Archive

Archive for November, 2011

Berapakah target koreksi harga emas beberapa bulan kedepan?

November 26th, 2011 No comments

“Gold is absolute objectivity. It is blind, like justice. It has no politics and ideology, no likes or dislikes, no friends or enemies. All it recognizes is its possessor, whom it serves faithfully so long as he has it.”

-British historian Paul Johnson quoting Charles de Gaulle-

Harga emas mengalami penguatan sebesar 22% pada kuartal ketiga lalu, yang tercatat sebagai kenaikan kuartalan terpesat sejak 1986. Namun belakangan ini pergerakan pasar emas cenderung lesu dimana harganya mengalami penurunan terbesar mingguannya sejak September.

Oleh karena itu, banyak investor mulai mempertanyakan apakah pasar emas masih bullish atau malah telah berbalik arah dan menjadi bearish.  Selain itu saya juga berulangkali bertemu orang yang ingin tahu seberapa dalam emas bisa jatuh, apabila terjadi koreksi yang lumayan besar.  Maka saya memutuskan untuk menulis artikel mengenai emas terlebih dahulu, sebelum melanjutkan pembahasan mengenai krisis hutang di Eropa maupun Amerika Serikat.

Secara garis besar ada 4 faktor yang mempengaruhi pergerakan harga emas pada saat ini, yaitu penguatan US dollar, pelemahan bursa saham dunia, technical selling dan tingkat inflasi yang menurun.  Mari kita melihat satu per satu berikut ini:

1) Menurut hemat saya, dolar AS yang makin perkasa akhir-akhir ini akan merupakan faktor utama yang dapat menekan harga emas dalam beberapa bulan kedepan.  Sebagai buktinya, korelasi antara emas dan US dollar misalnya meningkat ke -0.5, level terketatnya selama lebih dari 6 bulan, menyusul investor cenderung mencari perlindungan kedalam dolar dan obligasi AS ketimbang emas.  Sebelumnya di tahun ini, emas dan dolar AS justru bergerak searah ketika pasar diguncang oleh buruknya kondisi ekonomi dan politik di kawasan Eropa.

Seperti dapat Anda lihat pada weekly chart dari dollar index diatas ini, dolar AS mulai beranjak naik terhadap mata uang utama dunia pada bulan September, ketika harga emas anjlok dari $1,920.30/oz ke $1,534.49/oz.  Untuk saat ini indeks dolar AS memang hanya berhasil menguat sampai 38.2% fibonacci retracement yang berada di sekitar 78.8, tetapi apabila level tersebut berhasil dipecahkan, bukan tidak mungkin dollar index akan makin naik dan menuju ke kisaran antara 80.7 dan 82.6, yang masing-masing merupakan 50% dan 61.8% fibonacci retracement dari penurunan sebelumnya.

Lalu kalau kita meneliti grafik bulanan dari dollar index dibawah ini, kita bisa menemukan beberapa hal yang sangat menarik.  Pertama-tama pola segitiga yang simetris atau symmetrical triangle mencolok sekali.  Pola ini telah terbentuk sejak tahun 2005 dan perlu diperhatikan dengan seksama, karena jika suatu saat indeks dolar bisa keluar darinya, pergerakan selanjutnya akan sangat berarti dan menentukan nasib dolar AS terhadap mata uang lainnya.  Namun selama masih “terjebak” didalamnya, dollar index tetap akan bergerak antara support dan resistance yang makin dekat dari tahun ke tahun.

Kemudian kita juga dapat menyimpulkan bahwa US dollar dalam fase penguatan pada saat ini, setelah mampu bertahan di atas support pada level 72.7.  Dan … boleh jadi dalam beberapa bulan kedepan indeks dolar akan kembali menuju ke resistance, yang kini terletak di sekitar 87.  Inipun didukung oleh MACD atau Moving Average Convergence Divergence yang baru saja memberikan suatu sinyal untuk membeli, jadi probabilitas lebih besar bahwa dolar AS akan menguat ketimbang melemah pada 2 hingga 3 kuartal mendatang.

Dengan kata lain apabila kita menyaksikan sebuah kepanikan global lagi pada semester pertama tahun depan, jangan heran ataupun terkejut dolar AS makin menguat dan pelaku pasar memilih untuk menghindar dari mayoritas aset, termasuk emas.  Oleh karena itu, saya berpendapat pasar emas kemungkinan akan mencapai level terendahnya dari koreksi, yang telah mulai pada awal bulan September lalu, pada tahun 2012 dan menawarkan peluang yang menggiurkan untuk membeli emas di harga yang jauh lebih rendah dari yang Anda bayangkan!

2) Seperti saya menulis dalam artikel sebelumnya dengan judul “Is it time to BUY or … SELL?”, saya memperkirakan bursa saham dunia akan anjlok tahun depan seiring dengan pelambatan perekonomian dunia dan gelembung hutang publik yang terancam meledak.  Apabila kita mengacu kepada apa yang terjadi selama sell-off di tahun 2008, kita sebaiknya mempersiapkan diri untuk menghadapi pelemahan yang signifikan di pasar emas pada tahun yang akan datang.  Hanya sebagai informasi (untuk orang yang sudah lupa), pada waktu itu harga emas turun dari level tertingginya di $1,030.80/oz ke level terendahnya di $680.80/oz atau tertekan sebesar 34%.

3) Setelah harga emas tidak bisa bertahan di atas trend line yang mulai terbentuk sejak pertengahan bulan Oktober, pasar dilanda technical selling dimana logam mulia ini telah kehilangan 6 persen hanya dalam 4 hari perdagangan (lihat gambar dibawah ini).  Di samping itu kekhawatiran mengenai hutang global pun telah mendorong hedge funds maupun investor institusi lainnya untuk membukukan keuntungan sebelum akhir tahun, dan memaksa sebagian diantaranya melikuidasi posisi untuk menutupi margin call di luar pasar emas.

Kali ini sinyal jual terpampang dengan jelas, jadi seharusnya sama sekali tidak ada keraguan untuk menjual emas pada saat MACD membentuk sebuah dead cross dan harganya ditutup di bawah garis tren.  Lagipula perpotongan signal line dengan MACD line terjadi di atas garis 0, maka sinyalnya makin valid atau kuat.

4) Akhirnya kita juga selalu perlu mengingat bahwa banyak orang membeli emas untuk mempertahankan kekayaannya terhadap INFLASI, sebab emas dianggap sebagai inflation hedge yang bagus.  Namun dalam kuartal keempat ini, tingkat inflasi justru diperkirakan akan turun menyusul harga makanan dan base metals mulai turun maupun konsumen cenderung mengurangi pembelanjaannya seiring dengan kondisi ekonomi yang masih penuh ketidakpastian.

Sebagai contohnya, CPI atau Consumer Price Inflation di Cina pada bulan Oktober turun dari 6,1% bulan sebelumnya ke 5,5% YoY.  Kemudian baik di Amerika Serikat maupun Inggris tingkat inflasi dalam basis tahunan pun menurun masing-masing dari 3,9% ke 3,5% dan dari 5,2% ke 5%.  Sementara di Eropa inflasi bertahan di 3% namun hampir dipastikan akan turun juga menyusul pelemahan ekonomi zona euro dalam setahun kedepan.

Maka bukan hal yang aneh apabila untuk sementara waktu emas kehilangan daya tariknya bagai sebuah pengaman terhadap inflasi, dan ikut dilepas oleh investor bersamaan dengan aset lainnya yang dikhawatirkan akan terdepresiasi nilainya.

Itulah keempat faktor yang kemungkinan besar akan menahan penguatan selanjutnya dari emas.  Oleh karena itu, saya menyarankan investor untuk bersabar hati dan menunggu saat yang tepat jika ingin membelinya, sedangkan traders tentunya bisa memanfaatkan koreksi dalam jangka menengah untuk memperoleh keuntungan lewat transaksi jual.

 

Kondisi teknikal terkini

“The modern mind dislikes gold because it blurts out unpleasant truths”

-Joseph Alois Schumpeter-

Mari kita melihat grafik harian dibawah ini terlebih dahulu untuk menentukan tren dalam jangka pendek.  Setelah harga emas naik ke $1,802.60/oz pada 8 November lalu, ternyata terjadi koreksi (karena RSI atau Relative Strength Index menunjukkan pasar telah overbought) dimana harganya menuju ke sekitar $1,680/oz. Level tersebut merupakan LEVEL KUNCI dalam beberapa hari mendatang sebab sekarang menjadi support setelah sebelumnya berlaku sebagai resistance yang cukup kuat pada bulan Oktober.

Artinya apabila emas tidak bisa bertahan di atas $1,680/oz, harganya akan anjlok lebih dalam.  Lalu target koreksi yang berikutnya adalah sekitar $1,600/oz dan $1,535/oz, yang masing-masing merupakan harga rata-rata dalam 200 hari perdagangan terakhir (SMA-200) dan harga terendah sebelumnya di bulan September lalu.

Coba saja meneliti daily chart dibawah ini, yang memperlihatkan bahwa emas mungkin dapat kembali menguji coba SMA-200.  Hanya pertanyaan sekarang adalah: “Apakah tes kedua ini akan menghentikan pelemahan emas, seperti pada bulan September, atau harganya malahan akan makin terperosok?”

Kemudian kita juga perlu melihat hubungan antara EMA-50 dan SMA-200, karena kedua level itu akan ikut menentukan arah pergerakan selanjutnya.  Secara sederhana EMA-50 menunjukkan tren dalam jangka menengah, sementara SMA-200 memperlihatkan tren jangka panjang.  Level mereka masing-masing kini tidak terlalu penting. Yang jauh lebih penting sekarang adalah apakah EMA-50 tetap akan bertahan diatas SMA-200, atau justru menembus SMA-200 ke bawah.

Apabila sebuah dead cross terbentuk kedepan, atau EMA-50 lebih rendah daripada SMA-200, berarti tren dalam jangka menengah-panjang akan menjadi bearish. Maka perhatikan kedua moving average ini dengan seksama, terutama EMA-50 yang terancam makin turun dan mendekati SMA-200.

Akhirnya jangan abaikan indikator ROC atau Rate of Change yang kini berada di persimpangan jalan, dan bertengger di sekitar garis tengah atau the zero line. Jika momentum tidak bisa berbalik arah ke atas dengan cepat, dikhawatirkan pelemahannya bisa lebih dalam.

Dan … untuk menutupi artikel ini, saya telah menyimpan dua chart yang terbaik untuk terakhir.  Grafik bulanan pertama dibawah ini memperlihatkan trend line yang terbentuk mulai pada akhir 2008 dan belum berhasil dipecahkan sampai saat ini.

Garis tren ini harus bertahan untuk memastikan tren tetap bullish dalam jangka menengah-panjang.  Akhirnya penembusan dari trend line tersebut akan menyebabkan peralihan arah tren dari bullish menjadi bearish, maupun membuka ruang untuk penurunan yang jauh lebih dalam.

Tetapi seberapa jauhkah?  Apabila kita menggunakan fibonacci retracements, kita akan segera menemukan jawabannya pada grafik bulanan kedua dibawah ini.

Setelah harga emas naik dari $680.80/oz ke $1,920.30/oz, koreksi yang wajar terletak antara sekitar $1,300/oz dan $1,155/oz, yang masing-masing merupakan fibonacci retracement sebesar 50% dan 61,8%.  Lalu jika emas kembali terkoreksi 34% dari level tertingginya, seperti pada tahun 2008, harganya dapat menuju ke $1,267/oz yang juga hampir sama dengan target koreksi yang diperoleh tadi.

Kemudian apabila kita misalnya telah menyelesaikan primary wave 3, menurut Elliot Wave Theory, kita seharusnya menyaksikan primary wave 4. Wave ini bersifat korektif dan bisa berlangsung selama berbulan-bulan.

Maka boleh disimpulkan bahwa investor yang biasanya membeli emas dalam bentuk fisik sebaiknya menahan diri, sementara traders dapat mencari peluang untuk menjual emas ketika mengalami sebuah rally yang besar dan/atau overbought.

Selamat berinvestasi di pasar emas, dan semoga sehat dan sukses selalu!

Categories: Pasar Internasional Tags:

Is it time to BUY or … SELL?

November 14th, 2011 9 comments

“I never give them hell.  I just tell the truth and they think it’s hell.”

-Harry Truman-

Dalam artikel berikutnya yang berjudul “Apakah ledakan gelembung hutang publik akan segera terdengar?”, akan saya uraikan berbagai alasan mengapa tahun depan perekonomian dunia kemungkinan besar akan mengalami masa yang cukup suram.  Namun sebelum saya membahas kondisi fundamental di Eropa dan Amerika Serikat, mari kita coba memutuskan apakah kini waktunya untuk membeli atau menjual (indeks) saham.

Hanya sebagai pengantar untuk artikel pekan depan, dan untuk menunjukkan apa yang kita akan menghadapi dalam beberapa tahun mendatang, saya ingin menampilkan suatu grafik yang dapat membuka mata kita.  Carmen Reinhardt dan Kenneth Rogoff dalam bukunya “This Time is Different” membuktikan bahwa kita secara mudah suka melupakan atau bahkan tidak mau tahu pelajaran sejarah.  Padahal pelajaran tersebut sederhana sekali, yaitu bahwa KRISIS KREDIT selalu diikuti oleh TAHUN-TAHUN DENGAN PERTUMBUHAN EKONOMI YANG LAMBAT dan SOVEREIGN DEFAULTS atau negara yang gagal bayar hutangnya (lihat grafik dibawah ini)!

Bagaimana dengan Dow Jones?

“Markets usually do a pretty good job of coping with problems one at a time.  When one arises, analysts analyze and investors reach conclusions and calmly adjust their portfolios.  But when there’s a confluence of negative events, the markets can become overwhelmed and lose their cool. Things that might be tolerable individually combine into an unfathomable mess whose extent and ramifications seem beyond analysis.  Market crises are chaotic, not orderly, and the multiplicity and simultaneity of contributing causes play a big part in making them so.

-Howard Marks of Oaktree-

Belakangan ini kebanyakan investor, traders, maupun analis sekaligus mulai berpuas hati setelah bursa AS mampu menguat lebih dari 10% sepanjang bulan Oktober.  Bahkan mereka berkeyakinan the bull market akan segera dilanjutkan dan mencetak level yang lebih tinggi lagi.  Tetapi satu data pasar yang menarik diabaikan: 10 besar untuk kenaikan bulanan sepanjang sejarah semua terjadi selama bear markets.

Dengan kata lain penguatan pada bulan Oktober, yang terlihat pada grafik dibawah ini, pada umumnya justru terjadi setelah bursa saham telah mencapai level tertingginya dalam jangka menengah.

Selain itu, Dow Jones kini juga berada dekat resistance di sekitar 12,200 jadi upside relatif terbatas sementara downside terbuka lebar dengan support yang terletak di 10,600.  Lalu jika kita memperhatikan fibonacci retracements pada daily chart dibawah ini, fibonacci retracement sebesar 76.4% pun terletak di sekitar level yang sama, yaitu 12,200.  Maka seandainya indeks saham AS utama ini tidak dapat melampaui resistance tersebut dalam beberapa hari kedepan, Dow Jones kemungkinan akan cenderung (berada di bawah tekanan lagi.

Namun analisa yang saya paling gemari adalah long-term analysis berdasarkan Elliot Wave Theory atau the Wave Principle, yang bisa memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai the big picture.  Pendek kata, waves atau gelombang yang terbentuk di bursa saham dapat membantu kita dalam mempersiapkan strategi yang jitu, dan menunjukkan apakah kita sedang berada dalam sebuah secular bull market ataupun secular bear market.

Grafik yang berikut ini memperlihatkan bahwa bursa AS sejak 2008 memasuki suatu bear market yang berkepanjangan, dimana primary trend atau tren utama menjadi bearish.  Gelombang jual yang melanda Dow Jones dari tahun 2008 hingga awal 2009 adalah wave 1 sementara rebound sampai pertengahan 2011 merupakan wave 2.

Artinya kita sudah memasuki wave 3, yang biasanya paling besar dan panjang.  Oleh karena itu, saya menyarankan investor untuk meningkatkan kewaspadaannya maupun memperketat manajemen resiko dalam jangka pendek agar tidak menderita kerugian yang besar ataupun “nyangkut” di atas.

Kemudian ada satu indikator lagi yang juga memberikan sebuah sell signal, yaitu MACD atau Moving Average Convergence-Divergence.  Sebelumnya MACD pada grafik bulanan memberikan sinyal kepada investor untuk jual pada tahun 1998, ketika pasar mencapai puncaknya di bulan Maret 2000, setelah level tertinggi pada Oktober 2007 … dan BELUM LAMA INI di bulan SEPTEMBER 2011.  Maka Anda sebaiknya tidak meremehkan sinyal ini dan bertindak sesuai dengannya!

Lalu jika mempelajari grafik mingguan diatas ini, jelas terlihat intermediate wave pertama (1) telah selesai dan kita sedang dalam pembentukan gelombang jangka menengah kedua (2).  Sekali lagi perlu saya menekan fakta bahwa Third of a Third atau intermediate wave ketiga (3) dari primary wave 3 pada umumnya merupakan the most powerful middle section atau gelombang jual yang paling dahsyat, jadi kuatkan kondisi mental Anda dengan baik.

Yang saya paling khawatirkan pada saat ini adalah ketenangan maupun kelalaian dari mayoritas investor, yang kemungkinan besar akan dikejutkan oleh penurunan bursa saham dan sama sekali tidak siap untuk menghadapi anjloknya harga saham mereka.  Mudah-mudahan Anda tidak salah satu diantaranya …

Maka apabila kita misalnya mengikuti pergerakan harga selama tahun 2008, bursa saham memang sungguh dekat titik pembalikannya.  Mari kita melihat bersama-sama apakah sejarah kali ini akan berulang atau tidak?

Target koreksi Dow Jones

“Stimulus does wonders for stock prices … but it no longer works for the economy that sustains them.  For every dollar that the Fed has put to work to fight the crisis since 2008, for example, it has produced only 80 cents worth of GDP.  It didn’t work.  Fighting a credit contraction with more credit is a losing proposition.  Eventually, investors are bound to realize that stocks are headed down.  Eventually the bear market will resume.  And eventually it will come to an end.  But when? Our guess is that it will end when the Dow and the price of gold arrive at the same point – probably around $3,000.  Whatever the number, you’ll be able to buy the entire group of Dow stocks for the price of one ounce of gold.”

-Bill Bonner at The Daily Reckoning-

Berhubungan bursa saham AS akan membentuk primary wave 3 dalam beberapa bulan kedepan, seharusnya level terendahnya pada awal tahun 2009 di sekitar 6,400 ditembus ke bawah.  Jadi pertanyaan adalah: “How Low Can You Go?”

Menurut Harry Dent, penulis buku “The Great Crash Ahead”, the Dow berpeluang jatuh ke 3,000 di 2013.  Sementara target saya adalah setidaknya 5,000 (atau lebih rendah), yang merupakan support dari Dow Jones yang disesuaikan untuk inflasi (lihat grafik diatas ini).

Pokoknya gelombang jual utama yang berikutnya kemungkinan besar akan berdurasi panjang dan dalam sekali.  Jadi dalam kondisi itu siasat yang paling menguntungkan adalah menjual indeks saham, baik indeks saham di AS, Eropa maupun Asia.

Kemanakah IHSG pada tahun 2012?

“This period we’re about to go through, a lot of people are going to lose a lot of money.”

-Kyle Bass, managing partner of Hayman Capital-

Kondisi teknikal bursa saham Indonesia dan bursa saham AS jauh berbeda dimana IHSG berada dalam sebuah secular BULL MARKET sementara Dow Jones sebaliknya sedang membentuk sebuah secular BEAR MARKET.  Coba saja meneliti grafik bulanan dibawah ini, yang memperlihatkan dengan jelas bull market yang mulai pada bulan Oktober 2002.

Kini bursa saham Indonesia telah menyelesaikan intermediate wave pertama (1) dari primary wave 3.  Artinya selanjutnya IHSG akan membentuk intermediate wave kedua (2) yang turun karena sifatnya korektif.

Lalu perlu juga diingat bahwa suatu corrective wave, yang bergerak berlawanan dengan tren utama, terdiri dari 3 gelombang.  Dalam hal ini, minor wave A bergerak dari 4195.724 hingga 3217.951 sedangkan wave B masih berjalan pada saat ini dan sudah atau belum mencatat level tertingginya dari wave B di 3875.112.

Terakhir wave C yang turun kemungkinan baru akan mulai ketika support dari channel line tertembus ke bawah.  Maka perhatikan dengan seksama level tersebut, yang sekarang berada di sekitar 3775 dan naik sedikit setiap hari (lihat grafik dibawah ini).

 

Target koreksi IHSG

“Emerging markets’ profitable and relatively stable domestic anchors will enable them to capture global market share … this is part of a broader trend: that of a further migration of growth and wealth from the rich world to emerging economies.”

-Mohamed El-Erian, CEO of PIMCO-

Seperti dapat Anda lihat pada grafik bulanan dibawah ini, MACD juga memberikan sinyal jual pada bulan September lalu.  Dengan demikian korelasi antara bursa saham AS dan bursa regional, termasuk bursa saham Indonesia, tetap sangat tinggi karena sinyal jual pada indikator ini diberikan pada saat yang sama.

Pada tahun 2012, target koreksi yang wajar untuk IHSG terletak antara sekitar 2275 dan 2642, yang masing-masing merupakan 61.8% dan 50% fibonacci retracements.  Dengan kata lain bursa saham Indonesia masih bisa tertekan 30% sampai 40% dari level sekarang, yang pada dasarnya merupakan suatu koreksi yang wajar pada waktu kita mengalami sebuah cyclical bear market.

Lalu target tersebut juga didukung oleh suatu pola harga yang kemungkinan akan terbentuk dalam beberapa pekan kedepan, yaitu head and shoulders dimana bahu kanan bertepatan dengan minor wave B yang berlangsung sekarang (lihat grafik dibawah ini).

Pola tersebut memang seringkali terlihat pada saat wave B berlangsung.  Kutipan berikut ini dari Wikipedia mungkin dapat menjelaskannya secara lebih detil: Wave B: Prices reverse higher, which many see as a resumption of the now long-gone bull market.  Those familiar with classical technical analysis may see the peak as the right shoulder of a head and shoulders reversal pattern.  The volume during wave B should be lower than in wave A.  By this point, fundamentals are probably no longer improving, but they most likely have not yet turned negative.

Pada kenyataan definisi itu menggambarkan pasar terkini dengan tepat karena:

  1. puncaknya dari gelombang B kemungkinan besar juga merupakan level tertinggi dari right shoulder atau bahu kanan,
  2. volume perdagangan belakangan ini (sangat) rendah, dan
  3. kondisi fundamental belum memburuk secara signifikan.

Kemudian seandainya neckline atau garis leher – yang terletak di sekitar 3217 – pada akhirnya dipecahkan, target koreksi dari pola head and shoulders berada di 2424.  Dengan kata lain, target itu pun berada antara fibonacci retracements sebesar 50% hingga 61.8%!

Kesimpulan

“The future’s uncertain … but the end is always near.”

-Jim Morrison-

Menurut hemat saya, kita akan tetap menyaksikan VOLATILITAS yang liar di bursa saham global.  Ini disebabkan secara langsung oleh berbagai pemerintahan dan bank sentral, yang belakangan ini makin kehilangan kendali.

Biasakan diri dengan fluktuasi tersebut dan siapkan strategi yang tepat.  Seperti saya sering mengatakan, SEBUAH BADAI AKAN MENGHANTAM PEREKONOMIAN DUNIA, jadi kondisi pasar cenderung akan jauh lebih memburuk terlebih dahulu.

Oleh karena itu, saran investasi saya adalah sangat sederhana: SoS atau Sell on Strength!  Saya berpendapat investor sebaiknya memegang setidaknya 50% uang tunai.  Dengan demikian, Anda tidak akan kesal apabila bursa saham ternyata masih melanjutkan penguatannya dalam jangka pendek, dan tentunya akan merasa sangat lega jika sebaliknya bursa saham anjlok dalam.

Lebih lanjut jika Anda mendengar seorang analis berseru bahwa IHSG akan bertahan dari gempuran apapun karena perekonomian Indonesia kuat sekali, saya mempunyai pesan yang sangat tegas: FUNDAMENTAL SAMA SEKALI TIDAK ADA ARTINYA KETIKA TERJADI SEBUAH KEPANIKAN GLOBAL! Lihat saja kebelakang apa yang terjadi pada tahun 2008, dan Anda akan langsung memahami sepenuhnya apa yang saya maksud.

Seperti ungkapan lama berbunyi, “Plan for the worst and pray for the best.” Dan … jangan lupa tertawa, apapun yang terjadi selama beberapa bulan mendatang.

Selamat berinvestasi di (indeks) saham dan semoga sehat dan sukses selalu!

Categories: Pasar Internasional Tags: