Archive

Archive for September, 2011

Penguatan dolar AS membendung emas

September 21st, 2011 3 comments

“I don’t know whether the bottom is in or whether we have to put up with a little more aggravation, but the reality is the next big move is going to be to the upside and this is all just noise.  It’s been said by other people there is going to be so much volatility in this sector that it’s going to feel like your hair is on fire, but the fact is you’ve got to be long on any weakness.”

-John Embry, Chief Investment Strategist of Sprott Asset Management-

Diantara 29 Agustus dan 12 September, dolar AS mengalami kenaikan yang signifikan terhadap berbagai mata uang, baik itu di negara maju maupun negara berkembang.  Seperti dapat Anda lihat pada grafik harian dibawah ini the US Dollar Index, yang menunjukkan kekuatan atau kelemahan dolar AS terhadap mata uang utama di dunia, naik tajam dari 73.525 hingga 77.784 atau 5,8% hanya dalam 10 hari perdagangan.

Pada dasarnya ada dua alasan yang mendongkrak indeks dolar AS belakangan ini, yaitu:

  • Krisis hutang di Eropa tetap saja membebani euro untuk sementara waktu, dimana beberapa negara berada diambang kebangkrutan (terutama Yunani).  Oleh karena itu, jangan heran apabila US dollar berhasil menguat, mengingat euro mewakili 57% dari indeks dolar AS.  Apalagi jika salah satu atau lebih dari satu anggota EU gagal bayar hutang publiknya (default), euro kemungkinan akan terperosok dalam.
  • Menurut penghematan saya, the Fed masih akan menahan diri dan tidak mengumumkan QE3 pada saat ini.  Mengapa demikian?  Secara sederhana tingkat inflasi terlalu tinggi (3,8% pada bulan Agustus) dan ekonomi AS belum mengalami resesi, meskipun pertumbuhannya memang jauh di bawah harapan.  Maka suatu penundaan dari stimulus lanjutan sampai setidaknya pertemuan FOMC yang berikutnya pada awal bulan November akan memberikan semangat kepada dollar bulls.

Berhubungan dolar AS dan emas secara historis memperlihatkan korelasi yang negatif atau bergerak berlawanan, bukan tidak mungkin emas akan sedikit tertahan dalam jangka pendek.  Namun apapun yang terjadi selama beberapa pekan kedepan, dolar AS tidak akan perkasa terlalu lama sebab pengeluaran pemerintah yang tidak terkendali dan hutang yang makin membengkak pada akhirnya akan “menghancurkan” nilai US dollar.

Technical outlook

Mari kita meneliti beberapa chart terlebih dahulu, agar dapat memperkirakan arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek-menengah.  Pertama grafik harian dibawah ini menunjukkan bahwa trend line, yang terbentuk sejak awal bulan Juli lalu, telah dipecahkan.

Setelah emas berhasil membukukan rekor harga tertinggi sepanjang sejarah di $1,920.30/oz dan naik lebih dari $400/oz dalam kurang dua bulan, sebuah konsolidasi diantara sekitar $1,700/oz dan $1,900/oz memang sangat sehat.  Selanjutnya Anda tinggal memperhatikan momentum indicators untuk memperoleh reversal signal, jadi tunggu saja sampai MACD membentuk suatu golden cross dan/atau RSI melampaui 50 sebelum membeli kembali.

Lalu grafik 4-hourly berikut ini juga menampilkan tren dalam jangka pendek turun, dimana resistance pada saat ini berada di sekitar $1,820/oz.  Selama harga emas tidak dapat menembus downtrend line tersebut dan/atau EMA-20 (harga rata-rata selama 80 jam perdagangan terakhir), Anda sebaiknya tetap bersabar hati untuk sementara waktu.

Selebihnya kita juga bisa mempergunakan fibonacci retracements untuk mengetahui kira-kira di level berapa support-nya terletak.  BUYING ZONE yang ideal pada saat ini berkisar antara sekitar $1,700/oz dan $1,750/oz, yang masing-masing merupakan 50% dan 38.2% fibonacci retracements (lihat grafik dibawah ini).

Bahkan koreksi ke 61.8% fibonacci retracement di sekitar $1,646/oz masih dimungkinkan, apabila dolar AS benar-benar memperlihatkan keperkasaannya dalam beberapa pekan kedepan.  Maka jangan pernah lupa menempatkan stop loss di bawah entry point supaya kerugian dapat diminimalisir.

Akhirnya grafik harian dibawah ini dengan EMA-50 pun memperlihatkan bahwa koreksi emas kemungkinan akan tertahan di sekitar $1,750/oz.  Selain itu, coba memperhatikan ROC atau Rate of Change untuk memutuskan apakah momentum telah membaik atau tidak.

 

Kesimpulan

“Deficit spending is simply a scheme for the confiscation of wealth. Gold stands in the way of this insidious process.  It stands as a protector of property rights.  If one grasps this, one has no difficulty in understanding the statists’ antagonism toward the gold standard.”

-Alan Greenspan-

Meskipun the Federal Reserve tidak bisa menurunkan tingkat suku bunga lagi, mereka tetap dapat mencetak lebih banyak uang jika diperlukan.  Dan … itulah yang akan dilakukan oleh bank sentral AS maupun bank sentral lainnya di negara maju pada waktu ekonomi dunia diancam krisis sistemik berikutnya.

Dampak terhadap perekonomian riil memang tidak akan terlalu besar, tetapi harga emas akan terdongkrak olehnya.  Jadi dengan makin banyak safe havens yang menghilang di pasar valuta asing EMAS pada akhirnya akan menjadi the last man standing atau satu-satunya safe haven karena tidak ada seorang pun yang dapat memanipulasinya atau mencetaknya begitu saja.

Pendek kata koreksi yang sedang berlangsung pada saat ini masih tergolong kecil (hanya sekitar $150/oz atau 8%) dan sangat wajar.  Pelemahan itu sama sekali tidak ada artinya  selama pasar emas secara fundamental tidak ada perubahan.  Maka siapa tahu dalam beberapa hari atau pekan mendatang, kita akan memperoleh peluang untuk membeli emas di harga yang sangat menggiurkan?

Selamat berinvestasi di pasar emas, dan semoga sukses dan sehat selalu!

Categories: Pasar Internasional Tags:

Waspadai koreksi lanjutan di bursa saham dunia (Part 2)

September 12th, 2011 9 comments

“On August 17 the S&P 500 Index 50-EMA crossed down through the 200-EMA, declaring by our definition that the long-term trend was down and that we were in a bear market.  When this happens, we remind ourselves that “bear market rules apply,” and that we should expect negative outcomes more often than positive ones.”

-Carl Swenlin, DecisionPoint-

Seperti saya berjanji pekan yang lalu, dalam part 2 atau bagian kedua dari artikel ini akan saya bahas kondisi teknikal bursa saham, baik untuk Amerika Serikat dan Indonesia.  Disamping itu, saya juga akan coba memberikan rekomendasi investasi untuk 6 bulan hingga setahun kedepan dan memberitahu caranya bagaimana Anda dapat mengamankan portofolio Anda terhadap ketidakpastian yang makin meningkat.

Banyak orang bertanya kepada saya mengapa saya cenderung bearish terhadap arah pergerakan bursa saham dunia dalam jangka menengah-panjang.  Pada dasarnya pertimbangan saya cukup sederhana, yaitu memburuknya data ekonomi di negara maju (Amerika Serikat, Eropa, Inggris dan Jepang) maupun kondisi teknikal dari mayoritas bursa saham – terutama bursa saham AS – mengindikasikan lajunya kedepan kemungkinan akan agak tertahan.

Saya mengakui bahwa memang lebih enak untuk membayangkan bahwa situasinya tidak seburuk itu, tetapi kita juga perlu menyadari suatu pemulihan ekonomi tidak akan terjadi dalam waktu yang singkat.  Bahkan jika krisis hutang publik dan perbankan di Eropa tidak dapat diatasi dengan cara yang rapi, kejatuhan bursa saham dunia yang kita saksikan pada bulan Agustus mungkin hanya merupakan sebuah pemanasan untuk penurunan tajam yang menanti kita.

Apakah the bears akan mengalahkan the bulls?

“In our view, the Federal Reserve’s money printing is the main reason the S&P 500 just about doubled from March 2009 through June 2011. Now that the Fed has stopped goosing the markets, stock prices have tanked.  We do not see any source of money to take stock prices higher.”

-market research firm TrimTabs-

Pertama-tama saya ingin menampilkan beberapa grafik yang membuktikan bahwa the technical damage di bursa saham AS sungguh parah.  Misalnya dalam grafik dibawah ini, saya mempergunakan data bulanan untuk menunjukkan the primary trend atau tren utama/jangka panjang.

Ada dua hal yang sangat menarik pada grafik ini:

  • Moving Average Convergence Divergence (MACD) baru saja membentuk sebuah dead cross atau MACD line berpotongan signal line dari atas ke bawah, yang ditunjukkan oleh panah yang merah.  Pada umumnya ini merupakan suatu sinyal yang bearish, apabila bursa saham tidak segera dapat bangkit dalam beberapa pekan kedepan.  Pada tahun 2007 pun MACD memberikan peringatan dini, yang membantu investor dalam menghindari pelemahan yang dahsyat hingga kuartal pertama 2009, jika mengikutinya dengan baik.
  • Di bawah saya memperlihatkan a simple 12-month rate of change (ROC) indicator, yang kembali menunjukkan sebuah bearish divergence untuk ketiga kalinya, setelah sebelumnya juga muncul dari tahun 1997 hingga 1999 dan 2004 hingga 2007.  Lalu perlu dicatat pula bahwa suatu ROC line di bawah nol memaparkan downtrends seperti pada tahun 2000-2003 dan 2008-2009.  Kini ROC makin mendekati the zero line, jadi perhatikanlah indikator ini dengan seksama untuk menentukan apakah bull market akan bertahan atau tidak.

Kedua grafik dibawah ini pun membuktikan bull market, yang berlangsung dari kuartal pertama 2009 sampai kuartal kedua 2011, kemungkinan sudah berakhir.  Coba melihat grafik mingguan dari Dow Jones di bawah ini terlebih dahulu.

Ketika terjadi koreksi selama kuartal kedua 2010, pada waktu krisis hutang publik di Yunani untuk pertama kali mulai terkuak, indeks saham AS utama ini hanya turun sampai 38.2% fibonacci retracement yang berada di sekitar 9400.  Namun, pelemahan bursa saham AS belakangan ini – yang berawal sesaat sesudah QE2 dihentikan – jauh lebih dalam dibanding tahun yang lalu (lihat grafik dibawah ini).

Kali ini koreksi telah melampaui 61.8% fibonacci retracement, sebelum mampu rebound secara terbatas.  Pada dasarnya, makin kecil retracement atau penurunan sebelum suatu bullish reversal, makin kuat bursa saham untuk meneruskan penguatannya.

Maka pelemahan dalam beberapa bulan terakhir ini sama sekali tidak menumbuhkan kepercayaan bahwa bull market akan bertahan, dan malahan memberikan tanda untuk awalnya bear market yang berkepanjangan.

Apabila Anda masih saja kurang mempercayai kenyataan bahwa bursa saham AS telah kehilangan momentum-nya, mungkin dua chart berikut ini akan menyadari Anda akan hal tersebut.  Grafik diatas ini misalnya memberikan bukti klasik untuk sebuah bear market, yaitu MA-50 (harga rata-rata selama 50 hari perdagangan terakhir) yang memotong MA-200 ke bawah.

Kemudian trend line yang terbentuk dari level terendah pada tahun 2009 di 6469.95, dan bertahan sampai awal kuartal ketiga, baru saja ditembus 6 pekan yang lalu (lihat grafik dibawah ini).  Berdasarkan sekian banyak sinyal, saya berani menyimpulkan bursa saham AS kemungkinan besar tidak akan mencetak rekor terbaru tahun ini, dan cenderung menuju ke kisaran antara 8917 dan 9672 dalam jangka menengah, yang masing-masing merupakan 61.8% dan 50% fibonacci retracements dari kenaikan sebelumnya dari 6469 hingga 12876.

September yang kelabu?

Di kalangan investor, September memang dikenal sebagai bulan yang buruk untuk bursa saham.  Sejak Dow Jones Industrial Average diperdagangkan di tahun 1896, indeks tersebut rata-rata turun sebesar 1,07% pada bulan September, sedangkan Dow Jones naik rata-rata 0,71% dalam semua bulan lainnya.

Dan … lebih menakutkan lagi, bursa saham biasanya berkinerja buruk sekali pada bulan September jika selama bulan sebelumnya melemah secara signifikan.  Justru itulah yang terjadi, dimana S&P 500 jatuh 5,7% dan Dow Jones tergelincir 4,4%.  Selanjutnya 2 dari 10 hari terburuk sepanjang sejarah untuk Dow Jones terjadi di bulan lalu, yaitu sebuah kejatuhan sebesar 635 poin pada 8 Agustus dan suatu penurunan sebanyak 513 poin pada 4 Agustus.

Namun seperti dapat Anda lihat pada tabel dibawah ini, pelemahan sebesar 777.68 poin pada tanggal 29 September 2008 tetap saja merupakan kejatuhan terbesar yang pernah terjadi dalam sehari.  Penurunan tersebut juga menghilangkan kekayaan pemegang saham senilai lebih dari $1.2 trillion, dan sekaligus membuat sejarah sebab untuk pertama kali kerugian dalam satu hari perdagangan melebihi 1 trilyun dolar AS.

Memang bursa saham AS mungkin memperoleh sebuah dorongan dari the Fed jika bank sentral AS mengumumkan stimulus tambahan dalam bentuk quantitative easing, tetapi kita harus menunggu sampai 21 September untuk itu.  Sebaliknya apabila the Fed ternyata mengejutkan pelaku pasar dan tidak menerapkan QE3, bursa saham berpeluang jatuh bebas.

Maka perlu diingat bahwa secara historis Dow Jones seringkali mencetak major lows pada bulan September dan Oktober.  Oleh karena itu, Anda mungkin akan mendapatkan sebuah kesempatan emas untuk mengakumulasi saham-saham dengan harga yang lebih murah – terutama di negara berkembang seperti Indonesia – selama dua bulan kedepan, asalkan perekonomian dunia tidak mengalami sebuah resesi ataupun depresi.

Kondisi teknikal terkini

“A counter-trend rally may be in the making, but it could be short-lived from the perspective of magnitude or duration.  Until the economy offers better clues of its recovery, we advise a cautious approach.”

-Sam Stovall, chief investment strategist at Standard & Poor’s-

Setelah pelonggaran moneter atau QE2 dari the Fed berakhir pada 30 Juni lalu, Dow Jones anjlok lebih dari 2000 poin (lihat grafik dibawah ini).  Meskipun demikian, Investors Intelligence mengatakan, “With the market down 11 percent in August alone, the idea that the market is not in full panic mode could indicate that there is more – significantly more – room to the downside.”

Saya sendiri sepenuhnya setuju dengan pernyataan tersebut dari Investors Intelligence.  Masih terlalu banyak analis maupun investor merasa sangat optimis mengenai arah pergerakan bursa di masa yang akan datang, dan bahkan sama sekali tidak memikirkan skenario terburuk dapat terwujud dalam jangka pendek.

Walaupun bank sentral AS misalnya memutuskan untuk membeli US Treasuries, mortgage-backed securities atau aset yang lain, bisa saja bahwa kenaikan pasar hanya bertahan sebentar karena investor menurunkan estimasi mereka terhadap pendapatan perusahaan pada tahun 2012.  Jadi jangan menjadi lengah maupun berpuas hati, dan bertindaklah secara bijaksana.

Dalam jangka pendek, suatu flag atau bendera terlihat dengan jelas pada daily chart dibawah ini.  Pola harga tersebut pada umumnya merupakan sebuah periode dimana bursa “beristirahat” atau berkonsolidasi sebelum melanjutkan pergerakannya sesuai dengan arah sebelumnya.

Maka boleh dikatakan bahwa probabilitas cukup besar Dow Jones akan anjlok kembali ke target berikutnya di sekitar 9025 setelah menembus support dari flag secara signifikan.  Untuk menemukan target itu, Anda hanya tinggal mengambil kisaran dari penurunan sebelumnya (2147 poin dari 12751 hingga 10604), dan menguranginya dari level dimana benderanya pecah ke bawah.

Bagaimana dengan IHSG?

Investor di bursa saham Indonesia sungguh beruntung sekali, sebab hanya indeks saham Indonesia, Thailand dan the Philippines mampu bertahan di atas MA-200 masing-masing mereka.  Seperti dapat Anda lihat pada grafik mingguan dibawah ini, sejak kuartal kedua 2009 setiap koreksi tertahan oleh SMA-40 – yang sebetulnya sama dengan MA-200 pada daily chart – dan tidak sekalipun IHSG ditutup di bawahnya.

Maka boleh dikatakan bursa Indonesia secara terus-menerus memperlihatkan keperkasaannya dibandingkan bursa yang lain.  Meskipun begitu, koreksi terbesar sejak tahun 2008 (dari sekitar 4200 hingga 3590 atau sekitar 14,5%) mengindikasikan suatu pemburukan teknikal yang perlu diwaspadai dengan seksama (lihat grafik dibawah ini).  Khususnya level tertingginya selama ini di sekitar 4200 harus dipecahkan terlebih dahulu, untuk memastikan koreksi yang lebih dalam tidak perlu dikhawatirkan lagi.

Apakah nasib Amerika Serikat akan sama dengan Jepang?

“Technically speaking on the S&P 500 index, we should point out that twoof our longer-term moving averages were violated in bearish fashion – the 15-month and 45-month moving averages.  In fact, there are only two occurrences of the 45-month moving average being broken since 1980, which rather interestingly occurred during the past two bear markets – which suggests a bear market has indeed begun.  In each of the previous cases, the S&P 500 bottomed -27% and -33% below this level.  At present, the S&P stands a mere -4% below this level, which would lead one to believe that another 20% to 25% decline is in order.  This is serious stuff to be sure.”

-Richard Rhodes, The Rhodes Report-

Grafik dibawah ini membandingkan S&P 500 pada saat ini terhadap indeks saham Nikkei selama lost decade-nya di Jepang.  Menurut penghematan saya, chart ini pantas mendapatkan perhatian Anda.

Siapa tahu arah pergerakan bursa saham di Amerika Serikat akan mirip dengan bursa saham Jepang dari tahun 1979 hingga sekarang …  Mengapa demikian?

Karena AS telah dan sedang mengambil semua langkah sama seperti yang Jepang lakukan pada tahun 1990an-2000an, yaitu menyelamatkan bank yang seharusnya bangkrut, mempertahankan tingkat suku bunga di sekitar 0% (yang disebut ZIRP atau zero interest rate policy), maupun membanjiri sistem keuangannya dengan likuiditas yang tidak terbatas.  Jadi jangan heran apabila pergerakan kedua bursa ini memang searah, dan kini dibayangi koreksi yang tajam sekali setelah menyelesaikan bear market rally-nya selama 2,5 tahun terakhir.

Kemudian grafik diatas ini, yang menampilkan kejatuhan Dow Jones selama the Great Depression, anjloknya Nikkei 225 pada 1989, dan S&P 500 sejak mencapai puncaknya di tahun 2000, memberikan gambaran yang serupa.  Terlihat jelas bahwa the Fed mempunyai pengaruh yang besar dalam mempertahankan bull market yang berlangsung sekarang, tetapi sampai kapan?

Maka pada dasarnya kita dipaksa untuk mengikuti the QE game.  Dengan kata lain, apakah kita berada diambang sebuah market crash berikutnya atau tidak akan sepenuhnya ditentukan oleh tindakan the Fed maupun bank sentral lainnya di negara maju.

Berdasarkan kenyataan tersebut, saya berpendapat investor sebaiknya wait and see saja sampai ada keputusan dari bank sentral AS pada tanggal 21 September mendatang.  Hanya satu hal adalah pasti: VOLATILITAS tetap akan sangat tinggi selama beberapa tahun kedepan seperti awal abad ke-21 ini, yang secara rata-rata telah mengalami tiga kali lipat hari perdagangan dengan kenaikan atau penurunan yang lebih dari 2% dibandingkan 50 tahun sebelumnya (menurut S&P).

Untuk menutup bagian ini mengenai kondisi teknikal bursa saham AS yang sudah cukup panjang, saya hanya ingin menambah dua hal penting:

  • Jadilah terbiasa dengan volatilitas yang sangat tinggi, dan manfaatkannya dengan sebaik mungkin dengan membeli saham ketika terkoreksi secara dalam dan menjualnya secara parsial pada waktu terjadi kenaikan yang signifikan.
  • Kemungkinan besar akan paling aman untuk membeli saham setelah Dow Jones membentuk sebuah double bottom ataupun low lebih rendah, yang disertai dengan BULLISH DIVERGENCES di berbagai momentum indicators.  Baru setelah itu terjadi, akan saya berani untuk mengatakan bahwa indeks saham AS akan melanjutkan kenaikannya.

Rekomendasi investasi

Selalu ingat bahwa THERE IS ALWAYS A BULL MARKET SOMEWHERE jadi investor setiap saat berpeluang untuk mencari keuntungan lewat pasar keuangan, entah itu dari bursa saham, pasar valuta asing, pasar komoditas ataupun pasar obligasi.  Pada akhirnya uang selalu akan lari ke tempat dimana diberlakukannya paling baik dan/atau bisa memperoleh imbal hasil yang terbesar.

Saya berpikir sebagian besar diantara kita mungkin akan setuju bahwa suatu stock market collapse dapat terjadi setiap saat.  Kini cukup banyak BOM WAKTU yang dapat meledak secara tiba-tiba, seperti sebuah negara yang gagal bayar hutangnya (Yunani?), suatu bank besar di Eropa yang mengalami kebangkrutan, ataupun Amerika Serikat yang dilanda resesi kembali …  Maka investor perlu mencermati apa yang ditulis oleh Sam Stovall dalam weekly commentary-nya: “If the market action in 2008 taught us anything, it was: Be proactive and expect the worst.”

Nah, bagaimana kita mempersiapkan diri sendiri untuk situasi yang terburuk sekalipun, agar kita bisa mengharapkan yang terbaik untuk portofolio pribadi kita?  Berikut ini akan saya berikan beberapa rekomendasi, yang mudah-mudahan bermanfaat untuk Anda:

1) Jangan menanamkan 100% dari dana Anda di saham pada saat ini atau dengan kata lain, don’t get fully invested!  Alangkah baiknya simpanlah sedikit uang tunai (20% sampai 50%) yang bisa dialokasikan ketika bursa saham mengalami koreksi yang dalam.  Seringkali Anda akan mendapatkan kesempatan yang baik untuk menambah saham dengan fundamental yang bagus selama suatu koreksi.  Kuncinya adalah KESABARAN karena dalam bull market yang terkuat sekalipun, harga saham kadang-kadang akan turun.

Pada intinya nilai dari sebuah perusahaan yang tercatat di bursa tidak akan berubah sebanyak bursa saham itu sendiri. Maka selama ketidakpastian mengenai pertumbuhan ekonomi dunia masih tinggi, Anda sebagai seorang investor cenderung akan menemukan perbedaan yang cukup besar antara harga saham dan nilai atau value dari sebuah perusahaan.

Oleh karena itu, jika Anda mau mengakumulasi kekayaan dalam jangka panjang sebagai seorang VALUE INVESTOR (bukan seorang TRADER), hal yang paling penting sekarang adalah menyusun “daftar belanja” Anda yang terdiri atas saham yang ingin dimiliki dalam portofolio pribadi.

Terutama di Indonesia, yang merupakan salah satu negara yang paling menarik dalam 5 hingga 10 tahun kedepan, banyak saham menawarkan upside yang sangat menggiurkan.  Belilah perusahaan yang memiliki good earnings visibility, memberikan dividen secara regular maupun diperdagangkan pada P/E ratio yang rendah, dan Anda dipastikan akan menuju ke masa depan yang sejahtera!

Terakhir tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa Anda harus membelanjakan semua dana Anda sekaligus, jadi Anda selalu bisa membeli sedikit demi sedikit atau menerapkan dollar cost averaging.  Dengan demikian Anda akan mempunyai harga rata-rata yang bagus dan tidak panik pada saat bursa saham turun tajam, sebab Anda justru akan dapat membeli lebih banyak saham pada harga yang jauh lebih rendah.

2) Akhir-akhir ini terasa seolah-olah sistem perbankan Eropa, dan sebagai akibatnya sistem perbankan global makin menuju kepada keruntuhan dahsyat yang berikutnya.  Berarti hanya dalam beberapa bulan yang akan datang, bursa saham dunia di negara maju dapat menyentuh kembali level terendahnya pada tahun 2009 atau bahkan jatuh lebih rendah, sementara harga emas berpeluang menguat ke inflation-adjusted high-nya di sekitar $2,400/oz.  Jadi untuk sementara waktu, belilah EMAS (sebagai asuransi) dan pertahankanlah CASH (sebagai amunisi untuk membeli saham ketika bursa saham terperosok).

Saya pernah mengatakan sebelumnya, tetapi saya merasa perlu mengulanginya sekali lagi pada bagian ini: setiap investor seharusnya (memiliki/mempunyai) 5% hingga 10% dari portofolionya dalam bentuk emas sebagai suatu downside protection yang bantu meringankan tekanan mental maupun kerugian dari aset lainnya.  Makin banyak orang Barat yang cerdas pun berpikir demikian, apalagi dengan real interest rates yang tetap akan negatif dalam jangka waktu yang panjang.

Harga emas masih jauh dari puncaknya, dan saya masih berpendapat emas akan mencapai setidaknya $5,000/oz sebelum bull market ini berakhir.  Oleh karena itu, Anda sebaiknya menganggap setiap penurunan sebagai sebuah hadiah atau kesempatan untuk membelinya di harga yang lebih rendah.

Pendek kata, Anda harus melihat emas sebagai suatu mata uang yang merupakan sebuah alternatif terhadap dolar AS (maupun mata uang yang lain seperti euro, yen dan pound sterling) yang akan makin dilirik di masa depan seiring dengan pencetakan uang dalam jumlah yang tidak terbatas oleh Amerika Serikat dan berbagai pemerintahan lainnya (lihat grafik diatas ini).

3) Dengan negara maju yang makin membatasi stimulus fiskal dan cenderung menekankan penerapan austerity measures untuk mengurangi defisit anggarannya, the Federal Reserve bersamaan dengan bank sentral lainnya mungkin saja akan terpaksa untuk mengumumkan quantitative easing ketiga, keempat, dst.  Apabila hal tersebut terjadi, yakinlah bahwa dolar AS akan terpuruk dan pada gilirannya harga komoditas naik.

Seperti C. Martenson menulis dalam artikel yang berjudul Why Commodities Are the New Safe Haven, “For those looking to preserve the purchasing power of their wealth, it’s important to understand the growing momentum in the global mindshift away from paper assets towards more tangible stores of value.” Dengan kata lain investor secara pelan tetapi pasti akan memindahkan dananya dari PAPER ASSETS – khususnya uang kertas – kepada REAL ASSETS seperti komoditas, yang memiliki nilai intrinsik yang jelas.

Secara teknikal pun, the Continuous Commodity Index (CCI) menunjukkan pasar komoditas secara umum masih kuat, yang dibuktikan oleh pembentukan sebuah bull flag, yang disertai Relative Strength Index (RSI) dan MACD yang naik (lihat grafik dibawah ini).

Perhatikan juga bahwa indeks ini sebelumnya mengalami kenaikan sebesar 43% selama 8 bulan dari Juli 2010 hingga April 2011, setelah berkonsolidasi dalam pola serupa.  Memang tidak ada jaminan apapun bahwa harga komoditas akan kembali melonjak, tetapi jika mesin cetak dijalankan tanpa henti lagi, jangan terkejut itulah justru yang akan terjadi.

Kesimpulan

“The whole current mess reminds me a lot of 1929-30.  After the crash of ’29, the stock market roared higher, even as the economy was simultaneously weakening.  When the great post-crash rally died in April 1930, the market turned down with a vengeance, and the Great Depression began.  … The market is probably now in the process of forming a complex top.  If the market now turns down convincingly, we could see the beginning of Great Depression No. 2.”

-Richard Russell-

Sebagai penutup dari artikel panjang ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal untuk direnungkan:

Kini, hanya ada dua hasil akhir yang mungkin akan tercipta.  Pertama pembuat kebijakan bisa mendukung “quantitative easing to infinity”, yang akan menopang perekonomian dunia untuk sementara waktu tetapi pada akhirnya mengakibatkan HYPERINFLATION.  Atau … kedua, penghematan pengeluaran pemerintah menyebabkan sebuah deflationary economic collapse atau the GREATER DEPRESSION, yang kemungkinan akan membuat depresi selama tahun 1930an kelihatan kecil.

Comstock Partners dalam market commentary-nya yang tertanggal 18 Agustus 2011 menyampaikan analisa yang tajam: “We believe that the market has now entered a major downtrend.  It is a mistake to dismiss the slide we’ve seen to date as mindless and devoid of fundamentals as many strategists maintain.  These are not just scary headlines – they are scary fundamentals.  As usual, there will undoubtedly be some more sharp rallies that will be interpreted as new bull markets.  In our view, however, the bear market has only begun, and has a long way to go.” Kalau seandainya begitu, rupanya bursa saham benar-benar akan menguji kesabaran kita dalam beberapa bulan yang mendatang.

Masalah utama yang akan melambatkan pertumbuhan ekonomi dunia adalah KELEBIHAN HUTANG.  Secara sederhana, banyak orang maupun negara menghadapi jumlah hutang yang mereka tidak bisa lunasi.  Meskipun begitu, berbagai pemerintahan dan bank sentral di seluruh negara Barat tanpa hentinya menampal bailouts, jaminan, paket penyelamatan dan restrukturisasi hutang, dan dengan demikian coba melawan hukum ekonomi. Namun semua orang yang masih waras mengerti bahwa negara, dan juga orang maupun perusahaan, yang berhutang secara berlebihan pada akhirnya akan bangkrut.  Jadi makin lama bank sentral dan pemerintahan dari negara Barat berusaha untuk menunda defaults yang tidak terhindarkan, makin lama dan menyakitkan investor akan menderita!

Dalam sebuah CNN poll yang belum lama dilaksanakan, 48% mengatakan Great Depression yang berikutnya kemungkinan akan terjadi pada tahun depan.  Ini merupakan persentase yang tertinggi yang pernah tercatat untuk prediksi suram tersebut.
Yang paling menyedihkan adalah bahwa tidak ada “pil ajaib” untuk memulihkan kondisi perekonomian.  Jika memang ada, bukankah sudah pasti “ditelan” dari dulu?  Memang the Fed dapat mencoba QE3 yang jauh lebih besar, tetapi itu hanya akan menaikkan tingkat inflasi maupun menambah jumlah hutang publik, dan mendongkrak ekonomi sebentar saja.
Apabila sebagian besar orang sedang mengharapkan QE3 dan berpendapat the Federal Reserve akan mengumumkan stimulus tambahan pada rapat FOMC berikutnya pada tanggal 20-21 September mendatang, bukankah seharusnya hal tersebut sudah mulai terdiskonto dalam harga pasar pada saat ini?

Bill Bonner belum lama ini mengatakan, “The Era of Financial Repression is here.  The financial world will be jumping from temporary crisis to temporary crisis.  The solution will always be to borrow and print more money.” Tentunya ini akan mempunyai dampak yang cukup signifikan terhadap berbagai asset markets kedepan.

Lebih lanjut Bill Bonner juga berkeyakinan bahwa “The bear market is back.  By our reckoning, the Dow should fall below 5,000 before it is over.  Most likely, it will not be a short, quick collapse.  Instead, it will be a long battle … stretched over many years … with the feds fighting over every inch.” Saya sendiri tidak dapat mengungkapkannya dengan kata yang lebih indah jadi saya mengutip beliau secara literal saja.  Dan … hal yang paling membuat saya penasaran adalah bahwa the inflation-adjusted Dow, yang selama 111 tahun terakhir diperdagangkan didalam an extremely long-term upward sloping trend channel (menurut www.chartoftheday.com), memang menunjukkan suatu target koreksi antara 4,000 dan 5,000 wajar sekali (lihat grafik dibawah ini).

Sebagai catatan, saya hanya mengamati pasar dan juga tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tetapi apa yang saya melihat pada saat ini memang tidak begitu meyakinkan.  Sebaiknya hati-hatilah dan gunakan stop loss yang ketat untuk menghindari kerugian yang terlalu besar jika ternyata pasar benar-benar anjlok.

Selamat berinvestasi, dan semoga sukses dan sehat selalu!

Salam sejahtera

Categories: Pasar Internasional Tags:

Waspadai koreksi lanjutan di bursa saham dunia (Part 1)

September 6th, 2011 4 comments

Ternyata masih ada petinggi yang berani mengungkapkan kebenarannya.   Christine Lagarde, Kepala baru dari IMF atau International Monetary Fund, memberikan peringatan bahwa sistem keuangan global berada dalam bahaya dan sangat rentan terhadap goncangan yang paling kecil sekalipun.  “We are in a dangerous new phase.  The stakes are clear: we risk seeing the fragile recovery derailed, so we must act now,” ia mengatakan.

Seolah-olah perekonomian dunia telah dihantam oleh sebuah badai yang menyebabkan kekhawatiran maupun kepanikan meningkat secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir.  Coba saja melihat grafik dibawah ini, yang menunjukkan sejumlah bursa saham di berbagai negara yang telah diklasifikasikan sebagai bear markets karena sudah turun lebih dari 20% dari level tertingginya.

Dua alasan utama, yaitu memburuknya data ekonomi di Amerika Serikat dan krisis hutang publik maupun sektor perbankan di Eropa, akan saya bahas dalam artikel ini supaya Anda mempunyai pengertian yang lebih luas mengenai ancaman yang mengintai investor di seluruh dunia.

Tetapi … beberapa analis menyerukan bursa saham AS kini diperdagangkan pada valuasi yang menarik, jadi hal tersebut merupakan suatu pembenaran – menurut mereka – untuk membeli saham.  Meskipun itu memang berlaku untuk sebagian blue chips yang tercatat di bursa, S&P 500 index secara umum tetap cukup mahal jika kita meneliti grafik diatas ini dengan Robert Shiller’s normalized price-earnings ratio sejak 1950.  Maka jangan terlalu terburu-buru untuk menanamkan semua dana Anda pada saat ini, mengingat banyak bursa saham melemah lebih dari 50% selama 2008-2009.

Pendek kata saya berpendapat VOLATILITAS akan tetap sangat tinggi selama dua bulan kedepan dimana bursa saham, baik di negara maju dan negara berkembang, dapat bergerak naik atau turun lebih dari 2%-3% sehari.  Bahkan dalam jangka menengah-panjang (6 bulan hingga 2 tahun yang mendatang), saya sungguh merasa cemas bahwa perekonomian dunia akan “menabrak tembok beton” dan situasinya akan menjadi JAUH LEBIH BURUK dibandingkan resesi sebelumnya, sebab tidak pernah dalam sejarah begitu banyak negara terbebani hutang sebesar ini secara bersamaan.

Konsumen AS kehilangan kepercayaan diri

Seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini, keyakinan konsumen terhadap kondisi keuangan mereka dan pertumbuhan ekonomi di masa depan menyusut dengan cepat.  The Conference Board’s Consumer Confidence Index, yang mensurvai tiga ribu rumah tangga di seluruh AS, benar-benar melukiskan suatu gambar yang suram.  Indeks tersebut anjlok dari 59.2 di bulan Juli ke 44.5 di bulan Agustus, dan sekaligus mencatat level terendahnya sejak April 2009 ketika bursa saham AS baru saja bangkit dari keterpurukannya!

Data itu juga dikonfirmasikan oleh rilis dari University of Michigan’s Consumer Sentiment Index, yang jatuh ke 54.9 pada bulan Agustus.  Dengan demikian, indeks tersebut telah turun hampir 20 poin dalam tiga bulan terakhir dan membukukan level terendahnya selama 31 tahun terakhir (lihat grafik dibawah ini)!

Sentimen terkini yang begitu murung memprojeksikan pembelanjaan di masa yang akan datang, yang merupakan sebuah leading indicator.  Maka kedua indeks ini sangat relevan, dengan pertimbangan bahwa consumer spending mewakili 70% dari Produk Domestik Bruto di Amerika Serikat.

Berikutnya coba perhatikan korelasi yang erat antara sentiment di satu sisi dan GDP di sisi lain pada grafik dibawah ini.  Berdasarkan arah pergerakannya, apa yang dapat disimpulkan?  Menurut Anda, apakah pendapatan perusahaan dan harga saham cenderung akan naik atau turun?  Dan … apakah mungkin kita berada diambang resesi?

Apakah perekonomian AS akan segera mengalami resesi?

Apabila kita meneliti data bulanan dari PDB Amerika Serikat, perekonomian AS terlihat jelas sudah berada dalam suatu resesi.  Ekonominya terkontraksi baik dalam bulan Mei dan Juni, dan kini melemah dalam 4 dari 6 bulan terakhir.

Grafik dibawah ini menunjukkan bahwa real GDP atau PDB secara riil (setelah disesuaikan untuk inflasi) pada kenyataannya dalam enam bulan terakhir sudah turun 1,5% dalam basis tahunan.  Dengan kata lain kondisi perekonomian sekarang sama buruknya dengan awal 2008, ketika ekonomi mulai menandakan kejatuhan yang dalam.

Selain itu, masih ada dua data ekonomi yang memperlihatkan kondisi ekonomi yang memprihatinkan.  Pertama the ISM Manufacturing Index pada Februari tahun ini masih berada di 61.4 sementara sejak April 2011, indeks tersebut telah merosot 9.8 poin ke 50.6 atau penurunan 4-bulanan yang paling buruk setelah Lehman Brothers bangkrut.

Kedua di bulan Oktober 2009, the Economic Cycle Research Institute’s weekly leading index bertumbuh sebesar 27,8%, yang merupakan sebuah kenaikan yang besar sekali.  Tetapi … kini tingkat pertumbuhan itu sudah mengecil secara signifikan ke 1,7% pada awal Agustus.  Jadi data ini memberikan isyarat bahwa ekonomi AS sedang mengalami suatu pelambatan yang tajam, dan terancam terkontraksi dalam waktu dekat.

Akhirnya perlu dicatat juga bahwa selama 2 tahun terakhir (dari kuartal pertama 2009 hingga kuartal kedua 2011), indeks Dow Jones menguat dari 6,470 ke 12,876 atau hampir 100%.  Namun ketika harga saham melonjak, ekonomi AS sendiri tidak pernah pulih sepenuhnya.

Oleh karena itu, pertanyaan sekarang adalah: “Apakah bursa saham kini menggambarkan kondisi perekonomian yang sesungguhnya atau perlukah ada penyesuaian yang lebih lanjut diantara keduanya?  Dan … hanya sebagai catatan, secara rata-rata bursa saham anjlok sekitar 40% dalam sebuah resesi, maka hati-hatilah kedepan.

 

Pertumbuhan ekonomi Eropa mandek

Eurostat, the EU statistical agency, baru saja melaporkan suatu perlambatan tajam dalam pertumbuhan ekonomi selama kuartal kedua.  Gross domestic product atau PDB untuk the European Union secara keseluruhan hanya bertumbuh 0,2% QoQ (lihat grafik dibawah ini).

Tingkat pertumbuhan itu adalah yang paling lambat dalam dua tahun dimana Jerman sebagai perekonomian terbesar di Eropa hanya bertumbuh 0,1% QoQ dan Prancis, yang merupakan ekonomi UE terbesar kedua, sama sekali tidak mencatat pertumbuhan pada kuartal kedua.  Maka apabila mesin pertumbuhan di Uni Eropa mogok, bagaimana kemampuan dan/atau keinginan dari ekonomi Eropa yang lebih kuat untuk tetap mendukung anggota yang sedang berada diambang kebangkrutan?

Krisis perbankan membuat investor gelisah

“If the euro were to break up, it would cause a banking crisis that would be totally outside the control of the financial authorities.  So it would push not only Germany, not only Europe, but also the whole world into conditions very reminiscent of the Great Depression in the 1930s, which was also caused by a banking crisis that was out of control.”

-George Soros-

Kini ada dua hal yang dapat memicu suatu krisis perbankan yang baru, yang pada gilirannya bisa menyebabkan sebuah crash di pasar keuangan global:

1. suatu bank besar mungkin mengalami kesulitan untuk memperoleh dana di interbank market, atau

2. satu negara gagal bayar atas hutang publiknya.

Kepanikan investor, yang dihasilkan oleh krisis tersebut, dapat menerjang bursa saham dunia setiap saat.  Maka berikut ini saya menampilkan beberapa faktor yang bisa memberikan indikasi ataupun peringatan dini mengenai keterpurukan dari sistem perbankan:

1) Apabila salah satu negara dari PIIGS (Portugal, Irlandia, Italia, Yunani dan Spanyol) tidak mampu melunasi hutangnya, default itu dapat menjatuhkan negara Eropa lainnya maupun bank mereka.  Mengapa demikian?  Karena hampir semua bank Eropa memiliki sovereign debt, jadi ketika hutang tersebut terpaksa direstrukturisasi, neracanya yang sudah rapuh akan menjadi makin lemah.

Tabel dibawah ini memperlihatkan kandidat utama untuk mengalami kebangkrutan, berdasarkan premi yang harus dibayar untuk CDS atau Credit Default Swaps masing-masing mereka.  Tentunya Yunani berada di atas daftar itu (dengan yield untuk 2-year Greek bonds yang pada saat ini lebih dari 40%), tetapi credit default swap rates untuk anggota PIIGS lainnya pun merangkak naik terus.

Lalu Merkel dan Sarkozy sudah menegaskan bahwa penerbitan Eurobonds atau obligasi bersama zona euro, sebuah solusi yang telah dipercaya sejumlah investor sebagai peluru ajaib untuk menyelesaikan krisis, ternyata tidak termasuk prioritas mereka.  Para pemimpin Jerman dan Prancis juga mengesampingkan kenaikan besaran untuk Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa atau European Financial Stability Facility (EFSF), dimana mekanisme penyelamatan sebesar 440 milyar euro dipandang terlalu kecil untuk menyelamatkan negara besar seperti Italia.

Perbedaan politik ditambah dengan kegagalan dalam mewujudkan janji yang konkret justru pada akhirnya berisiko memicu serangan baru pada negara-negara Eropa yang tengah dililit hutang.  Maka Merkel maupun Sarkozy tidak dapat menghindari keputusan pokok jauh lebih lama lagi: atau zona euro akan diubah kedalam suatu fiscal union dengan Eurobonds yang diterbitkan bersamaan, atau negara Eropa yang paling berhutang harus meninggalkan Uni Eropa!

2) Harga saham dari Intesa SanPaulo, Credit Agricole dan Commerzbank sekarang sudah berada di bawah level terendahnya yang tercapai pada bulan Maret 2009.  Kemudian harga saham dari bank Italia UniCredit telah anjlok hampir 50% hanya dalam beberapa bulan terakhir, bank Prancis Societe Generale turun 50% dalam kurang 2 bulan, dan bank Jerman Deutsche Bank melemah 33% selama sebulan.

Apakah investor benar-benar akan menjual sahamnya apabila prospek bank tersebut tetap cerah?  Tentunya tidak, maka kejatuhannya dengan jelas menunjukkan bahwa kepercayaan global terhadap bank Eropa kini hilang sepenuhnya.

3) Asuransi atas hutang dari berbagai bank Eropa utama pun sudah naik ke level yang historis, bahkan lebih tinggi dari tingkat yang tercatat selama krisis keuangan sebelumnya hampir tiga tahun yang lalu.  Misalnya, credit default swaps atas obligasi dari Royal Bank of Scotland, BNP Paribas, Deutsche Bank dan Intesa Sanpaolo semuanya memperlihatkan penurunan sentimen yang dramatis diantara investor terhadap bank.

Apalagi mengingat bahwa 90 bank Eropa yang baru saja mengikuti stress test, yang diselenggarakan oleh the European Banking Authority, perlu membiayai ulang hutang senilai 5.4 trillion euros selama 2 tahun mendatang! Jumlah itu besar sekali, dan kemungkinan tidak akan bisa diselesaikan jika perekonomian di negara maju kembali mengalami resesi.

Grafik diatas ini misalnya membuktikan berbagai bank Italia mulai mengalami kendala untuk memperoleh funding, dimana ECB lending kepadanya meningkat lebih dari 2 kali lipat hanya dalam beberapa bulan.

4) Bahaya utama yang kita sekarang hadapi sebetulnya bukan sebuah sovereign default, tetapi kehilangan kepercayaan antara bank dimana mereka berhenti meminjamkan uang ke masing-masing.  Apabila salah satu bank besar ditolak dari interbank funding market, bank yang lain akan cenderung menimbun uang tunainya dan berusaha untuk meningkatkan likuiditasnya.

Berhubungan dengan itu Lars Frisell, yang merupakan chief economist untuk lembaga Swedia yang mengatur sistem perbankannya, berkata: “It won’t take much for the interbank market to collapse. It’s not that serious at the moment, but it feels like it could very easily become that way and that everything will freeze.”

Coba saja melihat grafik dari Bloomberg dibawah ini, yang menunjukkan kenaikan yang pelan tapi pasti dalam the overnight interbank lending rates.  Seiring dengan liburan musim panas yang berlalu di negara Barat, counterparty risk memang mulai merangkak naik dan perlu diperhatikan dengan seksama dalam waktu dekat ini.

Akhirnya juga dilaporkan bahwa satu bank Eropa belum lama ini meminjamkan $500 billion dari ECB atau the European Central Bank.  Berarti setidaknya ada beberapa bank Eropa yang sedang menderita masalah likuiditas.  Setelah bank dari Uni Moneter Eropa kehilangan akses ke pasar keuangan AS sebesar $7 trillion dan interbank market di Eropa secara efektif hampir membeku, situasi ini makin hari makin mirip krisis keuangan pada 2008-2009.

Dengan kata lain, bukan tidak mungkin kita dapat menyaksikan sebuah krisis hutang dan perbankan dari Eropa, yang barangkali akan lebih buruk daripada subprime crisis.  Seperti seorang senior credit banker dari suatu bank Eropa utama mengatakan, “I think we are heading for a market shock in September or October that will match anything we have ever seen before.” Jadi tingkatkan kewaspadaan Anda dan jangan menjadi lengah!

Be patient, QE3 is coming …

“Financial conditions are today worse than they were prior to the crisis in 2008.  The fiscal deficits have exploded and the political system in both the U.S. and Europe has become completely dysfunctional.”

-Marc Faber-

Seperti gambar dibawah ini memperlihatkan dengan jelas, Ben Bernanke telah berulangkali mengutarakan bahwa ia akan memberikan stimulus tambahan apabila diperlukan.

Namun pada kenyataan, meskipun Bernanke berkeyakinan lebih banyak quantitative easing dibutuhkan, pelonggaran moneter yang berikutnya akan tertahan untuk sementara waktu oleh beberapa faktor yang tidak berlaku ketika ia menerapkan QE2 tahun yang lalu:

1) Secara internal, ada beberapa anggota the Fed yang berbeda pendapat dengan Ben Bernanke.  Pada rapat terakhir dari FOMC (Federal Open Market Committee) tanggal 9 Agustus lalu, 3 dari 10 board members menolak keputusan untuk mempertahankan tingkat suku bunga antara 0% dan 0,25% sampai dengan Juni 2013.  Ini merupakan penolakan yang paling kuat didalam the FOMC selama 20 tahun terakhir, jadi QE3 pasti tidak disetujui oleh kelompok tersebut pada saat ini.

2) Satu rintangan sulit lainnya yang kemungkinan akan menghalangi QE3 berkaitan dengan data ekonomi yang sangat vital dan secara langsung melibatkan mandate yang terpenting dari the Fed, yaitu price stability atau kestabilan harga.

CPI atau Consumer Price Index di AS 3,6% pada bulan Juli (lihat grafik dibawah ini) sementara inflasi inti dalam basis tahunan pada awal QE2 hanya 0,9%, dibanding 1,8% sekarang.  Lebih banyak quantitative easing pada saat ini dapat menaikkan harga berbagai aset lebih lanjut dan pada gilirannya tingkat inflasi secara umum.

Maka dengan core inflation yang mendekati target levels dari the Fed antara 1,7% dan 2%, akan sungguh sulit untuk memberikan stimulus tambahan dengan inflasi yang sedemikian tinggi.

3) Pertentangan politis sangat kuat belakangan ini, terutama setelah quantitative easing terakhir tidak berhasil mengurangi pengangguran ataupun mendongkrak pasar perumahan secara signifikan.  Banyak calon Presiden dari partai Republikan misalnya telah menyuarakan ketidaksenangannya terhadap kebijakan moneter terkini.

Front-runner Mitt Romney menentang secara keras lebih banyak stimulus moneter untuk mendorong perekonomiannya.  Bahkan Gubernur Texas Rick Perry mengatakan ia menganggapnya “treasonous” atau sebuah “pengkhianatan” jika Fed Chairman Ben Bernanke mencetak lebih banyak uang antara sekarang dan pemilihan Presiden berikutnya pada tahun 2012.

4) Akhirnya hampir semua ekonom sama sekali tidak merasa gembira mengenai kemungkinan akan QE3“It’s premature, and the potential costs exceed by a wide margin the possible benefits,” kata Patrick O’Keefe, director of economic research for accounting firm J.H. Cohn.  Lalu ia juga mengatakan tindakan tambahan dari the Fed “would be equivalent to serving ice cream cake as the main entrée at a weight loss clinic.”

Ketika Anda menggunakan lebih dan lebih banyak pinjaman, uang tersebut menjadi makin kurang efektif seiring dengan berjalannya waktu.  Inilah persis aturan atau prinsip lama dari declining marginal utility, atau kebanyakan orang menyebut the Law of Diminishing Returns, yang diterapkan ke kredit.  Dengan kata lain, sedikit adalah hal yang baik tetapi terlalu banyak tidak begitu bagus (lihat grafik diatas ini) …

Sebagai buktinya, pada tahun 2007 penggunaan kredit begitu tinggi sampai sektor privat “meledak”!  Jadi lebih banyak stimulus – yang pada dasarnya sama dengan penambahan hutang publik – belum tentu lebih baik untuk ekonomi secara keseluruhan.

Maka boleh dikatakan the Fed untuk sementara waktu harus menunggu tanda-tanda berikutnya:

  • Jika S&P 500 makin mendekati 1,000 dan Dow Jones tergelincir di bawah 10,000, the Federal Reserve kemungkinan akan mengintervensi pasar dengan QE3 agar investor terpuaskan untuk sesaat.  Meskipun demikian, saya setuju sekali dengan Marc Faber yang menyampaikan bahwa “Fed action may not lift stock prices to new highs, but it may stabilize them.  If you print money, stocks will not collapse.”
  • Bank sentral AS juga akan terpacu untuk bertindak apabila kondisi perekonomian memburuk dengan cepat.  Sebagai contohnya, kenaikan yang signifikan dalam tingkat pengangguran ataupun pertumbuhan PDB yang negatif memberikan alasan yang kuat kepada the Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya lebih jauh.

Pendek kata, kita harus bersabar hati sampai kepanikan menguasai pasar keuangan global, dan penentang QE3 yang paling keras sekalipun memohon untuknya.  Ketika keadaannya sudah benar-benar gawat, the Fed akan mencetak uang dalam jumlah yang besar sekali!

Untuk menutup bagian mengenai QE3 ini, saya hanya ingin menambahkan bahwa Ben Bernanke kadang-kadang mungkin bisa mengeluarkan suatu “kelinci moneter” dari topinya (lihat gambar dibawah ini), tetapi ia tidak mungkin dapat memulihkan sebuah ekonomi yang terbebani oleh hutang yang demikian besar.  Apalagi kita pada saat ini sedang mengalami sebuah BALANCE SHEET RECESSION, dimana baik rumah tangga maupun perusahaan berusaha untuk melunasi sebanyak mungkin hutang.

Maka jangan heran jika “sulap” Bernanke selama ini tidak bekerja dengan baik karena memang tidak ada yang ingin meminjam uang sekarang.  Mudah-mudahan Anda kini sudah memahami quantitative easing TIDAK bisa menciptakan lapangan kerja dan juga TIDAK dapat menumbuhkan suatu ekonomi begitu saja.

Albert Einstein pernah menggambarkan “insanity as doing the same thing over and over again and expecting different results.” QE1 dan QE2 memang sedikit membantu dalam menstabilkan ekonomi dunia, tetapi pada saat yang sama justru juga menambah banyak hutang publik dan menghancurkan nilai tukar dolar AS.

Jadi kita harus mempertanyakan apakah QE3, QE4, QE5, …, QE17, dst. Akan mengakhiri pemburukan ekonomi.  Suatu saat investor di bursa saham akan menyadari bahwa Ben Bernanke ternyata tidak bisa mewujudkan suatu keajaiban, dan hanya dapat mencetak uang … untuk menutupi defisit anggaran pemerintah maupun membantu sesama bankir!

Dalam part 2 dari artikel ini akan saya bahas kondisi teknikal bursa saham, baik untuk Amerika Serikat dan Indonesia.  Disamping itu, saya juga akan coba memberikan rekomendasi investasi untuk 6 bulan hingga setahun kedepan dan memberitahu caranya bagaimana Anda dapat mengamankan portofolio Anda terhadap ketidakpastian yang makin meningkat.

Selamat berinvestasi di bursa saham Indonesia dan/atau indeks saham AS & Asia. Semoga sukses dan sehat selalu, dan keputusan investasi Anda menghasilkan keuntungan yang memuaskan!

Categories: Pasar Internasional Tags: