Archive

Archive for February, 2012

Apakah Anda siap untuk wave C di IHSG?

February 21st, 2012 1 comment

Judul lain yang cocok untuk artikel ini adalah: “Apakah Anda siap untuk menghadapi pelemahan bursa saham Indonesia?”  Mengapa demikian?  Karena wave C merupakan gelombang yang turun, dimana IHSG kemungkinan besar akan terkoreksi secara signifikan dan menembus level terendahnya dari wave A di 3217.951.

Saya pernah menampilkan grafik bulanan dengan Elliott Waves dibawah ini dalam Market Outlook 2012.  Kini grafik tersebut penting sekali, sebab kita sekarang berada di persimpangan jalan.

Apabila wave B misalnya telah berakhir, kita segera akan menyaksikan awalnya dari wave C.  Meskipun gelombang itu memang bisa turun cukup dalam, setelahnya bursa akan membentuk Intermediate wave (3) dari Primary wave 3, yang pada umumnya paling besar dan panjang diantara semua gelombang.  Jadi masa depan sangat cerah untuk IHSG, tetapi kita perlu melewati penurunan yang lumayan tajam terlebih dahulu …

Lalu bagaimana kita tahu bahwa wave C sudah dimulai?  Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita seharusnya meneliti daily chart dengan support maupun resistance.  Seperti dapat Anda lihat pada grafik berikut ini, IHSG selama dua bulan terakhir ini tidak mampu untuk memecahkan resistance di sekitar 4030.

Apalagi percobaan kedua pada tanggal 6 Februari lalu disertai dengan suatu bearish divergence di Relative Strength Index, yang menunjukkan momentum IHSG mulai melemah.  Kedepan support di 3875, yang sebelumnya berlaku sebagai tahanan, harus utuh untuk melanjutkan uptrend dalam jangka pendek.  Jika ternyata level itu ditembus dan bursa saham ditutup di bawahnya, kemungkinan kita akan menyaksikan penurunan yang lebih lanjut.

Perhatikan juga bahwa wave C nanti akan terdiri dari 5 gelombang, atau sama dengan wave A sebelumnya.  Maka untuk mengetahui apakah koreksinya sudah selesai, kita tinggal menghitung jumlah Minor waves saja.

Lalu Anda pasti penasaran kira-kira sampai berapa target koreksi, bukankah begitu?  Dalam menentukan level tersebut, grafik bulanan dengan fibonacci retracements dibawah ini paling cocok:

Buying zone atau daerah yang relatif aman untuk membeli saham terletak antara 2275 dan 3009, yang masing-masing merupakan 61.8% dan 38.2% fibonacci retracements.  Kemudian puncaknya dari Primary wave j di 2838.476 pun seharusnya memberikan dukungan ketika bursa melemah selama wave C dibentuk.

Akhirnya akan lebih baik apabila investor menunggu golden cross di MACD (Moving Average Convergence-Divergence), yang sepanjang 6 bulan terakhir ini masih memberikan sinyal jual.  Dan … jika RSI bisa turun hingga di bawah 30 maupun memasuki daerah yang sangat oversold, Anda akan ditawarkan peluang emas untuk membeli saham pada harga diskon sungguhan!

 

Fundamental tidak terlalu penting

Belakangan ini hampir semua pelaku pasar menghandalkan makro ekonomi Indonesia yang stabil maupun perolehan investment grade dari Fitch dan Moody’s sebagai pembenaran untuk masuk ke pasar modal Indonesia.  Tetapi kedua hal ini pada dasarnya tidak menentukan apakah IHSG akan melonjak naik atau tidak.

Seperti MoneyWeek editor-in-chief Merryn Somerset Webb mengatakan:

“Yes, emerging market economies are still growing faster than those in the West.  But as we always point out, economic performance is no real guide to stock market performance.”

“Short-term performance is about money flows; long-term performance is about price (the cheaper you buy, the better the long-term return).”

Jadi ALIRAN DANA (baik dari investor domestik maupun investor asing) adalah hal yang paling penting dalam jangka pendek, sementara VALUASI saham akan mendasari hasil investasi Anda dalam jangka panjang.  Oleh karena itu, jangan heran apabila saya menyerukan fundamental tidak terlalu penting.  Sebagai buktinya, IHSG anjlok sekitar 60% pada tahun 2008, meskipun Produk Domestik Bruto Indonesia tetap bertumbuh lebih dari 4%.

Pertama-tama, valuasi bursa saham Indonesia kini relatif mahal secara komparatif karena telah outperform indeks saham lainnya selama 2010 dan 2011.  Coba saja menyaksikan grafik diatas ini, yang menampilkan kinerja berbagai bursa dari negara berkembang dalam dolar AS pada tahun yang lalu.

Justru karena IHSG jauh mengungguli penghasilan bursa lainnya, makin banyak opsi yang lebih murah tersedia untuk investor di kawasan Asia ketimbang Indonesia.  Ini mungkin salah satu alasan mengapa investor asing membukukan net selling senilai 2,4 trilyun rupiah selama dua pekan terakhir.

Kedua, aliran dana atau hot money dapat hengkang dari Indonesia dengan cepat ketika investor tidak merasa nyaman lagi dengan resiko yang ditanggungnya.  Berkaitan dengan hal tersebut, sekarang ada tiga faktor yang perlu diwaspadai dengan seksama:

1) pelambatan bahkan resesi dalam ekonomi yang maju;

2) deleveraging di negara maju bisa menghentikan aliran dana kedalam pasar berkembang;

3) US dollar yang lebih perkasa dapat mengalihkan dana dari mata uang Asia.

 

Mengapa bursa saham AS kini berada di ujung tanduk?

“I suspect that hope is going to accompany the decline just as it did during the first half of 2008, and it will keep most investors from selling until much later in the process.  Price change occurs at the margin.  Most people just hold on until late in the game. At the bottom in March 2009, trade-futures.com reported only 2% bulls among S&P futures traders.  It was the lowest reading ever. And that’s when sellers got serious.”

-Robert Prechter, The Elliott Wave Theorist-

Selain faktor internal yang diuraikan di atas, ada juga faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kinerja IHSG kedepan, yaitu arah pergerakan bursa saham AS.  Seperti kita telah ketahui, korelasi antara bursa saham AS dan bursa saham Asia pada umumnya sangat erat jadi setiap kenaikan ataupun penurunan di Amerika Serikat diikuti dengan pergerakan yang sama di kawasan Asia.

Jika kita meneliti bursa saham AS secara mendalam, kita bisa menemukan banyak alasan kenapa kita harus bersiap diri untuk menghadapi suatu penurunan yang signifikan.  Berikut ini akan saya coba memberikan 9 ALASAN saja, tetapi saya yakin Anda mungkin dapat melengkapinya dengan hal yang lainnya:

1) INVESTOR SECARA PERSEORANGAN di AS pada saat ini MERASA TERLALU OPTIMIS mengenai perkembangan bursa saham.  Oleh karena itu tidak banyak orang yang bearish terhadapnya, seperti diungkapkan dalam Global Market Perspective pada 3 Februari 2012:

“According to the American Association of Individual Investors, the level of bearishness hit multi-year lows in January.  The one-month (four-week) average of the percentage of AAII bears dropped to 19.2%, as the inverted line at the bottom of the above chart shows.  The reading makes the contingent of AAII bears smaller now than it was when the Dow reached its all-time price peak in 2007!”

2) Dengan pertimbangan bahwa MARJIN KEUNTUNGAN dari perusahaan yang tercatat di bursa saham AS pada kuartal keempat 2011 MENGALAMI PENURUNAN TERBESARNYA dalam basis kuartalan SEJAK KRISIS KEUANGAN DI 2008, harga saham terlihat agak rentan terhadap koreksi.

3) EKONOMI AS KEMUNGKINAN AKAN MEMASUKI RESESI KEMBALI pada tahun ini, berhubungan konsumen, yang menyumbang sekitar 70% terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto, ditekan oleh penurunan pendapatan maupun kekayaan bersih secara riil.

Seperti Dr. Lacy Hunt, the chief economist at Hoisington Investment Management, mengatakan:

“… consumer spending will slow this year very dramatically from a very weak base.  We had a decline in real disposable income in 2011.  GDP rose, but GDP measures spending, not prosperity.  In 2011, as is often the case, when inflation rises, households initially try to maintain their standard of living.  So in the face of rising inflation and trailing wages, which was the story in 2011, families resorted to increased credit card usage or to drawing down their saving.  But in addition to a decline in real disposable income in 2011, we also saw a net decline in net worth [lower chart below].  And a year-over-year decline in net worth has been associated with the start of all the recessions since 1969.”

4) Kegairahan dari investor perseorangan tidak ditumpahkan ke pemilik maupun manajemen perusahaan yang mempunyai saham.  Misalnya menurut market research firm TrimTabs, CORPORATE INSIDERS telah MENJUAL SAHAM MEREKA senilai $2.3 billion pada Februari, atau 15,5 kali lipat jumlah saham yang dibelinya.

5) The Elliott Wave Financial Forecast pada bulan yang lalu memberitahu bahwa JUMLAH UANG TUNAI DI REKSADANA sedang BERADA DI LEVEL YANG MENGKHAWATIRKAN:

“At 3.5%, the mutual fund cash-to-assets ratio is just .02 percent from the record low, meaning that money managers are so confident that the market will not crack that they hold very little cash in reserve.  The Dow dividend yield is 2.53%, which means not only that the market is historically overvalued, but also that investors see little need for cash payments up front because they foresee large capital gains.”

6) Jeffrey Saut, chief investment strategist at Raymond James, menyatakan suatu tanda negatif lainnya untuk saham adalah sebuah laporan yang menunjukkan LOMPATAN YANG BESAR DALAM SHORT POSITIONS (atau pertaruhan bahwa saham akan turun) oleh hedge funds:

“The smart money is short $7.4 billion versus various indices …  That was up from a previous $2.7 billion.  That’s one of the largest weekly jumps I’ve ever seen, and it’s the highest short position by the commercial hedges since 2002.”

7) Elliott Wave International juga mencatat bahwa momentum mengirim suatu pesan pasar yang penting, dimana KEKUATAN PASAR SECARA INTERNAL MULAI MELEMAH:

“Even as prices rallied, the percentage of S&P 500 stocks below their 10-week moving average indicates the advance has been weaker than many investors may realize.”

 

8 ) Meskipun the S&P membukukan kenaikan terbesar untuk bulan Januari selama 15 tahun terakhir, volumenya sama sekali tidak mendukungnya.  Dengan kata lain, JUMLAH SAHAM YANG DIPERDAGANGKAN TURUN LUAR BIASA PADA SAAT BURSA SAHAM NAIK SECARA SIGNIFIKAN!

Zerohedge.com pun menyampaikan:

“Last January (2011) the average number of stocks traded on the NYSE per day was 891 mm shares vs 661 mm for this January (a 26% drop YoY!) and this is down an incredible 59% from January 2008.”

9) Terakhir Investors Intelligence, yang memiliki banyak indikator yang sangat bermanfaat, baru saja merilis laporan mengenai bursa saham AS dimana mereka memperingati investor untuk berhati-hati dalam jangka pendek:

“The NYSE % 10-week moving average is a short-term breadth indicator; analyzed by us at Investors Intelligence since 1968.  This breadth indicator measures the percentage of stocks in the NYSE trading above their own 10-week moving average.  Typically in a year the indicator will only reach current levels (this week’s high was 86.36%) a handful of times, after which equities would correct or consolidate.”

“Over the past two years there have been three overbought instances as per the current overbought condition.  For example, in April 2010, the S&P 500 corrected 17%.  In October 2010, the index went sideways.  In October 2011 the index shed 10%.  The corrections do not always follow immediately but certainly inside of a few weeks.”

“This indicator stresses short-term caution.”

 

Tingkatkan kewaspadaan terhadap koreksi dadakan

“When market sentiment gets to an extreme on either side – pessimistic or optimistic – more often  than not, the trend is near its reversal. Extreme opinions, shared widely, constitute the single most reliable indicator of an impending change of direction for a market.  If virtually everyone is thinking one way, they have already acted …”

-Robert Prechter, The Elliott Wave Theorist, July 2006-

Sudah berulangkali saya menampilkan grafik bulanan ini untuk membuktikan tren bursa saham AS masih bearish dalam jangka panjang.  Dengan kata lain, bursa saham di Amerika Serikat sedang berada dalam sebuah secular bear market atau bear market yang berkepanjangan.

Pandangan saya pada saat ini masih sama, yaitu saham sekarang bergerak naik dalam Intermediate wave (2).  Artinya setelah gelombang (2) selesai terbentuk, kita akan memasuki Intermediate wave (3) yang seharusnya turun dalam sekali karena Intermediate wave (3) dari Primary wave 3 pada umumnya paling panjang (kemungkinan akan berdurasi 9 hingga 15 bulan).

Maka dari itu jangan heran saya belakangan ini banyak menulis artikel mengenai potensi anjloknya bursa saham dunia.  Intinya adalah meyakinkan Anda untuk lebih berhati-hati selama beberapa bulan kedepan agar tidak terjebak pada puncaknya.  Tidak lebih dan … tidak kurang dari itu saja.

Sebelum saya membahas daily chart dari S&P 500 secara mendalam, mari kita mencermati terlebih dahulu apa yang dikatakan oleh Tim Wood, Editor dari Cyclesman.com, karena ia mampu menggambarkan kondisi pasar terkini dengan cemerlang:

“… the higher the rally out of the August/October low has gone, the more comfortable the masses have become with the rally.  We are now seeing a sense of optimism and people have by and large forgotten about the pain and fear they experienced into October.  All the while, they do not realize that it’s all really part of a bigger setup.”

“Long-term, the evidence continues to suggest that we are still operating within a secular bear market, which began at the 2007 top.  Based on all historical measures, the bottom likely did not occur in March 2009.  Rather, the evidence suggests that the phase I low of the bear market occurred at the March 2009 low and that the rally separating phase I from phase II has been underway ever since.  According to Dow theory, secular bull and bear markets alike unfold in three phases.  It has been the continuance of this rally that has served to lull the public back to sleep and the average person sees that the markets are rising and they naturally think that the worst is behind us and I understand that.  However, this lack of understanding of the big picture setup that is unfolding, the false optimism and the wish that the worst is behind us is ultimately going to cost the average investor dearly once this larger counter-trend move concludes.”

“I’m telling you, based on the statistics, this bear market is likely not over and once the proper setup is in place, there is more financial trouble to come.”

“… the risk to the market will be far greater than most anyone expects.  Trouble is, it will begin like any other correction and people will think that it’s just another decline like we saw into October.  As a result, they hang on.  The deeper the decline goes, the more convinced they become that the bottom is near.  But, it won’t be and that is how the bear sets people up for a much larger trap and in the end, there is a climatic panic as the wash out into the bottom is seen.  Unfortunately, once the realization occurs, it will then be far too late.”

Setelah S&P 500 naik 26,85% dari 1074.77 hingga 1363.40 dalam 4 bulan saja, grafik harian diatas memperlihatkan persamaan dengan IHSG dimana S&P 500 sedang membentuk sebuah double top yang disertai suatu bearish divergence di Relative Strength Index atau RSI.  Secara alamiah, the bulls memang tidak akan menyerah begitu saja, maka kita kemungkinan akan menyaksikan suatu pertarungan yang sengit selama beberapa hari kedepan antara the bulls and bears.

Tetapi pada akhirnya saya berkeyakinan probabilitas cenderung lebih besar bahwa the bears akan menang karena faktor fundamental maupun teknikal sepenuhnya mendukungnya pada saat ini.  Apalagi indeks belakangan ini bergerak dalam sebuah price pattern yang bearish, yaitu suatu RISING WEDGE.  Pola harga ini pada umumnya berakhir ketika support dipecahkan kebawah dengan target koreksi titik permulaan dari rising wedge tersebut atau sekitar 1,160 dalam hal ini.

 

Selain itu perhatikan juga RSI yang kini masih berada di zona overbought, dan Moving Average Convergence-Divergence atau MACD yang hampir memberikan sinyal jual.  Pendek kata, bursa saham AS dalam waktu dekat kemungkinan besar akan terkoreksi dan pada gilirannya menyebabkan pelemahan bursa saham Indonesia.

Oleh karena itu, sekarang bukan waktunya untuk membeli saham secara agresif, tetapi saatnya untuk meningkatkan kesabaran hati.  Jadi tindakan yang terbaik pada saat ini adalah just relax and stay cool

 

Saran investasi

Untuk sementara waktu investor sebaiknya menahan diri untuk membuka posisi baru, dan menunggu titik masuk yang lebih bagus.  Berarti pertahankanlah sebagian UANG TUNAI sebagai amunisi untuk membeli saham ketika bursa saham terperosok.

Berhubungan dengan siasat tersebut, banyak orang seringkali menanyakan berapa uang yang perlu disimpan dalam bentuk cash.  Jawabannya sebetulnya sangat sederhana: apabila Anda tidur nyenyak pada malam hari, kemungkinan besar Anda sudah memegang cukup banyak uang tunai.  Tetapi kalau tetap gelisah maupun mengalami kesulitan untuk tidur, mungkin saja Anda hanya mempunyai sedikit cash dan terlalu banyak saham.

 

Sedangkan untuk traders, kondisi pasar apapun dapat dimanfaatkan untuk mencari keuntungan, asalkan saham yang lagi diperdagangkan bullish dan manajemen resiko diperketat.  Selanjutnya batasi diri untuk hanya melakukan one-day trading (dimana Anda membeli dan menjual kembali saham dalam hari yang sama) untuk menghindari gap down yang dalam.

Atau Anda tentunya juga dapat meng-hedge portofolio Anda dengan menjual indeks saham Asia di bursa berjangka.  Sebagai contohnya, penjualan satu atau beberapa kontrak Nikkei, Kospi, ataupun Hang Seng bisa digunakan untuk mengkompensasi kerugian yang diderita oleh investor di saham individual ketika bursa terperosok.

Selamat berinvestasi di bursa saham Indonesia, dan semoga sukses dan sehat selalu!

Categories: Pasar Internasional Tags:

Apakah Ledakan Gelembung Hutang Akan Segera Terdengar..? (Part 1)

February 9th, 2012 1 comment

“For country after country, this is the Endgame.  It is the end of the Debt Supercycle.  Debt has grown to the size that it cannot  be sustained.  The market will not lend any more money on terms  that can be afforded, and any efforts to cut spending and raise  taxes will result in an even worse economy, in various degrees  of recession, with falling revenues and rising costs.”

-John Mauldin-

Berhubungan saya setiap pekan membaca sekitar 1000 halaman dalam rangka penelitian pasar keuangan global, kedepan saya akan makin banyak mengutip ungkapan dari pembuat kebijakan, penulis buku, pimpinan perusahaan, akademikus dan sesame analis karena mereka seringkali mempunyai sudut pandang yang menarik mengenai krisis hutang yang berlangsung pada saat ini.  Ini sekaligus juga akan memperdalam pemahaman kami tentang ancaman maupun peluang investasi di bursa saham, pasar obligasi, pasar valuta asing ataupun pasar komoditas selama beberapa tahun mendatang.

 

PENDAHULUAN

“The crisis takes a much longer time coming than you think, and then it happens much faster than you would have thought, and that’s sort of exactly the Mexican story. It took forever, and then it took a night.”

-Rudiger Dornbusch-

Menurut saya Robert Prince, yang merupakan Bridgewater’s co-chief investment officer, barangkali menggambarkan situasi di Eropa paling tepat ketika ia mengatakan bahwa “you’ve got insolvent banks supporting insolvent sovereigns and insolvent sovereigns supporting insolvent banks”.  Sungguh lucu tetapi menyedihkan, bukankah begitu?

Lalu Jim Millstein dari The Financial Times menjelaskan saling ketergantungan antara pemerintah dan bank di masing-masing negara secara cerdas:

“The financial fate of Europe’s banks and its governments are inextricably linked: because the banks are the primary source of funding for government deficits, government debt represents a large proportion of the asset base of most eurozone banks.  Insolvency of one therefore threatens the insolvency of the other …  The truth, however, is that given the level of eurozone government indebtedness and the relative size of Europe’s banks, Europe’s largest banks are too big to save.”

“Such is the seriousness of the problems facing so many countries in Europe; their fate will have global repercussions.  It is why a new, or, some would argue ongoing, global credit crisis is virtually inevitable.”

Dengan kata lain, bank yang bangkrut memberikan pinjaman kepada pemerintah yang bangkrut agar mereka bisa melunasi surat hutang mereka, sementara pada saat yang sama pemerintah yang bangkrut membantu bank yang bangkrut lewat bailouts dan jaminan supaya mereka tetap dapat melangsungkan usahanya.

Pada dasarnya ini hanya sebuah permainan yang menggelikan dimana masalah intinya, yaitu KELEBIHAN HUTANG, makin hari menjadi makin besar.  Mervyn King pun, yang merupakan Gubernur bank sentral Inggris, pada tanggal 18 Oktober 2011 mengingatkan kita mengenai hal tersebut:

“Four years into the crisis it is surely time to accept that the underlying problem is one of solvency not liquidity – solvency of banks and solvency of countries.  Of course, the provision of additional liquidity support to countries and institutions in trouble can buy valuable time.  But that time will prove valuable only if it is used to tackle the underlying problem …  But the underlying problems of excessive debt have not gone away.  As a result, markets are now posing new questions about the solvency of banks and indeed governments themselves.”

Maka jangan heran kepercayaan investor terhadap sistem keuangan Eropa telah hilang seperti air yang melewati suatu pengayak.  Bahkan The Economic Collapse Blog menekankan bahwa:

“It has become clear that without a miracle happening, quite a few European nations and a significant number of European banks are not going to be able to get the funding that they need from the market in 2012.”

Oleh karena itu yield atas obligasi pemerintah di berbagai negara Eropa meroket selama 2 tahun terakhir, yang pada gilirannya meningkatkan bahaya akan default secara dramatis.  Dan … banyak bank yang sudah meminjamkan uang pada mereka sebagai akibatnya juga terancam gagal.  Jadi saya sama sekali tidak bisa membayangkan suatu penyelesaian yang mulus atas permasalahan ini.  Apalagi belum ada keputusan yang konkret, tidak ada pemecahan yang jelas, dan makin banyak pertanyaan yang belum terjawab.

 

APAKAH YUNANI DAPAT DISELAMATKAN?

“Greece will default and it’s going to be ugly.”

-Kyle Bass-

Sayang sekali tetapi saya merasa ungkapan dari Kyle Bass, yang sebelumnya juga telah memprediksi the subprime crisis secara akurat, pada akhirnya akan menjadi kenyataan yang pahit.  Mengapa demikian?

Mari kita menyimak beberapa data ekonomi terlebih dahulu mengenai Yunani berikut ini, agar Anda dapat memutuskan sendiri apakah negara tersebut bisa bertahan di eurozone atau tidak:

- Setelah menderita resesi selama 4 tahun terakhir, perekonomian Yunani kini makin tertekan oleh serangkaian austerity measures, yaitu kenaikan pajak yang disertai pemangkasan gaji dan pensiun.  Sebagai hasilnya, ekonomi Yunani diperkirakan akan terkontraksi sebesar 5,5% tahun lalu dan 2,5% pada 2012.

- Sebetulnya boleh dikatakan bahwa Yunani mengalami sebuah depresi ekonomi yang kejam sebab 100.000 bisnis telah tutup dan sepertiga dari populasi hidup dalam kemiskinan.

- Pemerintah Yunani mengumumkan tingkat pengangguran kemungkinan akan makin mendekati 20% tahun ini, atau naik secara drastis dibanding pertengahan tahun 2010 ketika pengangguran baru 12%.  Bahkan dalam sebuah artikel di zerohedge.com yang berjudul “Europe’s Scariest Chart”, grafik mengenai Youth Unemployment Across Europe (lihat dibawah ini) membuktikan bahwa pengangguran kaum muda antara 16 dan 24 tahun hampir mencapai 50%!

Itulah benar-benar sebuah BOM WAKTU karena sekian banyak pemuda tanpa harapan dan tanpa pekerjaan bisa meluapkan emosinya setiap saat dalam kegiatan yang destruktif.  Untuk menunjukkan keputusasaannya, seorang demonstran misalnya belum lama ini memakai suatu kaos yang bertuliskan: “I don’t need sex.  The government fucks me every day.” Maka saya khawatir bahwa suatu waktu, situasi di Yunani – dan juga Spanyol – tidak akan terkendali lagi …

- Debt-to-GDP ratio di Yunani diprediksi akan naik dari 162% tahun lalu ke 181% di 2012.  Seperti laporan dari Milken Institute mengenai krisis hutang Yunani mengatakan, “Without drastic action, Greece’s debt-to-GDP ratio will rise to even more alarming levels.  The ratio is reaching levels at which it becomes extremely difficult, if not impossible, for a country to avoid default on its debt.”

- Akhirnya Steve Hanke, professor of applied economics di Johns Hopkins University, menyatakan pada the Bloomberg Sovereign Debt Crisis Conference bahwa permainannya sudah sepenuhnya selesai. 

“Whether or not Greece is able to reach an agreement on the restructuring of its debt, the country is set to “implode” as the economy contracts.  All the calculations are nonsense and have been since day one.  Since the crisis began the money supply has been shrinking and the economy is going to implode, no matter what they do in the short run.  Money supply is shrinking at an annual rate of about 16 percent in Greece, meaning there won’t be growth needed to support debt payments.”

 

AUSTERITY atau DEFAULT?

“After adopting the euro, Greece borrowed huge sums of money. The country is now on the brink of a major default.  They’re going to default … it’s now a question of how messy it will be.”

-Michael Lewis in his new book Boomerang-

Kini Yunani mempunyai dua opsi: pemerintah memangkas pengeluaran maupun menaikkan pajak untuk mengurangi defisit anggaran, atau … Yunani mengakui bahwa tidak sanggup untuk membayar hutangnya kembali.  Saya secara pribadi sangat mengharap Yunani pada akhirnya memutuskan untuk default saja supaya sandiwara ini tidak berlangsung terus, dan krisis hutang di Eropa dapat segera memasuki tahap berikutnya dimana pembuat kebijakan dipaksa untuk menghadapi kenyataan (daripada menghindarinya maupun menundanya).

Berkaitan dengan hal tersebut, George Friedman dari Stratfor menjelaskan mengapa Yunani sebaiknya memilih untuk mengumumkan kebangkrutannya:

“It is unclear if the Greeks will opt not to default.  The certain price of default – being forced to use their national currency instead of the euro – actually would increase national sovereignty.  There will be economic pain if the Greeks continue with the euro, and there will be economic pain if the Greeks leave the euro; the political consequences of losing sovereignty in the face of such pain could easily be overwhelming.  Default, while painful to Greece, might well be less painful than the alternative.”

Apalagi setelah Jerman mengusulkan seorang European commissioner atau “debt commissar” seharusnya mengambil alih kebijakan fiskal Yunani untuk memastikan mereka menerima dan menerapkan program penghematan, orang Yunani kemungkinan tidak akan menanggapinya dengan baik.

Sebagai contohnya Evangelos Venizelos, menteri keuangan Yunani, menolak mentah rencana tersebut, kemudian mengatakan itu akan merongrong “identitas bangsa dan kewibawaan” dari Yunani.

Menyusul kejadian ini James Turk dari GoldMoney bereaksi,

“It looks like Greece is ready to blow up.  The Greeks have rejected German-led calls for the EU to start managing Greek government finances.  That would mean the complete loss of Greek sovereignty, so the Greek finance minister obviously rejected that dictate.  Consequently, it looks like Greece is not going to get its next bailout, meaning it will default.”

Dan … orang Jerman pun makin tidak berniat untuk membantu Yunani secara terus-menerus.  Misalnya di majalah Jerman Der Spiegel, Hans-Werner Sinn dari Ifo Institute berkata:

“When it comes to Greece, it’s clear that it’s hopeless.  It would be better for the country to finally leave the euro and transform its foreign debts to drachma, than to constantly beg for new aid and set itself up for lasting charity.”

Kemudian the center-left daily Süddeutsche Zeitung menulis:

“People are increasingly wondering: ‘If the Greeks don’t want to help themselves, why should we?’  Some in Athens are wondering the same thing.  They believe that a terrible end is better than terror without end, that it’s better to stop taking on more credit that the country won’t be able to pay back anyway, and that the severe austerity (measures) must end.  But the problem is that nobody knows what would happen were Greece to actually leave the euro zone.  There is no precedent to look at, no emergency plan and no lifeboats that could be depended on.”


APA YANG DITAKUTKAN?

Pada dasarnya semua orang secara intuitif tahu bahwa Yunani sudah tidak terselamatkan lagi karena meskipun mereka menerima bailout sebesar 145 milyar euro, hanya dalam beberapa tahun mendatang Yunani akan membutuhkan pinjaman lagi yang malahan makin besar.  Jadi mengapa semua pihak tidak bersikap dewasa saja dan mengakui bahwa situasinya sebetulnya tak berpengharapan, daripada berpura-pura secara terus-menerus bahwa semuanya terkendali dengan baik?

Itu memang sebuah pertanyaan yang bagus, dan jawaban untuknya sangat sederhana: pembuat kebijakan dan terutama ahli politik sangat khawatir mengenai dampaknya dari kebangkrutan negara Eropa Selatan ini!  Berikut ini akan saya coba mengulas beberapa hal yang pasti sedang dipertimbangkan oleh pemimpin di Uni Eropa:

- Apabila Yunani default atas hutangnya yang bernilai sekitar $500 billion, apakah itu akan terlaksana dengan cara yang rapi atau malahan meningkatkan tekanan terhadap sistem perbankan di Eropa?  Dan … apakah sebuah DOMINO EFFECT dapat menjatuhkan negara yang lainnya, seperti Portugal, Irlandia, Spanyol, Italia, Belgia dan bahkan Prancis?

- Secara keseluruhan, SISTEM PERBANKAN GLOBAL memberikan pinjaman ke Yunani, Irlandia, Portugal, Spanyol dan Italia senilai $2 trillion.  Sebagai akibatnya, kata James Ferguson dari MoneyWeek magazine,

”if countries default, or worse leave the euro and devalue to save themselves, they’ll kill the banks. And not just those in their own country, but the ones in core Europe that lent to the periphery as well.  That’s why the ‘core’ has to stump up to save the rest of Europe.”

Kemudian sebuah artikel di The Economist menambahkan:

“If a messy default is forced upon a euro-zone country, it might be tempted to reinvent its own currency.  Indeed, it may have little option.  That way, at least, it could write down the value of its private and public debts, as well as cutting its wages and prices relative to those abroad, improving its competitiveness.  The switch would be hugely costly for debtors and creditors alike.  But the alternative is scarcely more appealing.  Austerity, high unemployment, social unrest, high borrowing costs and banking chaos seem likely either way.”

“The prospect that one country might break its ties to the euro, voluntarily or not, would cause widespread bank runs in other weak economies.  Depositors would rush to get their savings out of the country to pre-empt a forced conversion to a new, weaker currency.  Governments would have to impose limits on bank withdrawals or close banks temporarily.  Capital controls and even travel restrictions would be needed to stanch the bleeding of money from the economy.  Such restrictions would slow the circulation of money around the economy, deepening the recession.”

Dan akhirnya Stratfor menyimpulkan bahwa

“… the day that Greece defaults on that debt, the day that it’s ejected from eurozone, there will be catastrophic banking collapses in Portugal, Italy, Spain and France, probably in that order.” Bahkan “… the markets will go wild and the state that is in the most danger of falling after Greece is Italy.  Using the bailouts that have happened to date as a template, any bailout of Italy would have to provide enough financing to cover all Italian needs for three years.  That comes out to about 800 billion euro.”

- Seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini, baik sektor manufaktur maupun sektor jasa telah terkontraksi dalam 5 bulan terkahir.  Maka apabila mesin pertumbuhan di Uni Eropa mandek, bagaimana kemampuan dan/atau keinginan dari negara Eropa yang lebih kuat untuk tetap mendukung anggota yang sedang berada diambang kebangkrutan?

Sekarang saja Jerman sudah mulai marah dan tertegun dengan biaya yang makin membengkak untuk menyatukan euro sebab pada akhirnya, jika Yunani memperoleh kesepakatan yang baru, Portugal dan Irlandia juga akan menuntut syarat-syarat yang lebih bagus untuk bail-out mereka.  The Economic Collapse Blog pun berpikir demikian:

“You see, the truth is that what this Greek debt deal has done is that it has opened up Pandora’s Box.  Most of the financially troubled nations in Europe are eventually going to want a “deal”, and this uncertainty is going to drive investors crazy.”

- Yunani secara de facto sudah bangkrut, dan default-nya sebagian (besar) telah terdiskonto oleh pasar.  Namun Portugal berada dalam posisi yang sama, jadi mungkin saja kejatuhannya akan memberikan pukulan yang telak untuk mata uang tunggal …

Menurut data dari Bank of International Settlements (atau BIS), hutang Portugal secara keseluruhan sebesar 479% dari PDB sementara hutang publik dan hutang privat Yunani “hanya” 296% dari PDB.  Berarti Portugal berhutang 783 billion euros, atau 80 milyar euro lebih banyak ketimbang Yunani.

Selanjutnya data dari BIS juga menunjukkan bank Eropa lebih rentan terhadap kebangkrutan Portugal daripada Yunani.  Secara gabungan, bank memberikan pinjaman senilai $244 billion ke Portugal, sedangkan Yunani cuma diberikan pinjaman sebesar $204 billion.

Dan … Portugal secara umum merupakan salah satu anggota termiskin di Uni Eropa, dengan gross domestic product per capita sejumlah $21,000, atau jauh lebih rendah ketimbang Yunani yang sebesar $26,000!

 

KESIMPULAN

“I think Europe’s sovereign debt crisis ends when there is a really violent blow-up on the periphery, probably originating in Greece or possibly in some other place …  At some point the destruction of the society becomes intolerable, and that’s where you’ll see the flash point, it seems to me.”

-James Galbraith, professor of economics at the University of Texas-

Perjanjian Uni Eropa, yang menciptakan the euro dan membuat  peraturan untuk keanggotaannya, sama sekali tidak membahas kemungkinan untuk anggota meninggalkan Uni Eropa.  Oleh karena itu sebuah pemecahan dikhawatirkan menimbulkan kekacauan dimana masyarakat bertindak anarkis.

Yunani kemungkinan hanya akan menjadi domino yang pertama maupun puncak dari gunung es.  Dengan PDB yang sekitar $320 billion, ekonomi Yunani kurang dari seperempat ukuran Spanyol ($1.4 trillion) yang, pada gilirannya, hanya kira-kira dua pertiga ukuran Italia ($2.1 trillion).  Lalu PDB Prancis sebesar $2.65 trillion, sementara perekonomian Jerman telah mencapai $3.3 trillion.  Dan … semua mempunyai masalah tersendiri, entah itu di tingkat negara atau di sistem perbankannya.

Untuk menutup artikel ini, saya ingin mengutip sedikit dari bukunya Michael Lewis yang berjudul BOOMERANG, Travels in the New Third World:

“European leaders have done nothing but delay the inevitable reckoning, by scrambling every few months to find cash to plug the ever growing holes in Greece, Ireland, and Portugal, and praying that bigger and more alarming holes in Spain, Italy, and even France do not reveal themselves.”

“The bigger problem with a Greek default is that it might well force other European countries and their banks themselves into default.  At the very least it would create panic and confusion in the market for both sovereign and bank debt, at a time when a lot of banks and at least two big European debt-ridden countries, Italy and Spain, cannot afford panic and confusion.”

Apapun bisa terjadi kedepan, dan tidak seorang pun tahu secara pasti bagaimana krisis hutang di Eropa akan berakhir.  Maka Anda sebaiknya menyiapkan siasat investasi yang mapan, supaya tidak panik ketika domino jatuh satu per satu …

Semoga Anda sukses dan sehat selalu!

Categories: Pasar Internasional Tags: