Archive

Archive for October, 2011

Ekonomi Dunia Akan Menabrak Tembok Beton

October 31st, 2011 7 comments
Categories: Pasar Internasional Tags:

Apakah koreksi emas hampir selesai?

October 25th, 2011 6 comments

Setelah emas terkoreksi sekitar 20% dan mengalami penurunan terbesar dalam hampir tiga tahun dari level tertingginya di $1920.30/oz pada tanggal 6 September hingga $1,534.49/oz 20 hari kemudian, banyak orang mulai mempertanyakan apakah emas masih merupakan aset yang menjanjikan.  Berikut ini akan saya coba mencatat alasan mengapa harga emas anjlok selama bulan September, agar kita lebih memperhatikan faktor tersebut kedepan untuk memperkirakan arah pergerakan harga selanjutnya:

Pertama, harga emas merosot karena investor institusi dan hedge funds melakukan aksi jual emas secara besar-besaran untuk menutupi kerugian maupun margin calls pada instrumen investasi lainnya seperti saham dan mata uang.  Secara sederhana ketika pelaku pasar panik dan orang membutuhkan cash, mereka akan menjual aset apapun untuk memperoleh uang tunai.  Maka aset yang bagus tidak hanya jatuh bersamaan dengan yang jelek, tetapi mereka seringkali terperosok lebih cepat daripada yang jelek sebab pada dasarnya memang lebih mudah untuk menjual suatu aset yang telah menghasilkan keuntungan yang besar.

Kedua, pada hari Jumat 23 September the Chicago Mercantile Exchange atau CME Group Inc. mengumumkan kenaikan dalam margin requirements sebesar 21%.  Dengan demikian mereka sudah meningkatkan dana jaminan untuk mempertahankan suatu posisi di pasar emas hingga 55% sejak 11 Agustus.  Oleh karena itu, banyak traders terpaksa melikuidasi sebagian dari transaksi mereka untuk menyesuaikan dirinya terhadap margin hike ketiga itu dalam 2 bulan terakhir.

Ketiga, emas pada kenyataan memang dianggap sebagai suatu safe haven, tetapi masih merupakan sebuah aset pula yang belum berbentuk cash.  Jadi pada waktu bursa saham ataupun pasar komoditas terpuruk, investor cenderung beralih ke uang tunai dan US Treasuries yang keduanya didenominasikan dalam bentuk dolar AS.

Sebagai akibatnya bank, pialang maupun hedge funds telah berusaha untuk “membuang” short dollar positions mereka secepatnya dan menciptakan sebuah US dollar short squeeze yang besar.  Seperti dapat Anda lihat pada grafik diatas ini, dolar AS menguat secara tajam pada bulan September terhadap mata uang utama dunia lainnya ke level tertinggi sepanjang 7 bulan terakhir.

Selama investor di seluruh dunia tetap saja memilih US dollar setiap kali ketidakpastian meningkat dan dolar AS dapat mempertahankan statusnya sebagai the world’s reserve currency, mata uang dari Amerika Serikat akan berfungsi sebagai suatu “lentera laut” yang memberikan ketenangan jiwa.

Namun saya menduga bahwa suatu saat persepsi terhadap dolar AS akan berubah – ketika bank sentral AS mencetak uang dalam jumlah yang tidak terbatas lagi untuk menanggulangi defisit anggaran AS yang makin membengkak? – dan emas pada akhirnya akan dipandang sebagai the ultimate insurance policy!

Keempat, pelaku pasar juga kecewa dengan keputusan the Fed untuk hanya mengumumkan “Operation Twist,” yang tidak akan memompa likuiditas tambahan dalam sistem keuangannya.  Maka spekulator yang telah mengharapkan Ben Bernanke untuk menerapkan program quantitative easing berikutnya atau QE3 tidak terpuaskan, dan emas langsung berada dibawah tekanan yang hebat.

Menurut hemat saya, situasi seperti saat ini serupa dengan kondisi yang terjadi pada 2008 silam dimana ketika terjadi ketakutan akan resesi global yang menekan harga komoditas, maka emas anjlok karena investor melakukan aksi ambil untung guna menutupi kerugian pada investasi lain. Namun kemudian pada waktu Lehman Brothers jatuh, kondisi berbalik dan permintaan pada emas meningkat tajam. Akankah sejarah terulang dalam beberapa bulan kedepan dimana harga emas cenderung tertekan terlebih dahulu sebelum kembali meroket pasca tindakan berbagai bank sentral di negara maju untuk membanjiri dunia dengan uang kertas yang baru dicetak?

Kondisi teknikal terkini

4-hourly chart diatas ini membuktikan bahwa meskipun emas terkoreksi dalam 3 hari perdagangan terakhir pekan lalu, RSI atau Relative Strength Index tidak membentuk suatu lower low.  Oleh karena itu, harga emas berpeluang naik dalam jangka pendek.  Selebihnya MACD lines juga memperlihatkan sebuah golden cross, yang menguatkan asumsi emas kemungkinan akan bergerak ke arah utara selama beberapa hari kedepan.

Lalu apabila kita melihat grafik harian dibawah ini, kita dapat menyimpulkan emas kini terjebak dalam sebuah bear flag formation dengan level terendahnya di $1,596.25/oz dan yang tertingginya di $1,694.60/oz.

Selama emas masih bergerak dalam kisaran tersebut, arah pergerakan harganya tetap akan cenderung ke samping dan kita harus menunggu suatu breakout ke atas atau ke bawah untuk menentukan tren berikutnya.  Namun jika pola bendera itu pada akhirnya dipecahkan kebawah, emas bisa saja kembali menguji coba SMA-200 yang sekarang berada di sekitar $1,555/oz (lihat grafik harian dibawah ini).

Perhatikan juga bahwa ROC atau Rate of Change memberikan sebuah buy signal, maka tindakan yang paling bijaksana pada saat ini adalah membuka posisi beli dengan stop loss di bawah support dari bear flag.

Kemudian grafik berikut ini pun memperlihatkan bahwa pasar emas untuk sementara waktu masih mengalami kesulitan untuk menjadi bullish lagi.  Sejak mencapai level terendahnya dari koreksi ini di $1,534.49/oz, emas hanya mampu untuk menuju ke 38.2% fibonacci retracement yang terletak di sekitar $1,680/oz.

Lalu reaction low sebelumnya di $1,702.44/oz juga masih membendung kenaikan emas belakangan ini, maka selama kedua level tersebut tidak bisa dilampaui tren pasar emas tetap cenderung sideways.

Akhirnya tren utama masih bullish karena uptrend line, yang terbentuk sejak kuartal keempat tahun 2008, belum ditembus ke bawah (lihat grafik dibawah ini).  Jadi meskipun emas terkoreksi selama dua bulan terakhir ini, selama garis tren tetap utuh penurunan harga emas tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Namun … apabila trend line itu berhasil dipecahkan ke bawah secara signifikan dalam beberapa pekan kedepan, tren utama dapat berbalik arah dan menjadi bearish dalam jangka menengah-panjang.  Menurut hemat saya, jika bursa saham dunia benar-benar anjlok tahun depan, harga emas kemungkinan besar juga akan jatuh dan menembus uptrend line yang selama ini masih bertahan.  Apabila itu terjadi, emas mungkin saja turun jauh dan menuju ke $1,030.80/oz, yang sekarang merupakan support berikutnya setelah sebelumnya berlaku sebagai resistance pada tahun 2008.

Kesimpulan

“It’s easy to make money in a hard-money bull market, but hard to hold on to those profits.  I look at gold and silver, not as a play for profits, but as an accumulation of hard assets, in a world that is drowning in fiat money, and a world that will probably print trillions more of irredeemable paper.  The word now is patience and no faith in the world’s politicians who will print ‘money’ forever in the hopes that it will float us out of the recession.”

-Richard Russell-

Untuk menutup artikel ini, saya ingin menguraikan beberapa hal yang patut diperhatikan oleh investor dalam beberapa bulan kedepan:

Pertama, dalam 4 hingga 5 pekan terakhir status emas telah berubah seutuhnya dan menjadi bagian dari aset beresiko ketimbang sebagai aset aman resiko atau safe haven, dimana emas kembali bergerak searah dengan bursa saham dunia dan komoditas secara umum.  Oleh karena itu, diperkirakan korelasi positif antara emas dan ekuitas nampaknya akan berlanjut dalam jangka pendek kedepan dan tekanan jual secara teknikal cenderung akan berlanjut sampai harga berhasil rebound di atas $1,700/oz, yang dipandang sebagai LEVEL KUNCI untuk menentukan apakah emas sudah memulai uptrend-nya lagi. Namun pelemahan tajam sebesar lebih dari 20% sejak mencapai level tertinggi awal September silam telah memicu aksi beli investor seiring meningkatnya minat beli emas dalam bentuk fisik berkaitan dengan festival tradisional di India.  Lalu jangan lupa juga bahwa the wedding season atau musim nikah di India mulai pada 23 Oktober dan itu pada umumnya bertepatan dengan level terendah untuk logam mulia.

Kedua, berhubungan dengan pendapat saya bahwa ekonomi dunia akan menabrak “tembok beton” di tahun mendatang, bisa saja bahwa pasar emas mengulangi “the Panic of 2008” dimana harga emas turun dari $1,030.80/oz hingga $680.80/oz atau 34%.  Setelah mencapai level tertingginya, emas membutuhkan 18 bulan untuk mencetak rekor terbaru.  Jadi pertanyaan sekarang adalah: “Apakah koreksi serupa bisa melanda pasar emas selama setahun kedepan?” Apabila emas misalnya melemah 34% lagi, seperti pada tahun 2008, harganya dapat menuju ke $1,267.40/oz.  Dan … jika koreksinya pun berlangsung selama 18 bulan, emas baru akan membukukan level di atas $1,920.30/oz pada tahun 2013!  Mari kita melihat bersama-sama bagaimana pergerakan harga emas dalam beberapa bulan kedepan, sebab memang tidak seorang pun tahu secara pasti apa yang akan terjadi di masa depan.

Ketiga, meskipun emas berpeluang turun dalam jangka menengah, tidak pernah dalam sejarah ada waktu yang lebih baik untuk berinvestasi dalam emas daripada sekarang.  Mengapa demikian?  Karena berbagai negara di Eropa kini berada diambang kebangkrutan, defisit anggaran Amerika Serikat sudah tiga tahun berturut-turut melebihi $1 trillion, maupun situasi di Timur Tengah makin eksplosif dan dapat meledak setiap saat! Jadi seandainya perekonomian dunia terancam resesi berikutnya bahkan sebauh depresi, yakinlah bahwa semua bank sentral tidak akan berdiam diri saja dan segera bertindak untuk menopang ekonomi agar bubble atau gelembung di pasar kredit terhindar dari ledakan yang dahsyat. Pendek kata kita tinggal menunggu saatnya ketika the US Federal Reserve, bersamaan dengan ECB, BoE, BoJ maupun bank sentral di Cina, memberikan sinyal pemberlakuan program quantitative easing lanjutan untuk menstimulasi ekonomi masing-masing.  Jika bank sentral itu menempuh langkah tersebut maka diperkirakan akan memberikan tekanan pada dolar AS dan kembali mendukung performa emas.  Sebagaimana serupa yang terjadi sejak program QE2 diluncurkan akhir 2010 lalu dimana emas menguat lebih dari 40% hingga program tersebut berakhir Juni 2011.

Keempat, kemungkinan VOLATILITAS di pasar emas tetap akan sangat tinggi.  Dengan kata lain, kita akan menyaksikan volatility on steroids secara terus-menerus dimana kisaran harga dalam sehari dapat mencapai $50 hingga $100/oz.  Sebagai akibatnya, kepercayaan sebagian investor terhadap emas sebagai investasi yang menjanjikan mungkin akan tergoyah.

Namun suatu saat emas akan memasuki mania phase (lihat grafik diatas ini), dan investor akan melaluinya dengan salah satu cara: sambil memegang (kontrak) emas atau … melihat penuh kekecewaan pada waktu pasar emas melonjak naik tanpa mereka mengikutinya sama sekali.

“Volatility will increase 50% over the next two years and then towards the latter part of about 2016 it will double again.  Volatility will increase dramatically, that’s the way markets work.  If you boil a pot of water when it gets to the boiling point, all of a sudden the water just bursts into bubbles.  That’s the way a market is.  So we haven’t seen anything like that in gold.  When you see that, that’s the time when you are getting into the final high.  Largely that is a factor of confidence and what is happening is that people are losing confidence in everything around them.”

-Martin Armstrong-

Selamat berinvestasi di pasar emas, dan semoga sehat dan sukses selalu!

Categories: Pasar Internasional Tags:

IHSG Membentuk Wave B, Bermainlah Cepat!

October 20th, 2011 2 comments

INILAH.COM, Jakarta – Berdasarkan Fibonacci, IHSG membentuk ‘wave b’ yang menandakan tahap bullish hingga November atau Desember. Tapi, pasar harus bermain cepat karena faktor krisis AS dan Eropa.

Pada perdagangan Rabu (19/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup menguat 63,28 poin (1,75%) ke level 3.685,3060. Begitu juga indeks saham unggulan LQ45 yang naik 12,78 poin (1,99%) ke angka 654,015.

Wakil Kepala Riset Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere mengatakan, indeks saham domestik saat ini berada dalam tahap rebound. Setidaknya, berdasarkan kalkulasi Fibonacci yang sedang membentuk ‘wave b’.

Dia memperkirakan, indeks saham domestik bisa menguat hingga November atau Desember. Hanya saja, tanggal atau timing-nya sulit dipastikan. “Level support IHSG berada di level 3.200 dan resistance pertama di angka 3.730 yang merupakan Moving Average (MA) 200. Lalu, resistance berikutnya di level 3.822 yang merupakan Fibonacci retracement 61,8%,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (19/10).

Dia menegaskan, resistance 3.730 pecah, indeks mengarah ke 3.822. Resistance berikutnya 4.020 dan 4.195 yang merupakan level tertinggi sepanjang sejarah bursa Indonesia. “Tapi, kisaran ini tidak bisa dipatok di level berapa hingga akhir 2011 atau kapan tercapai. Itu tergantung perkembangan dari hari ke hari dan dari minggu ke minggu,” ujarnya.

Di sisi lain, lanjutnya, penguatan indeks juga karena pasar berharap beberpa kebijkan yang akan diambil Uni Eropa pada KTT yang puncaknya pada Minggu 23 Oktober, akan menyelesaikan masalah. Pada saat yang sama, indeks juga mendapat dukungan dari laporan kinerja emiten untuk kuartal III-2011 yang sudah diperkirakan positif.

Namun demikian, Nico mengingatkan, setiap kali kenaikan, IHSG terancam untuk berpeluang kembali anjlok. Saat ini, pergerakan market mengekor pergerakan bursa internasional. “Jika bursa global naik, IHSG juga naik dan begitu sebaliknya. Sejauh ini, pergerakan indeks masih seperti itu,” tandasnya.

Menurutnya, yang paling dominan berpengaruh sekarang adalah faktor eksternal. Karena itu, dia menyarankan agar pasar tetap mengikuti perkembangan di Eropa dan Amerika Serikat. Pasar juga harus mencermati soal pertumbuhan ekonomi China yang sudah mulai melemah ke level 9,1% untuk kuartal III-2011 dari kuartal sebelumnya 9,5%.

Tapi, apapun yang terjadi, Nico berpendapat, pada 2012 akan menjadi outlook bursa saham yang cukup suram. Karena itu, investor domestik harus siap-siap. “Saat ini, masih terlalu banyak orang yang mengharapkan sesuatu yang tidak bisa diharapkan,” ungkapnya.

Apapun yang dilkukan oleh pembuat kebijakan di luar negeri, baik di Eropa maupun AS, tidak akan banyak membantu apalagi menyelesaikan masalah. “Sebab, masalah krisis utang di AS dan Eropa adalah structural bukan cyclical,” ungkapnya.

Apapun yang AS atau Uni Eropa lakukan hanya sebatas band-aid (plester untuk luka ringan). Jadi, saat ekonomi sakit hanya di-lap padahal sakitnya lebih mengerikan. “Jadi, karena luarnya di-lap, tampak oke-oke saja, tapi di dalamnya sakit berat,” paparnya.

Nico menganalogikan, AS dan Eropa saat ini dibaratkan seperti Titanic yang sedang menabrak gunung es sehingga makin banyak air yang masuk. “Bagi investor pilihannya ada dua apakah akan siap-siap atau akan pura-pura tidak ada masalah,” tutur Nico.

Kebanyakan orang yakin, lanjutnya, pemegang kebijakan Uni Eropa dan AS bakal mampu menyelesaikan permasalahannya. “Menurut saya, masalah utamanya tidak mungkin terselesaikan. AS dan Eropa akan menderita hingga 5-10 tahun ke depan. Hal itu sudah dipastikan,” tegas Nico.

Menurutnya, pada akhirnya, tidak ada solusi atas krisis utang Eropa dan AS sehingga indeks berpeluang turun lagi. Jadi, pasar harus kritis atas apa yang diberitakan media masa.

Hanya saja, Nico menggarisbawahi, kondisi itu justru akan sangat positif bagi bursa Indonesia untuk jangka panjang. Sebab, investor asing akan melihat bursa saham Indonesia sangat murah. “Tapi, untuk jangka pendek, investor domestik harus melihat kenyataan buruk dan setelah itu akan bangkit lagi,” ucapnya.

Sebab, Indonesia merupakan bursa yang paling menjanjikan dalam jangka panjang. Dalam jangka panjang Nico optimistis, tapi harus melalui situasi terburuknya. Sebab, AS dan Eropa mengalami kesulitan yang sangat berat. “Di Yunani saat ini terjadi demo dan cukup brutal. Artinya, masyarakat Yunani sudah tidak bisa menerima kondisi mereka lagi sekarang dan ke depannya akan semakin brutal dan keras lagi,” ungkap Nico.

Dalam situasi itu, Nico menyarankan, pelaku pasar lebih baik bermain trading jangka yang sangat pendek. Jika suatu saham turun banyak, langsung beli, dan jika menguat banyak langsung jual. “Tapi, jika IHSG turun ke bawah 3.200-an yang merupakan level terendahnya, hentikan trading,” kata Nico mewanti-wanti.

Menurutnya, jika itu yang terjadi, lebih baik menunggu hingga IHSG turun ke level 2.275 (Fibonacci retracement 61,8%) hingga level 2.650 (Fibonacci retracement 50%). Di level-level tersebut, baru bisa masuk ke market. “Ini merupakan target saya untuk 2012,” bebernya.

Saham-saham bluechips pilihannya adalah PT Bukit Asam (PTBA), PT Indocement Tunggal Prakasa (INTP), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Alam Sutera Realty (ASRI) dan PT Charoen Pokphand Indonesia (CPIN).

Untuk second liner, direkomendasikan PT Intraco Penta (INTA), PT Clipan Finance Indonesia (CFIN), PT BW Plantation (BWPT), PT Tunas Baru Lampung (TBLA) dan PT Berau Coal Energy (BRAU).

Dia merekomendasikan untuk trading dengan jangka yang sangat pendek. Jika sudah untung 3-4 poin di atas level pembelian bisa langsung realisasikan keuntungan dan jika turun, bisa mengambil posisi 3-4 poin di bawah harga pembelian. “Secara persentase, jual 5% di atas dan beli 5% di bawah,” imbuhnya.

Categories: Rekomendasi Saham Tags:

Bagaimanakah nasib Dow Jones dan IHSG dalam kuartal keempat tahun ini?

October 3rd, 2011 7 comments

Pertama-tama saya langsung ingin menyampaikan bahwa saya tetap berpendapat kondisi perekonomian akan menjadi lebih buruk dulu sebelum agak sedikit membaik pada akhir tahun 2011 dan awal tahun 2012.  Selain itu, dalam artikel ini saya juga ingin mengajak Anda untuk bersikap kritis maupun skeptis agar mempunyai pengertian yang lebih luas mengenai berbagai ancaman yang dapat menekan bursa saham dunia dalam jangka menengah-panjang.

Mari kita melihat terlebih dahulu mengapa bursa saham AS, Eropa dan Asia belum mampu untuk bangkit kembali sampai saat ini:

  • Resiko bahwa negara maju akan mengalami RESESI lagi makin hari makin tinggi.  Bahkan “a recession is at this point unavoidable,” demikian NYU Professor Nouriel Roubini menulis. Coba renungkan saja apakah perekonomian dunia cenderung membaik atau memburuk belakangan ini?  Hanya hal yang paling gawat adalah: Apakah pelambatan ini tidak akan terlalu tajam atau justru lebih parah daripada krisis keuangan sebelumnya selama 2008-09? Kini indeks manufaktur maupun jasa Eropa terkontraksi untuk pertama kali dalam 2 tahun terakhir.  Di samping itu Jepang dan Cina pun kembali terbenam di zona kontraksinya (atau di bawah 50), yang memberikan indikasi bagi pelaku pasar perdagangan internasional mulai terhambat.  Karena Uni Eropa merupakan ekonomi terbesar di dunia dan Cina sangat bergantung kepada ekspor, jangan heran banyak orang bertanya-tanya apakah data tersebut bisa diperlakukan sebagai pendahuluan untuk sebuah resesi global. Maka perhatikan dengan seksama data manufaktur AS yang akan dirilis pada malam hari ini.  Apabila sektor manufaktur di AS ternyata ikut terkontraksi, berarti keempat perekonomian terpenting – yang mewakili lebih dari 50% PDB dunia – sedang melemah!
  • Investor kecewa the Fed hanya mengumumkan ‘Operation Twist’, yang sama sekali tidak menambah likuiditas ke sistem keuangan.  Selanjutnya, pelaku pasar juga bertambah bearish setelah membaca pernyataan dari bank sentral AS yang mengakui bahwa ada “significant downside risks” in the economy.  Jadi pada akhirnya “the market’s reaction is like a child throwing a tantrum after not getting what it wanted from daddy,” pedagang emas Hal Paxton menyindir dengan tepat pada tanggal 22 September lalu. Tetapi … meskipun segala tindakan dari the Fed (seperti menurunkan tingkat suku bunga ke 0% hingga 0,25% dan mencetak uang untuk QE1 maupun QE2) tidak berhasil memulihkan kondisi perekonomian, apakah Anda benar-benar berkeyakinan mereka akan berhenti mencobanya?  Tentunya tidak, Chairman Ben Bernanke pada saat ini hanya menunggu alasan yang tepat untuk memberikan pelonggaran moneter berikutnya, mengingat QE2 dianggap gagal. Kira-kira dalih apa yang dibutuhkan oleh anggota FOMC untuk bertindak lagi?  Apakah itu bursa saham yang anjlok, pertumbuhan Produk Domestik Bruto yang menurun drastis, atau keduanya secara bersamaan?
  • Stimulus moneter di CINA tertahan untuk sementara waktu sebab Negeri Tirai Bambu masih menghadapi inflasi yang tinggi, suatu bubble di pasar properti dan negative real interest rates.  Bahkan berhubungan suku bunga riil begitu rendah, jumlah deposito di 4 bank terbesar Cina telah menyusut senilai 420 milyar yuan atau $65.7 billion dari 1 hingga 15 September lalu. Selain itu, transaksi tanah dalam 133 kota jatuh 14 persen pada Agustus MoM, dan harga rumah baru turun pada 16 dari 70 kota menurut data pemerintah.  Pendek kata, Zhang dari Nomura mengatakan, “We’re reaching a tipping point where land sales are dropping much faster than before, developers are losing more access to bank financing, and housing prices are showing weakness.” Apakah ini merupakan tanda bahwa pasar properti di Cina akan crash seperti di Amerika Serikat, dan menyebabkan sebuah “domino effect” dimana makin banyak property developers memangkas harga jual mereka untuk memperoleh uang tunai?  Sebagai buktinya, harga tanah di ibu kota Beijing merosot 76% pada Agustus dibandingkan bulan sebelumnya sementara di Guangzhou harganya anjlok 53 persen, menurut Soufun Holdings Ltd. yang mempunyai real-estate website terbesar di Cina!

Kekisruhan menghantam Eropa

“The cancer that is Europe and the European banking system continues. They don’t understand how to play the game that they have brought themselves into and so they are going to flail until somehow the market forces them to either print money to kick the can down the road or implode.”

-Bill Fleckenstein, President of Fleckenstein Capital-

Kini ada dua kelompok di Uni Eropa: negara yang menerapkan kebijakan fiskal yang cukup ketat (seperti Jerman, Belanda maupun Finlandia), dan negara yang cenderung terlalu boros dari segi pengeluaran pemerintahnya (seperti the PIIGS).  Maka jangan terkejut apabila kadang-kadang ke-17 negara anggota Uni Eropa tidak selalu sepaham tentang apa yang seharusnya dilakukan untuk menyelesaikan krisis hutang yang sedang berlangsung.

Menurut hemat saya, belakangan ini justru muncul makin banyak pertanyaan dari pada jawaban yang konkret ataupun penanganan yang komprehensif dan mendasar mengenai hal tersebut.  Coba saja untuk menjawab atau memecahkan beberapa problematis berikut ini:

  • Apabila Yunani default atas hutangnya yang bernilai sekitar $500 billion, apakah itu akan terlaksana dengan cara yang rapi atau malahan meningkatkan tekanan terhadap sistem perbankan di Eropa?  Dan … apakah sebuah DOMINO EFFECT dapat menjatuhkan negara yang lainnya, seperti Portugal, Irlandia, Spanyol, Italia, Belgia dan bahkan Prancis?
  • Lembaga pemeringkat S&P belum lama menurunkan credit rating Italia menjadi A dari A+ akibat melemahnya pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya biaya pinjaman yang akan membuat kesulitan bagi Italia.  Bukankah yield atas obligasi pemerintah akan makin tinggi kedepan apabila peringkat hutang makin diturunkan?  Dan … apakah itu tidak akan makin membebani perekonomian terbesar ketiga di Eropa?
  • Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schauble mengatakan pada Selasa pekan lalu bahwa penggalangan dana bailout zona euro adalah “ide yang konyol,” dan akan memicu beberapa negara di kawasan ini bisa kehilangan rating AAA mereka. Lalu ketika berbicara tentang memanfaatkan Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa atau European Financial Stability Facility (EFSF) untuk publik dua pekan lalu, lembaga pemeringkat kredit Standard & Poor’s memperingatkan bahwa langkah tersebut bisa memicu penurunan peringkat untuk Jerman dan Prancis.  Sebagai buktinya, kekhawatiran mengenai resiko sistemik dan penularan telah mendorong harga default insurance atau CDS untuk hutang pemerintah Jerman maupun Prancis ke level tertingginya.
  • Pembuat kebijakan di Uni Eropa sedang mempertimbangkan untuk “leverage up” EFSF agar cukup besar untuk mengatasi pembiayaan Spanyol dan Italia jika dibutuhkan.  Pada saat ini, the EFSF telah mengucurkan setidaknya 142 milyar euro dalam bailout dari Yunani, Irlandia dan Portugal.  Dengan demikian, hanya 298 milyar euro tersisa dalam dana penyelamatan sebesar 440 milyar euro. Kemudian menurut estimasi terakhir, suatu bailout package untuk Spanyol dapat bernilai hingga 290 milyar euro sedangkan untuk Italia sekitar 490 milyar euro.  Maka sebuah pelipatgandaan dari EFSF sangat diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan investor. Namun dari mana uangnya berasal untuk menaikkan firepower atau amunisi dari EFSF?  Apakah lewat the European Central Bank (ECB) dengan mencetak uang baru, atau dari masing-masing negara anggota Uni Eropa?  Dan … apakah langkah tersebut akan efektif atau malahan menciptakan lebih banyak masalah lagi?
  • Bank Eropa kedepan perlu direkapitulasi dengan puluhan milyar euro untuk meyakinkan kembali pasar bahwa sebuah default dari Yunani atau Portugal misalnya tidak akan mempercepat sebuah krisis keuangan sistemik.  Sebagai contohnya, terutama bank besar di Prancis seperti Crédit Agricole dan Société Générale memiliki banyak sekali “hutang beracun”, dan dengan $3.6 trillion aset diantara mereka merupakan yang terbesar di dunia.
  • Di satu sisi, spekulasi bahwa ECB kemungkinan akan memangkas suku bunga untuk mendongkrak perekonomian mulai muncul setelah Ewald Nowotny, anggota Dewan Kehormatan ECB, mengatakan bahwa langkah pelonggaran moneter tidak dapat dikesampingkan. Hal ini memunculkan spekulasi kemungkinan dilakukan pemangkasan 50 basis poin pada sidang ECB 6 Oktober mendatang.  Namun … di sisi lain data inflasi atau CPI di Jerman untuk bulan Agustus ternyata naik ke 2,8% dan dengan demikian mencetak level tertingginya sejak bulan September 2008.  Oleh karena itu, sungguh tidak akan mudah untuk menurunkan tingkat suku bunga dengan inflasi yang setinggi itu!
  • Akhirnya banyak orang belakangan ini menyerukan bahwa Uni Eropa, yang merupakan suatu economic and monetary union of countries, sebaiknya menjadi sebuah debt union.  Artinya setiap orang Jerman misalnya terpaksa menanggung hutang Yunani dan sebagainya.  Apakah, menurut Anda, hal itu akan diterima begitu saja atau justru berpeluang memicu sebuah revolusi demokratis yang menolak penambahan hutang secara terus-menerus?

Nah, apakah sekarang sudah makin bingung atau makin percaya bahwa krisis hutang ini akan segera terselesaikan?  Jika yang pertama, berarti saya berhasil menunjukkan kepada Anda bahwa perjalanan yang berat ini masih akan panjang kedepan.

Apakah sentimen yang bearish dapat menopang bursa saham?

John Gray dari Investors Intelligence membuat analisa yang sangat cermat mengenai sentimen di pasar akhir-akhir ini:

“Normally when you start to see the number of bears exceed the number of bulls, and we have seen that by a modest margin the past three weeks, that generally signals the end of a correction or at least the area of a bottom.  That is also what we saw at the end of August, 2010, after about three and a half months of sideways trading at that time.”

“We have currently had about two months of that sideways action, although it has taken place after a more significant decline than we saw in the spring of 2010.  So it’s possible that we could develop a greater period of bearishness, especially since we don’t have the likelihood of the stimuli that we had last September, which pushed the markets up so sharply.”

“So we could see another test of the recent index lows and if they break below those levels, then we would see an even greater shift towards bearish pessimism, which would most likely cement a low and set up, at the very least, a tremendous counter-trend rally or larger market advance.”

Seperti dapat Anda lihat pada Advisors Sentiment indicator dari Investors Intelligence diatas ini, kini jumlah bears mengungguli jumlah bulls, yaitu 40,9% dibandingkan 37,6%.  Maka John Gray menyimpulkan:

“Although this type of market action is typical, with the current levels of pessimism, you often see one last leg of selling to the downside to shake out the people who had been expecting a rebound.  Of course, that selling crescendo would also be accompanied by an increase in bears and that’s exactly what happened at the end of 2010.  At that time the bulls also dropped below the 30% level for the first time since April of 2009.”

“We currently haven’t had as many people bearish as we had last summer (when you look at the above chart), so that’s what I’m talking about when I say we could have one more leg down for these markets.”

Technical outlook

Apabila Anda meneliti grafik harian dibawah ini dengan seksama, Anda pasti langsung akan melihat descending triangle yang terbentuk secara sempurna.  Support dari segitiga tersebut kini terletak di sekitar 10600 sedangkan resistance turun terus seiring dengan downtrend line yang menahan setiap rebound.

Pada umumnya suatu descending triangle akhirnya memecahkan support-nya, dan hanya merupakan sebuah pit stop atau konsolidasi sebelum harganya berlanjut menurun.

Grafik disamping ini, yang saya pernah tampilkan sebelumnya dalam salah satu artikel, menunjukkan bahwa target koreksi adalah sekitar 9055 berdasarkan pola bendera yang sudah ditembus ke bawah.  Jadi jangan lupa untuk memperketat stop loss apabila Anda mempunyai posisi beli di Asian stock indices atau memiliki saham di BEI yang Anda memperdagangkan dalam jangka pendek.

 

 

 

 

 

 

 

 

IHSG pun sedang membentuk lower highs dan lower lows, maka trennya untuk saat ini tetap jelas turun (lihat daily chart dibawah ini).  Orang yang mengatakan sebaliknya perlu dihindari dan benar-benar tidak memahami bagaimana caranya menginterpretasikan sebuah grafik.

Kemudian pertanyaan yang selalu muncul adalah, “Apakah koreksi ini telah selesai atau bursa saham Indonesia masih dapat melemah lebih lanjut?”  Mungkin saya harus mengecewakan sebagian orang yang membaca artikel ini, tetapi IHSG memang berpeluang menuju ke sekitar 3000 terlebih dahulu, yang merupakan 38.2% fibonacci retracement dari kenaikan sebelumnya dari 1089.340 hingga 4195.724 (lihat grafik dibawah ini).

Meskipun demikian, saya berpendapat bahwa gelombang jual pada bulan Oktober dan/atau November akan mengakhiri penurunan dalam jangka menengah dan membentuk sebuah medium-term low.  Maka apabila Anda sedang mencari entry point yang bagus untuk mengakumulasi (indeks) saham, kemungkinan Anda tidak akan perlu menunggu terlalu lama lagi.

Prediksi sampai dengan semester pertama 2012

Berdasarkan fakta dan data ekonomi yang terkini, saya akan coba memberanikan diri untuk membuat suatu skenario yang kemungkinan akan terjadi dalam beberapa kuartal yang akan datang:

  • Apabila terjadi sebuah CRASH di bursa saham dunia dalam dua bulan kedepan, the Fed – bersamaan dengan ECB, BoE, BoJ dan SNB – mungkin secara tergesa-gesa akan kembali menerapkan program quantitative easing.  Kemudian negara-negara yang tergabung dalam G20 telah sepakat untuk melindungi stabilitas pasar finansial dan bank-bank sentral siap untuk menyediakan likuiditas yang dibutuhkan perbankan.  Rencana aksi itu akan disiapkan pada pertemuan pemimpin G20 di Cannes, Prancis pada 3-4 November mendatang, jadi tandai tanggal tersebut pada agenda Anda!
  • Setelah bank sentral dan pembuat kebijakan bereaksi terhadap krisis hutang publik maupun pelambatan perekonomian dunia, baik dengan mencetak uang dalam jumlah yang (sangat) besar dan/atau pemangkasan tingkat suku bunga (di Eropa dan Australia?), saya memperkirakan harga aset beresiko seperti saham, komoditas dan mata uang Asia akan kembali menguat.
  • Namun penguatan tersebut kemungkinan tidak akan bertahan terlalu lama, dan paling telat semester kedua 2012 saya berpendapat kita akan memasuki masa yang kelam yang akan (jauh) lebih buruk daripada krisis keuangan selama 2008-09.  Nanti akan saya menulis secara detil dan mendalam mengenai “the Greater Depression” ketika saya mengulas outlook untuk tahun 2012.

Untuk menutup artikel ini saya ingin menambah beberapa paragraf dari salah satu penulis favorit saya, yaitu Bill Bonner dari The Daily Reckoning:

“Every bailout makes the world poorer.  Because it’s clearly bad money after good.  Greece does not suddenly become a good credit risk just because you lend it more money.  And Americans won’t be made richer because the feds offer them more debt at an even cheaper rate!”

“The problem is that doing more of something that doesn’t work is not a good idea.  When you lose money on every sale you can’t make it up on volume!  Nor is it a good idea to put more money into an investment that isn’t paying off … or to allocate more resources to an industry that stopped producing real benefits a generation ago.”

“They want to continue to bailout, subsidize, give credit where it isn’t due, and otherwise funnel huge amounts of money to worn out, unproductive institutions.  And for what?  So they can avoid “a catastrophic collapse.”

“Well, here at The Daily Reckoning we say ‘bring it on.’  Let’s have that catastrophic collapse and get it over with.  Better now than later.  It will only be worse if it is postponed.”

Seperti biasa, hope for the best but prepare for the worst.  Selamat berinvestasi di bursa saham Indonesia dan/atau indeks saham AS maupun Asia, dan semoga sehat dan sukses selalu!

Categories: Pasar Internasional Tags: