Home > Pasar Internasional > Is it time to BUY or … SELL?

Is it time to BUY or … SELL?

November 14th, 2011 Leave a comment Go to comments

“I never give them hell.  I just tell the truth and they think it’s hell.”

-Harry Truman-

Dalam artikel berikutnya yang berjudul “Apakah ledakan gelembung hutang publik akan segera terdengar?”, akan saya uraikan berbagai alasan mengapa tahun depan perekonomian dunia kemungkinan besar akan mengalami masa yang cukup suram.  Namun sebelum saya membahas kondisi fundamental di Eropa dan Amerika Serikat, mari kita coba memutuskan apakah kini waktunya untuk membeli atau menjual (indeks) saham.

Hanya sebagai pengantar untuk artikel pekan depan, dan untuk menunjukkan apa yang kita akan menghadapi dalam beberapa tahun mendatang, saya ingin menampilkan suatu grafik yang dapat membuka mata kita.  Carmen Reinhardt dan Kenneth Rogoff dalam bukunya “This Time is Different” membuktikan bahwa kita secara mudah suka melupakan atau bahkan tidak mau tahu pelajaran sejarah.  Padahal pelajaran tersebut sederhana sekali, yaitu bahwa KRISIS KREDIT selalu diikuti oleh TAHUN-TAHUN DENGAN PERTUMBUHAN EKONOMI YANG LAMBAT dan SOVEREIGN DEFAULTS atau negara yang gagal bayar hutangnya (lihat grafik dibawah ini)!

Bagaimana dengan Dow Jones?

“Markets usually do a pretty good job of coping with problems one at a time.  When one arises, analysts analyze and investors reach conclusions and calmly adjust their portfolios.  But when there’s a confluence of negative events, the markets can become overwhelmed and lose their cool. Things that might be tolerable individually combine into an unfathomable mess whose extent and ramifications seem beyond analysis.  Market crises are chaotic, not orderly, and the multiplicity and simultaneity of contributing causes play a big part in making them so.

-Howard Marks of Oaktree-

Belakangan ini kebanyakan investor, traders, maupun analis sekaligus mulai berpuas hati setelah bursa AS mampu menguat lebih dari 10% sepanjang bulan Oktober.  Bahkan mereka berkeyakinan the bull market akan segera dilanjutkan dan mencetak level yang lebih tinggi lagi.  Tetapi satu data pasar yang menarik diabaikan: 10 besar untuk kenaikan bulanan sepanjang sejarah semua terjadi selama bear markets.

Dengan kata lain penguatan pada bulan Oktober, yang terlihat pada grafik dibawah ini, pada umumnya justru terjadi setelah bursa saham telah mencapai level tertingginya dalam jangka menengah.

Selain itu, Dow Jones kini juga berada dekat resistance di sekitar 12,200 jadi upside relatif terbatas sementara downside terbuka lebar dengan support yang terletak di 10,600.  Lalu jika kita memperhatikan fibonacci retracements pada daily chart dibawah ini, fibonacci retracement sebesar 76.4% pun terletak di sekitar level yang sama, yaitu 12,200.  Maka seandainya indeks saham AS utama ini tidak dapat melampaui resistance tersebut dalam beberapa hari kedepan, Dow Jones kemungkinan akan cenderung (berada di bawah tekanan lagi.

Namun analisa yang saya paling gemari adalah long-term analysis berdasarkan Elliot Wave Theory atau the Wave Principle, yang bisa memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai the big picture.  Pendek kata, waves atau gelombang yang terbentuk di bursa saham dapat membantu kita dalam mempersiapkan strategi yang jitu, dan menunjukkan apakah kita sedang berada dalam sebuah secular bull market ataupun secular bear market.

Grafik yang berikut ini memperlihatkan bahwa bursa AS sejak 2008 memasuki suatu bear market yang berkepanjangan, dimana primary trend atau tren utama menjadi bearish.  Gelombang jual yang melanda Dow Jones dari tahun 2008 hingga awal 2009 adalah wave 1 sementara rebound sampai pertengahan 2011 merupakan wave 2.

Artinya kita sudah memasuki wave 3, yang biasanya paling besar dan panjang.  Oleh karena itu, saya menyarankan investor untuk meningkatkan kewaspadaannya maupun memperketat manajemen resiko dalam jangka pendek agar tidak menderita kerugian yang besar ataupun “nyangkut” di atas.

Kemudian ada satu indikator lagi yang juga memberikan sebuah sell signal, yaitu MACD atau Moving Average Convergence-Divergence.  Sebelumnya MACD pada grafik bulanan memberikan sinyal kepada investor untuk jual pada tahun 1998, ketika pasar mencapai puncaknya di bulan Maret 2000, setelah level tertinggi pada Oktober 2007 … dan BELUM LAMA INI di bulan SEPTEMBER 2011.  Maka Anda sebaiknya tidak meremehkan sinyal ini dan bertindak sesuai dengannya!

Lalu jika mempelajari grafik mingguan diatas ini, jelas terlihat intermediate wave pertama (1) telah selesai dan kita sedang dalam pembentukan gelombang jangka menengah kedua (2).  Sekali lagi perlu saya menekan fakta bahwa Third of a Third atau intermediate wave ketiga (3) dari primary wave 3 pada umumnya merupakan the most powerful middle section atau gelombang jual yang paling dahsyat, jadi kuatkan kondisi mental Anda dengan baik.

Yang saya paling khawatirkan pada saat ini adalah ketenangan maupun kelalaian dari mayoritas investor, yang kemungkinan besar akan dikejutkan oleh penurunan bursa saham dan sama sekali tidak siap untuk menghadapi anjloknya harga saham mereka.  Mudah-mudahan Anda tidak salah satu diantaranya …

Maka apabila kita misalnya mengikuti pergerakan harga selama tahun 2008, bursa saham memang sungguh dekat titik pembalikannya.  Mari kita melihat bersama-sama apakah sejarah kali ini akan berulang atau tidak?

Target koreksi Dow Jones

“Stimulus does wonders for stock prices … but it no longer works for the economy that sustains them.  For every dollar that the Fed has put to work to fight the crisis since 2008, for example, it has produced only 80 cents worth of GDP.  It didn’t work.  Fighting a credit contraction with more credit is a losing proposition.  Eventually, investors are bound to realize that stocks are headed down.  Eventually the bear market will resume.  And eventually it will come to an end.  But when? Our guess is that it will end when the Dow and the price of gold arrive at the same point – probably around $3,000.  Whatever the number, you’ll be able to buy the entire group of Dow stocks for the price of one ounce of gold.”

-Bill Bonner at The Daily Reckoning-

Berhubungan bursa saham AS akan membentuk primary wave 3 dalam beberapa bulan kedepan, seharusnya level terendahnya pada awal tahun 2009 di sekitar 6,400 ditembus ke bawah.  Jadi pertanyaan adalah: “How Low Can You Go?”

Menurut Harry Dent, penulis buku “The Great Crash Ahead”, the Dow berpeluang jatuh ke 3,000 di 2013.  Sementara target saya adalah setidaknya 5,000 (atau lebih rendah), yang merupakan support dari Dow Jones yang disesuaikan untuk inflasi (lihat grafik diatas ini).

Pokoknya gelombang jual utama yang berikutnya kemungkinan besar akan berdurasi panjang dan dalam sekali.  Jadi dalam kondisi itu siasat yang paling menguntungkan adalah menjual indeks saham, baik indeks saham di AS, Eropa maupun Asia.

Kemanakah IHSG pada tahun 2012?

“This period we’re about to go through, a lot of people are going to lose a lot of money.”

-Kyle Bass, managing partner of Hayman Capital-

Kondisi teknikal bursa saham Indonesia dan bursa saham AS jauh berbeda dimana IHSG berada dalam sebuah secular BULL MARKET sementara Dow Jones sebaliknya sedang membentuk sebuah secular BEAR MARKET.  Coba saja meneliti grafik bulanan dibawah ini, yang memperlihatkan dengan jelas bull market yang mulai pada bulan Oktober 2002.

Kini bursa saham Indonesia telah menyelesaikan intermediate wave pertama (1) dari primary wave 3.  Artinya selanjutnya IHSG akan membentuk intermediate wave kedua (2) yang turun karena sifatnya korektif.

Lalu perlu juga diingat bahwa suatu corrective wave, yang bergerak berlawanan dengan tren utama, terdiri dari 3 gelombang.  Dalam hal ini, minor wave A bergerak dari 4195.724 hingga 3217.951 sedangkan wave B masih berjalan pada saat ini dan sudah atau belum mencatat level tertingginya dari wave B di 3875.112.

Terakhir wave C yang turun kemungkinan baru akan mulai ketika support dari channel line tertembus ke bawah.  Maka perhatikan dengan seksama level tersebut, yang sekarang berada di sekitar 3775 dan naik sedikit setiap hari (lihat grafik dibawah ini).

 

Target koreksi IHSG

“Emerging markets’ profitable and relatively stable domestic anchors will enable them to capture global market share … this is part of a broader trend: that of a further migration of growth and wealth from the rich world to emerging economies.”

-Mohamed El-Erian, CEO of PIMCO-

Seperti dapat Anda lihat pada grafik bulanan dibawah ini, MACD juga memberikan sinyal jual pada bulan September lalu.  Dengan demikian korelasi antara bursa saham AS dan bursa regional, termasuk bursa saham Indonesia, tetap sangat tinggi karena sinyal jual pada indikator ini diberikan pada saat yang sama.

Pada tahun 2012, target koreksi yang wajar untuk IHSG terletak antara sekitar 2275 dan 2642, yang masing-masing merupakan 61.8% dan 50% fibonacci retracements.  Dengan kata lain bursa saham Indonesia masih bisa tertekan 30% sampai 40% dari level sekarang, yang pada dasarnya merupakan suatu koreksi yang wajar pada waktu kita mengalami sebuah cyclical bear market.

Lalu target tersebut juga didukung oleh suatu pola harga yang kemungkinan akan terbentuk dalam beberapa pekan kedepan, yaitu head and shoulders dimana bahu kanan bertepatan dengan minor wave B yang berlangsung sekarang (lihat grafik dibawah ini).

Pola tersebut memang seringkali terlihat pada saat wave B berlangsung.  Kutipan berikut ini dari Wikipedia mungkin dapat menjelaskannya secara lebih detil: Wave B: Prices reverse higher, which many see as a resumption of the now long-gone bull market.  Those familiar with classical technical analysis may see the peak as the right shoulder of a head and shoulders reversal pattern.  The volume during wave B should be lower than in wave A.  By this point, fundamentals are probably no longer improving, but they most likely have not yet turned negative.

Pada kenyataan definisi itu menggambarkan pasar terkini dengan tepat karena:

  1. puncaknya dari gelombang B kemungkinan besar juga merupakan level tertinggi dari right shoulder atau bahu kanan,
  2. volume perdagangan belakangan ini (sangat) rendah, dan
  3. kondisi fundamental belum memburuk secara signifikan.

Kemudian seandainya neckline atau garis leher – yang terletak di sekitar 3217 – pada akhirnya dipecahkan, target koreksi dari pola head and shoulders berada di 2424.  Dengan kata lain, target itu pun berada antara fibonacci retracements sebesar 50% hingga 61.8%!

Kesimpulan

“The future’s uncertain … but the end is always near.”

-Jim Morrison-

Menurut hemat saya, kita akan tetap menyaksikan VOLATILITAS yang liar di bursa saham global.  Ini disebabkan secara langsung oleh berbagai pemerintahan dan bank sentral, yang belakangan ini makin kehilangan kendali.

Biasakan diri dengan fluktuasi tersebut dan siapkan strategi yang tepat.  Seperti saya sering mengatakan, SEBUAH BADAI AKAN MENGHANTAM PEREKONOMIAN DUNIA, jadi kondisi pasar cenderung akan jauh lebih memburuk terlebih dahulu.

Oleh karena itu, saran investasi saya adalah sangat sederhana: SoS atau Sell on Strength!  Saya berpendapat investor sebaiknya memegang setidaknya 50% uang tunai.  Dengan demikian, Anda tidak akan kesal apabila bursa saham ternyata masih melanjutkan penguatannya dalam jangka pendek, dan tentunya akan merasa sangat lega jika sebaliknya bursa saham anjlok dalam.

Lebih lanjut jika Anda mendengar seorang analis berseru bahwa IHSG akan bertahan dari gempuran apapun karena perekonomian Indonesia kuat sekali, saya mempunyai pesan yang sangat tegas: FUNDAMENTAL SAMA SEKALI TIDAK ADA ARTINYA KETIKA TERJADI SEBUAH KEPANIKAN GLOBAL! Lihat saja kebelakang apa yang terjadi pada tahun 2008, dan Anda akan langsung memahami sepenuhnya apa yang saya maksud.

Seperti ungkapan lama berbunyi, “Plan for the worst and pray for the best.” Dan … jangan lupa tertawa, apapun yang terjadi selama beberapa bulan mendatang.

Selamat berinvestasi di (indeks) saham dan semoga sehat dan sukses selalu!

Categories: Pasar Internasional Tags:
  1. DIEGO
    November 15th, 2011 at 01:54 | #1

    Pak Nico, kira2 apa rekomendasi saran Anda untuk beinvestasi pada EMAS/XAU? apakah tetap Buy on weakness atau Sell on strenght mengikuti kepanikan global yang akan terjadi pada semua sektor saham? Terima Kasih

  2. November 15th, 2011 at 04:00 | #2

    saya sependapat, kita harus memegang uang cash. Fundamental Indonesia memang bagus, tapi akan turun juga bila investor global panik. 2012 would be a hard year for stock investors.

  3. toto
    November 15th, 2011 at 05:18 | #3

    Nico hampir benar,it’s a matter of time tapi lupa sebab hampir semua bank sentral melawan inflasi ganas terutama energi,properti dll,dengan segala stimulus artinya memperpanjang bullish sampai satu saat meletus.

  4. riyadi
    November 16th, 2011 at 01:44 | #4

    Pak Nico Omer,
    Bahasan kali ini cukup kontraversial dibandingkan dengan pandangan analis-analis lain.
    Menurut proyeksi bapak, index dow jones dan bej akan berada di kisaran angka berapa pada penutupan tahun 2011 ini.
    Terima kasih atas bahasan dan jawabannya.

  5. Yulardi
    November 16th, 2011 at 01:46 | #5

    Terima kasih pak Nico atas ulasannya, ini memberikan wawasan kepada saya tetang persoalan investasi di pasar modal yang banyak terkait dengan perekonomian global.

  6. November 16th, 2011 at 12:56 | #6

    makasi pak nico atas coment nya……sebagai bahan inveatasi saya

  7. djanggo.desperado
    November 17th, 2011 at 13:17 | #7

    Pa, Nico. knapa perhitungan Elliot Wave nya di dasarkan pada tahun 2002, bukan kan IHSG di bech mark di level 100 pada bulan Agustus 1982. Mohon dicermati dan dihitung ulang elliiot wavenya.. Menurut hemat saya Wave III, wave IV di 2009.. Trims…

  8. Trader
    November 21st, 2011 at 18:05 | #8

    Good Nico, your analysis is always sharp

  9. John
    November 22nd, 2011 at 10:38 | #9

    Pa Nico,

    Selamat pagi.

    Artikel yang menarik, saya ingin tanya artikel di atas sbb :

    Apa maksudnya DOW sedang ada di trend Bearish,
    tapi IHSG sedang di trend Bullish hanya sedang koreksi ya ?

    Bgmn efeknya sampai Desember 2011 maupun untuk tahun 2012 terhadap :
    - Gold sebagai safe haven assets ?

    - Forex misalnya AUD / US dan EUR / US ?

    Thanks atas perhatiannya.

  1. No trackbacks yet.