku bunga masing-masing atas obligasi pemerintahnya.  Maka jangan heran apabila pelaku pasar merasa nyaman sekali dengan memegang emas, yang sama sekali tidak bisa mengalami default atau gagal bayar!

Emas bukan sebuah komoditas, tetapi suatu mata uang

“When Bernanke was asked if gold was money, he answered “No.”  When Bernanke was asked why the US held the largest hoard of gold of any nation on earth, he answered, “Convention.”  My take – Bernanke is either dishonest, a liar or ignorant.  Take your choice.  My choice – he’s up against the wall and dishonest.  The Federal Reserve is all about fiat money.  Is it any wonder that the Fed Chairman had to deny that gold is money?”

-Richard Russell-

Hutang di AS, Eropa maupun Jepang, yang makin tumbuh besar dari tahun ke tahun, akan mengikis nilai mata uang mereka dan mendorong investor dari uang kertas kedalam hard assets seperti emas.  Pemerintahan di berbagai negara kedepan tetap akan mencetak uang dalam jumlah yang tidak terbatas, sebab sekian banyak uang akan dibutuhkan untuk menyelamatkan bank besar dan perekonomian secara keseluruhan agar dunia tidak segera memasuki masa yang kelam.

Pada gilirannya pencetakan uang tanpa henti akan mengakibatkan devaluasi mata uang utama dunia terhadap emas (dan juga perak), yang merupakan satu-satunya bentuk uang yang tidak bisa dimanipulasi.  Maka seharusnya setiap investor menanamkan setidaknya 5% sampai 10% dari portofolionya dalam emas atau perak supaya dapat mempertahankan kekayaannya terhadap inflasi.

Misalnya grafik dibawah ini memperlihatkan secara terang-terangan hubungan antara harga emas dan dollar index yang disesuaikan untuk inflasi.  Sangat mudah untuk menyimpulkan bahwa dolar AS telah kehilangan 25% dari daya belinya sejak awal tahun 2000, sementara emas di sisi lain tidak hanya mampu untuk menjaga daya belinya tetapi malahan berhasil untuk meningkatkannya.

Pada tanggal 5 Agustus lalu, ketika S&P’s meng-downgrade hutang AS dari AAA ke AA+, dolar AS secara resmi kehilangan peranannya sebagai mata uang yang aman.  Maka tidak perlu imaginasi yang tinggi untuk membayangkan bahwa emas di masa mendatang kemungkinan besar akan menjadi mata uang pilihan, mengingat banyak mata uang lainnya pun sedang “dihancurkan”.

Akhirnya Commerzbank secara jelas mengatakannya dengan singkat mengapa peran emas sebagai sebuah mata uang tidak dapat cukup dibesar-besarkan: “Driven by concerns on sovereign debt in Europe and the US, many market participants are currently piling into gold, because they believe it provides protection against purchasing power erosion due to inflation and currency devaluation.  The yellow metal is viewed not only as a safe haven and store of value, but increasingly as an ‘alternative currency’ too.”

Technical outlook

 

 

 

 

 

“Gold will not just go through the roof, it will go to the moon. The gold mania has not even started.”

-Doug Casey-

 

 

 

 

 

 

Pekan yang lalu VOLATILITAS di pasar emas sungguh luar biasa tinggi dengan kisaran rata-rata sebesar USD60.20.  Saya secara pribadi tidak pernah menyaksikan kisaran sebesar itu, entah karena saya belum mengamati pasar emas pada tahun 1970an atau emas memang baru saja memasuki tahap yang akan dipenuhi dengan fluktuasi sebesar puluhan bahkan ratusan dolar AS per hari dan/atau minggu.

Seperti dapat Anda lihat pada grafik harian diatas ini, RSI atau Relative Strength Index kemarin sangat overbought dan mengindikasikan harga emas rentan terkoreksi dari penguatan yang signifikan dari USD1,478.01/toz hingga USD1,813.79/tozMACD lines pun telah lama tidak mencapai level setinggi ini.  Meskipun kedua indikator tersebut pada dasarnya menunjukkan bahwa pasar emas bullish sekali, suatu koreksi yang lumayan besar dibutuhkan untuk “mendinginkan” kepala pelaku pasar sebelum overheating.

Target koreksi dan sekaligus buying zone untuk emas sekarang terletak antara fibonacci retracements sebesar 38.2% dan 23.6%, yang masing-masing berada di USD1,685.52/toz dan USD1,734.54/tozLow-nya atau harga terendah pada hari Jumat yang lalu di USD1,723.95/toz sempat memasuki kisaran tersebut.

Lalu untuk sementara waktu resistance terletak di sekitar USD1,770/toz pada 4-hourly chart, yang tidak ditampilkan pada laporan ini.  Maka ada dua opsi untuk investor yang ingin membeli emas pada saat ini, yaitu menunggu sampai emas terkoreksi antara USD1,685/toz dan USD1,735/toz atau membeli emas ketika resistance ditembus.

Akhirnya target yang saya tetapkan dalam artikel dengan judul “Pilih yang mana: emas atau uang kertas?” pada 25 Juli lalu di USD1,740/toz hingga USD1,780/toz ternyata sudah terlampaui dalam waktu yang sangat singkat.  Oleh karena itu, saya memperpanjang time horizon-nya dan meneliti monthly chart untuk memperoleh target baru untuk emas di USD1,935.15/toz (lihat grafik dibawah ini).

Kedepan volatilitas akan menjadi makin besar jadi penggunaan dari stop loss seharusnya diperhatikan dengan seksama untuk menghindari kerugian yang fatal.  Maka pesan saya adalah: kunci sabuk pengaman secara erat karena pergerakan harga emas kedepan diperkirakan liar sekali.

Kesimpulan

“In the absence of the gold standard, there is no way to protect savings from confiscation through inflation. There is no safe store of value.”

-Alan Greenspan-

Saya setuju sekali dengan apa yang dikatakan oleh David Fuller dari www.fullermoney.com, yaitu “Gold is becoming like sex: everyone is interested in it whether they have any or not.” Ketertarikan terhadap emas luar biasa akhir-akhir ini, dan media massa mulai memberikan lebih banyak perhatian padanya dibandingkan sebelumnya.

Meskipun harga emas dibilang mahal, emas kemungkinan besar tetap akan melanjutkan penguatannya sebab investor yang bijaksana memahami bahwa hanya ada satu mata uang yang dapat dipercayai sepenuhnya dan tidak pernah akan hilang dari bumi ini: EMAS. Apabila berbagai bank sentral di dunia kembali melonggarkan kebijakan moneternya dalam beberapa bulan kedepan, investor akan makin kehilangan kepercayaan terhadap uang kertas dan emas akan naik tahta.

Pendek kata, inilah bukan waktunya untuk menjual emas (jika sudah punya), tetapi waktunya untuk mempertahankannya.  Hanya tinggal ingat kutipan dari Jesse Livermore saja: “Men who can both be right and sit tight are uncommon.  I found it one of the hardest things to learn.”

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu Anda dalam mengambil keputusan investasi yang menguntungkan!

Categories: Pasar Internasional Tags:

QE3 berada didepan mata

August 1st, 2011 13 comments

So, here’s the bottom line on money printing, or QE if you prefer. If nothing happens, the whole thing was a waste of time.  If inflation takes off, the Fed will have to choose between holding bonds and letting inflation get worse or selling bonds and going bankrupt in the process.  Since no entity goes down without a fight, the Fed will naturally hold the bonds and let inflation take off.  Do not ask about the exit strategy from QE; there is no exit.”

-Jim Rickards… November 5, 2010-

Setelah the Fed mencetak uang sebanyak 4 kali untuk mendorong ekonomi AS (lihat gambar dibawah ini), kini banyak investor bertanya-tanya apakah mungkin bank sentral AS akan mengusulkan QE3 dalam waktu dekat.

Sampai saat ini saya tetap berpendapat the Fed akan segera mempertimbangkan program pelonggaran moneter berikutnya, entah itu dengan nama QE3 atau terminologi yang lebih terselubung.

Ada dua alasan utama mengapa saya mempunyai keyakinan yang tinggi terhadap kebijakan tersebut:

1) The White House telah menghentikan kepura-puraannya dan mengakui dalam perkiraan terakhirnya untuk tahun fiskal 2011 bahwa defisit anggarannya kemungkinan akan bernilai $1.65 trillion, yang sekaligus merupakan suatu rekor tertinggi dalam sejarah.  Bahkan defisit sebesar 11,3% dari PDB adalah yang terbesar terhadap perekonomian secara keseluruhan sejak Perang Dunia Kedua.

Lalu menurut rencana dari Gedung Putih, hutang nasional secara resmi akan bertumbuh 50% dalam dasawarsa mendatang ke $21 trillion.  Maka mungkin saja Amerika Serikat akan mengalami sedikit kesulitan untuk meminjam begitu banyak uang, dan terpaksa MENCETAK UANG lagi.

Pada akhirnya, berbagai alasan yang diberikan oleh bank sentral AS untuk melanjutkan quantitative easing-nya hanyalah sebuah dalih saja.  Tujuan yang sesungguhnya dari QE2 (dan nanti QE3) adalah membunyikan ketidakmampuan dari the Treasury atau Kementerian Keuangan AS untuk membiayai hutangnya.

Dengan permintaan global untuk obligasi pemerintah AS yang turun secara terus-menerus, the Fed memang harus mencari sebuah alasan yang masuk akal agar dapat menggantikan pembeli dari luar negeri.  Jadi lewat penerapan QE2, QE3 dsb., bank sentral AS bisa monetize atau mencetak uang untuk membeli surat hutang AS supaya pelaku pasar tidak menyadari bahwa sebetulnya ada suatu masalah pendanaan.

Ketika the Federal Reserve baru saja menjalankan setengah dari QE2, data resmi menunjukkan bank sentral AS sudah melebihi Cina sebagai pemegang obligasi pemerintah AS terbesar didunia.  Maka jangan heran belakangan ini suatu lelucon muncul yang mengatakan the Fed sama dengan Fiat Excessively Distributed.

Seperti dapat Anda lihat pada grafik diatas ini, dulu bank sentral asing pada umumnya membeli 50% dari surat hutang AS, sementara investor Amerika Serikat 40% dan the Fed 10% saja.  Namun sejak bank sentral AS mulai mencetak uang dalam jumlah yang besar, kebanyakan investor di Amerika Serikat telah kehilangan kepercayaan sepenuhnya terhadap US dollar.

Oleh karena itu, selama QE2 diterapkan the Fed menyerap 70% dari Treasury Bonds sedangkan sisanya dibeli oleh investor asing.  Jadi yang paling mencekam kedepan adalah kenyataan bahwa negara lain, yang sebelumnya membeli 50% dari obligasi pemerintah AS, sedang mengurangi minatnya secara signifikan dan bahkan merasa fed up atau kesal dengan kebijakan moneter maupun fiskal AS.

Berarti jangan-jangan bank sentral AS pada akhirnya terpaksa harus MENCETAK UANG tanpa batas untuk menutupi defisit anggaran pemerintah yang tidak terkendali.

2) Data mengenai PRODUK DOMESTIK BRUTO AS, yang dirilis pada hari Jumat lalu, sama sekali tidak memberikan harapan pada investor untuk menghadapi masa depan penuh kepercayaan diri yang tinggi.  PDB untuk kuartal kedua misalnya hanya naik 1,3% dalam basis tahunan, sementara pertumbuhan dalam kuartal pertama direvisi turun tajam dari 1,9% ke 0,4% (lihat data dibawah ini)!

Percent change at annual rate                   Q-2     Q-1     Q-4     Q-3     Q-2

Gross domestic product                                            1.3       0.4       2.3       2.5       3.8

Personal consumption expenditures               0.1       2.1       3.6        2.6       2.9

Durable goods                                                              -4.4      11.8     17.2     8.8       7.8

Nondurable goods                                                      0.1       1.6       4.3       3.0       1.9

Services                                                                           0.8       0.8       1.3       1.6       2.5

Gross private domestic investment                7.1       3.8       -7.1      9.2       26.4

Fixed investment                                                       5.8       1.2       7.5       2.3       19.5

Exports                                                                           6.0       7.9       7.8       10.0     10.0

Imports                                                                         1.3       8.3       -2.3      12.3     21.6

Government consumption expenditures

and gross investment                                           -1.1      -5.9     -2.8      1.0       3.7

Real Final Sales                                                        1.1       0.0       4.2       1.7       3.0

Final Sales to Domestic Purchasers              0.5       0.4       2.7       2.3       4.9

Maka boleh dikatakan bahwa pemulihan ekonomi AS jelas-jelas telah kehilangan momentum-nya dan kemungkinan terancam mengalami resesi kembali pada kuartal ketiga.  Sebagai akibatnya bursa saham berpeluang anjlok lagi dalam waktu dekat, dan mendorong the U.S. Federal Reserve untuk segera mengumumkan putaran ketiga dari quantitative easing.

Peluang investasi

“With inflation heating up as far as American consumers are concerned, the pressure is on the Bernanke Fed to “cool it” on its quantitative easing. I think the stock market (now slumping) and the dollar (now rising) are reflecting this.  Thus the Fed might be setting off a temporary slump in the summer economy.  If so, Bernanke could announce, “See, if we ease up, the economy eases up as well.”  All of which strengthens the case for QE3.  Of course, President Obama would love a late pick-up in the US economy as the nation moves into the 2012 election period.”

-Richard Russell-

Harapan untuk QE3 belakangan ini merupakan suatu indikasi bahwa bursa saham pada dasarnya kecanduan terhadap likuiditas yang berlimpah dan stimulus tanpa henti.  Berdasarkan pengalaman sebelumnya dengan QE1 dan QE2, kemungkinan QE3 akan menjadi sebuah déjà vu dari kedua putaran terdahulu dimana aset yang berikut ini sangat menjanjikan:

1) Pertama-tama saya setuju sekali dengan apa yang dikatakan oleh Robin Griffiths dari Cazenove di London: “Central banks, trying to stimulate growth, are printing paper money into oblivion, and we’ve simply got to hedge that risk by owning gold.” Kini investor nampaknya sudah mengerti bahwa jika lebih banyak uang dipompa kedalam perekonomian dunia, tingkat inflasi akan naik dan nilai dolar AS akan makin turun.

Oleh karena itu tindakan yang paling bijaksana pada saat ini adalah membeli EMAS, yang dianggap sebagai inflation hedge yang terbukti dapat mempertahankan nilainya selama berabad-abad terhadap inflasi.  Menurut penghematan saya semua investor seharusnya menanamkan setidaknya 5% sampai 10% dari portofolio mereka dalam emas, agar tenang dalam menghadapi masa kelam yang akan datang.

2) Amerika Serikat dan negara maju lainnya kemungkinan besar akan mengalami pertumbuhan yang lambat disertai inflasi yang tinggi – atau dengan kata lain stagflasi – sedangkan PASAR BERKEMBANG seperti Indonesia diperkirakan akan tetap bertumbuh cepat.  Apalagi dengan berbagai bank sentral yang berencana mencetak uang terus, terlalu banyak dana akan mengejar saham di pasar berkembang yang kapitalisasi pasarnya masih relatif kecil.

Sebagai contohnya, net foreign buying di Indonesia telah berlangsung dari tahun 2003 hingga 2011, dan tahun ini bahkan melampaui pembelian bersih dari investor asing di negara berkembang lainnya di Asia diluar Cina.  Selanjutnya apabila Indonesia memperoleh investment grade, yakinlah bahwa investor institusi besar dari luar negeri akan makin memandang bursa saham di negeri tercinta ini sebagai tujuan investasi yang sangat menjanjikan.

3) Selama Ben Bernanke menjalankan mesin cetaknya untuk membeli surat hutang AS, KOMODITAS secara umum tentunya juga merupakan investasi yang tepat.  Coba saja melihat grafik dibawah ini, yang menunjukkan korelasi yang kuat antara harga komoditas dan pembelian obligasi pemerintah AS oleh the Fed.

Terutama di bursa saham Indonesia, saham dari sektor perkebunan (CPO) dan pertambangan (batu bara) secara valuasi masih murah, dan menawarkan upside yang cukup besar dalam setahun kedepan.

4) Berhubungan the Federal Reserve sedang “menghancurkan” dolar AS secara pelan tetapi pasti, beberapa negara di dunia sudah mulai menilai apakah mereka tetap ingin berdagang dalam US dollar dan menggunakannya sebagai suatu reserve currency atau bagian dari cadangan devisa mereka.

Sebuah artikel pada website dari The Market Oracle belum lama ini menjelaskan bagaimana hal tersebut telah terjadi:

“In September, China supported a Russian proposal to start direct trading using the yuan and the ruble rather than pricing their trade or taking payment in U.S. dollars or other foreign currencies.  China then negotiated a similar deal with Brazil.  And on the eve of the IMF meetings in Washington on Friday, Premier Wen stopped off in Instanbul to reach agreement with Turkish Prime Minister Erdogan to use their own currencies in a planned tripling Turkish-Chinese trade to $50 billion over the next five years, effectively excluding the dollar.”

Maka investor di pasar valuta asing pun berpindah hati ke currencies yang mempunyai yield yang lebih tinggi (seperti Indonesian rupiah dan Brazilian real) maupun commodity currencies yang didukung oleh ekspor komoditas yang besar (seperti Australian dollar, Canadian dollar, New Zealand dollar dan Norwegian krona).

Kesimpulan

“The Fed is telling a lot of lies to the market… it is telling all the politicians on Capital Hill you can issue unlimited debt cause it doesn’t cost anything. We have $9 trillion of marketable debt.  Upwards of 70% of that has maturities of 5 years or less down to 90 days.  All of those maturities are 1% down to 10 basis points.  So from the point of view of Congress, the cost of carrying the debt is essentially free.  When you tell politicians they can issue $100 billion of debt a month for free, how do you expect them to do the right thing, and ask their constituents to sacrifice… I think the Fed is injecting high grade monetary heroin into the financial system of the world, and one of these days it is going to kill the patient.

-David Stockman-

Berbagai negara maju kini kecanduan stimulus.  Maka Anda sebagai seorang investor perlu menyiapkan diri untuk quantitative easing jilid ketiga yang akan mempunyai dampak besar terhadap bursa saham, pasar komoditas dan pasar valuta asing.  Sekali lagi pastikan juga bahwa Anda membeli emas, karena saya berpikir banyak mata uang di dunia akan terdevaluasi terhadapnya secara signifikan.

Selain itu saham yang berhubungan dengan komoditas maupun properti di Indonesia seharusnya memberikan return yang memuaskan jadi jangan ketinggalan rally yang akan datang.

Selamat menunaikan ibadah puasa untuk yang menjalankannya dan semoga sukses dan sehat selalu!

Categories: Pasar Internasional Tags: