Home > Pasar Internasional > Apakah Anda siap untuk wave C di IHSG?

Apakah Anda siap untuk wave C di IHSG?

February 21st, 2012 nico Leave a comment Go to comments

Judul lain yang cocok untuk artikel ini adalah: “Apakah Anda siap untuk menghadapi pelemahan bursa saham Indonesia?”  Mengapa demikian?  Karena wave C merupakan gelombang yang turun, dimana IHSG kemungkinan besar akan terkoreksi secara signifikan dan menembus level terendahnya dari wave A di 3217.951.

Saya pernah menampilkan grafik bulanan dengan Elliott Waves dibawah ini dalam Market Outlook 2012.  Kini grafik tersebut penting sekali, sebab kita sekarang berada di persimpangan jalan.

Apabila wave B misalnya telah berakhir, kita segera akan menyaksikan awalnya dari wave C.  Meskipun gelombang itu memang bisa turun cukup dalam, setelahnya bursa akan membentuk Intermediate wave (3) dari Primary wave 3, yang pada umumnya paling besar dan panjang diantara semua gelombang.  Jadi masa depan sangat cerah untuk IHSG, tetapi kita perlu melewati penurunan yang lumayan tajam terlebih dahulu …

Lalu bagaimana kita tahu bahwa wave C sudah dimulai?  Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita seharusnya meneliti daily chart dengan support maupun resistance.  Seperti dapat Anda lihat pada grafik berikut ini, IHSG selama dua bulan terakhir ini tidak mampu untuk memecahkan resistance di sekitar 4030.

Apalagi percobaan kedua pada tanggal 6 Februari lalu disertai dengan suatu bearish divergence di Relative Strength Index, yang menunjukkan momentum IHSG mulai melemah.  Kedepan support di 3875, yang sebelumnya berlaku sebagai tahanan, harus utuh untuk melanjutkan uptrend dalam jangka pendek.  Jika ternyata level itu ditembus dan bursa saham ditutup di bawahnya, kemungkinan kita akan menyaksikan penurunan yang lebih lanjut.

Perhatikan juga bahwa wave C nanti akan terdiri dari 5 gelombang, atau sama dengan wave A sebelumnya.  Maka untuk mengetahui apakah koreksinya sudah selesai, kita tinggal menghitung jumlah Minor waves saja.

Lalu Anda pasti penasaran kira-kira sampai berapa target koreksi, bukankah begitu?  Dalam menentukan level tersebut, grafik bulanan dengan fibonacci retracements dibawah ini paling cocok:

Buying zone atau daerah yang relatif aman untuk membeli saham terletak antara 2275 dan 3009, yang masing-masing merupakan 61.8% dan 38.2% fibonacci retracements.  Kemudian puncaknya dari Primary wave j di 2838.476 pun seharusnya memberikan dukungan ketika bursa melemah selama wave C dibentuk.

Akhirnya akan lebih baik apabila investor menunggu golden cross di MACD (Moving Average Convergence-Divergence), yang sepanjang 6 bulan terakhir ini masih memberikan sinyal jual.  Dan … jika RSI bisa turun hingga di bawah 30 maupun memasuki daerah yang sangat oversold, Anda akan ditawarkan peluang emas untuk membeli saham pada harga diskon sungguhan!

 

Fundamental tidak terlalu penting

Belakangan ini hampir semua pelaku pasar menghandalkan makro ekonomi Indonesia yang stabil maupun perolehan investment grade dari Fitch dan Moody’s sebagai pembenaran untuk masuk ke pasar modal Indonesia.  Tetapi kedua hal ini pada dasarnya tidak menentukan apakah IHSG akan melonjak naik atau tidak.

Seperti MoneyWeek editor-in-chief Merryn Somerset Webb mengatakan:

“Yes, emerging market economies are still growing faster than those in the West.  But as we always point out, economic performance is no real guide to stock market performance.”

“Short-term performance is about money flows; long-term performance is about price (the cheaper you buy, the better the long-term return).”

Jadi ALIRAN DANA (baik dari investor domestik maupun investor asing) adalah hal yang paling penting dalam jangka pendek, sementara VALUASI saham akan mendasari hasil investasi Anda dalam jangka panjang.  Oleh karena itu, jangan heran apabila saya menyerukan fundamental tidak terlalu penting.  Sebagai buktinya, IHSG anjlok sekitar 60% pada tahun 2008, meskipun Produk Domestik Bruto Indonesia tetap bertumbuh lebih dari 4%.

Pertama-tama, valuasi bursa saham Indonesia kini relatif mahal secara komparatif karena telah outperform indeks saham lainnya selama 2010 dan 2011.  Coba saja menyaksikan grafik diatas ini, yang menampilkan kinerja berbagai bursa dari negara berkembang dalam dolar AS pada tahun yang lalu.

Justru karena IHSG jauh mengungguli penghasilan bursa lainnya, makin banyak opsi yang lebih murah tersedia untuk investor di kawasan Asia ketimbang Indonesia.  Ini mungkin salah satu alasan mengapa investor asing membukukan net selling senilai 2,4 trilyun rupiah selama dua pekan terakhir.

Kedua, aliran dana atau hot money dapat hengkang dari Indonesia dengan cepat ketika investor tidak merasa nyaman lagi dengan resiko yang ditanggungnya.  Berkaitan dengan hal tersebut, sekarang ada tiga faktor yang perlu diwaspadai dengan seksama:

1) pelambatan bahkan resesi dalam ekonomi yang maju;

2) deleveraging di negara maju bisa menghentikan aliran dana kedalam pasar berkembang;

3) US dollar yang lebih perkasa dapat mengalihkan dana dari mata uang Asia.

 

Mengapa bursa saham AS kini berada di ujung tanduk?

“I suspect that hope is going to accompany the decline just as it did during the first half of 2008, and it will keep most investors from selling until much later in the process.  Price change occurs at the margin.  Most people just hold on until late in the game. At the bottom in March 2009, trade-futures.com reported only 2% bulls among S&P futures traders.  It was the lowest reading ever. And that’s when sellers got serious.”

-Robert Prechter, The Elliott Wave Theorist-

Selain faktor internal yang diuraikan di atas, ada juga faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kinerja IHSG kedepan, yaitu arah pergerakan bursa saham AS.  Seperti kita telah ketahui, korelasi antara bursa saham AS dan bursa saham Asia pada umumnya sangat erat jadi setiap kenaikan ataupun penurunan di Amerika Serikat diikuti dengan pergerakan yang sama di kawasan Asia.

Jika kita meneliti bursa saham AS secara mendalam, kita bisa menemukan banyak alasan kenapa kita harus bersiap diri untuk menghadapi suatu penurunan yang signifikan.  Berikut ini akan saya coba memberikan 9 ALASAN saja, tetapi saya yakin Anda mungkin dapat melengkapinya dengan hal yang lainnya:

1) INVESTOR SECARA PERSEORANGAN di AS pada saat ini MERASA TERLALU OPTIMIS mengenai perkembangan bursa saham.  Oleh karena itu tidak banyak orang yang bearish terhadapnya, seperti diungkapkan dalam Global Market Perspective pada 3 Februari 2012:

“According to the American Association of Individual Investors, the level of bearishness hit multi-year lows in January.  The one-month (four-week) average of the percentage of AAII bears dropped to 19.2%, as the inverted line at the bottom of the above chart shows.  The reading makes the contingent of AAII bears smaller now than it was when the Dow reached its all-time price peak in 2007!”

2) Dengan pertimbangan bahwa MARJIN KEUNTUNGAN dari perusahaan yang tercatat di bursa saham AS pada kuartal keempat 2011 MENGALAMI PENURUNAN TERBESARNYA dalam basis kuartalan SEJAK KRISIS KEUANGAN DI 2008, harga saham terlihat agak rentan terhadap koreksi.

3) EKONOMI AS KEMUNGKINAN AKAN MEMASUKI RESESI KEMBALI pada tahun ini, berhubungan konsumen, yang menyumbang sekitar 70% terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto, ditekan oleh penurunan pendapatan maupun kekayaan bersih secara riil.

Seperti Dr. Lacy Hunt, the chief economist at Hoisington Investment Management, mengatakan:

“… consumer spending will slow this year very dramatically from a very weak base.  We had a decline in real disposable income in 2011.  GDP rose, but GDP measures spending, not prosperity.  In 2011, as is often the case, when inflation rises, households initially try to maintain their standard of living.  So in the face of rising inflation and trailing wages, which was the story in 2011, families resorted to increased credit card usage or to drawing down their saving.  But in addition to a decline in real disposable income in 2011, we also saw a net decline in net worth [lower chart below].  And a year-over-year decline in net worth has been associated with the start of all the recessions since 1969.”

4) Kegairahan dari investor perseorangan tidak ditumpahkan ke pemilik maupun manajemen perusahaan yang mempunyai saham.  Misalnya menurut market research firm TrimTabs, CORPORATE INSIDERS telah MENJUAL SAHAM MEREKA senilai $2.3 billion pada Februari, atau 15,5 kali lipat jumlah saham yang dibelinya.

5) The Elliott Wave Financial Forecast pada bulan yang lalu memberitahu bahwa JUMLAH UANG TUNAI DI REKSADANA sedang BERADA DI LEVEL YANG MENGKHAWATIRKAN:

“At 3.5%, the mutual fund cash-to-assets ratio is just .02 percent from the record low, meaning that money managers are so confident that the market will not crack that they hold very little cash in reserve.  The Dow dividend yield is 2.53%, which means not only that the market is historically overvalued, but also that investors see little need for cash payments up front because they foresee large capital gains.”

6) Jeffrey Saut, chief investment strategist at Raymond James, menyatakan suatu tanda negatif lainnya untuk saham adalah sebuah laporan yang menunjukkan LOMPATAN YANG BESAR DALAM SHORT POSITIONS (atau pertaruhan bahwa saham akan turun) oleh hedge funds:

“The smart money is short $7.4 billion versus various indices …  That was up from a previous $2.7 billion.  That’s one of the largest weekly jumps I’ve ever seen, and it’s the highest short position by the commercial hedges since 2002.”

7) Elliott Wave International juga mencatat bahwa momentum mengirim suatu pesan pasar yang penting, dimana KEKUATAN PASAR SECARA INTERNAL MULAI MELEMAH:

“Even as prices rallied, the percentage of S&P 500 stocks below their 10-week moving average indicates the advance has been weaker than many investors may realize.”

 

8 ) Meskipun the S&P membukukan kenaikan terbesar untuk bulan Januari selama 15 tahun terakhir, volumenya sama sekali tidak mendukungnya.  Dengan kata lain, JUMLAH SAHAM YANG DIPERDAGANGKAN TURUN LUAR BIASA PADA SAAT BURSA SAHAM NAIK SECARA SIGNIFIKAN!

Zerohedge.com pun menyampaikan:

“Last January (2011) the average number of stocks traded on the NYSE per day was 891 mm shares vs 661 mm for this January (a 26% drop YoY!) and this is down an incredible 59% from January 2008.”

9) Terakhir Investors Intelligence, yang memiliki banyak indikator yang sangat bermanfaat, baru saja merilis laporan mengenai bursa saham AS dimana mereka memperingati investor untuk berhati-hati dalam jangka pendek:

“The NYSE % 10-week moving average is a short-term breadth indicator; analyzed by us at Investors Intelligence since 1968.  This breadth indicator measures the percentage of stocks in the NYSE trading above their own 10-week moving average.  Typically in a year the indicator will only reach current levels (this week’s high was 86.36%) a handful of times, after which equities would correct or consolidate.”

“Over the past two years there have been three overbought instances as per the current overbought condition.  For example, in April 2010, the S&P 500 corrected 17%.  In October 2010, the index went sideways.  In October 2011 the index shed 10%.  The corrections do not always follow immediately but certainly inside of a few weeks.”

“This indicator stresses short-term caution.”

 

Tingkatkan kewaspadaan terhadap koreksi dadakan

“When market sentiment gets to an extreme on either side – pessimistic or optimistic – more often  than not, the trend is near its reversal. Extreme opinions, shared widely, constitute the single most reliable indicator of an impending change of direction for a market.  If virtually everyone is thinking one way, they have already acted …”

-Robert Prechter, The Elliott Wave Theorist, July 2006-

Sudah berulangkali saya menampilkan grafik bulanan ini untuk membuktikan tren bursa saham AS masih bearish dalam jangka panjang.  Dengan kata lain, bursa saham di Amerika Serikat sedang berada dalam sebuah secular bear market atau bear market yang berkepanjangan.

Pandangan saya pada saat ini masih sama, yaitu saham sekarang bergerak naik dalam Intermediate wave (2).  Artinya setelah gelombang (2) selesai terbentuk, kita akan memasuki Intermediate wave (3) yang seharusnya turun dalam sekali karena Intermediate wave (3) dari Primary wave 3 pada umumnya paling panjang (kemungkinan akan berdurasi 9 hingga 15 bulan).

Maka dari itu jangan heran saya belakangan ini banyak menulis artikel mengenai potensi anjloknya bursa saham dunia.  Intinya adalah meyakinkan Anda untuk lebih berhati-hati selama beberapa bulan kedepan agar tidak terjebak pada puncaknya.  Tidak lebih dan … tidak kurang dari itu saja.

Sebelum saya membahas daily chart dari S&P 500 secara mendalam, mari kita mencermati terlebih dahulu apa yang dikatakan oleh Tim Wood, Editor dari Cyclesman.com, karena ia mampu menggambarkan kondisi pasar terkini dengan cemerlang:

“… the higher the rally out of the August/October low has gone, the more comfortable the masses have become with the rally.  We are now seeing a sense of optimism and people have by and large forgotten about the pain and fear they experienced into October.  All the while, they do not realize that it’s all really part of a bigger setup.”

“Long-term, the evidence continues to suggest that we are still operating within a secular bear market, which began at the 2007 top.  Based on all historical measures, the bottom likely did not occur in March 2009.  Rather, the evidence suggests that the phase I low of the bear market occurred at the March 2009 low and that the rally separating phase I from phase II has been underway ever since.  According to Dow theory, secular bull and bear markets alike unfold in three phases.  It has been the continuance of this rally that has served to lull the public back to sleep and the average person sees that the markets are rising and they naturally think that the worst is behind us and I understand that.  However, this lack of understanding of the big picture setup that is unfolding, the false optimism and the wish that the worst is behind us is ultimately going to cost the average investor dearly once this larger counter-trend move concludes.”

“I’m telling you, based on the statistics, this bear market is likely not over and once the proper setup is in place, there is more financial trouble to come.”

“… the risk to the market will be far greater than most anyone expects.  Trouble is, it will begin like any other correction and people will think that it’s just another decline like we saw into October.  As a result, they hang on.  The deeper the decline goes, the more convinced they become that the bottom is near.  But, it won’t be and that is how the bear sets people up for a much larger trap and in the end, there is a climatic panic as the wash out into the bottom is seen.  Unfortunately, once the realization occurs, it will then be far too late.”

Setelah S&P 500 naik 26,85% dari 1074.77 hingga 1363.40 dalam 4 bulan saja, grafik harian diatas memperlihatkan persamaan dengan IHSG dimana S&P 500 sedang membentuk sebuah double top yang disertai suatu bearish divergence di Relative Strength Index atau RSI.  Secara alamiah, the bulls memang tidak akan menyerah begitu saja, maka kita kemungkinan akan menyaksikan suatu pertarungan yang sengit selama beberapa hari kedepan antara the bulls and bears.

Tetapi pada akhirnya saya berkeyakinan probabilitas cenderung lebih besar bahwa the bears akan menang karena faktor fundamental maupun teknikal sepenuhnya mendukungnya pada saat ini.  Apalagi indeks belakangan ini bergerak dalam sebuah price pattern yang bearish, yaitu suatu RISING WEDGE.  Pola harga ini pada umumnya berakhir ketika support dipecahkan kebawah dengan target koreksi titik permulaan dari rising wedge tersebut atau sekitar 1,160 dalam hal ini.

 

Selain itu perhatikan juga RSI yang kini masih berada di zona overbought, dan Moving Average Convergence-Divergence atau MACD yang hampir memberikan sinyal jual.  Pendek kata, bursa saham AS dalam waktu dekat kemungkinan besar akan terkoreksi dan pada gilirannya menyebabkan pelemahan bursa saham Indonesia.

Oleh karena itu, sekarang bukan waktunya untuk membeli saham secara agresif, tetapi saatnya untuk meningkatkan kesabaran hati.  Jadi tindakan yang terbaik pada saat ini adalah just relax and stay cool

 

Saran investasi

Untuk sementara waktu investor sebaiknya menahan diri untuk membuka posisi baru, dan menunggu titik masuk yang lebih bagus.  Berarti pertahankanlah sebagian UANG TUNAI sebagai amunisi untuk membeli saham ketika bursa saham terperosok.

Berhubungan dengan siasat tersebut, banyak orang seringkali menanyakan berapa uang yang perlu disimpan dalam bentuk cash.  Jawabannya sebetulnya sangat sederhana: apabila Anda tidur nyenyak pada malam hari, kemungkinan besar Anda sudah memegang cukup banyak uang tunai.  Tetapi kalau tetap gelisah maupun mengalami kesulitan untuk tidur, mungkin saja Anda hanya mempunyai sedikit cash dan terlalu banyak saham.

 

Sedangkan untuk traders, kondisi pasar apapun dapat dimanfaatkan untuk mencari keuntungan, asalkan saham yang lagi diperdagangkan bullish dan manajemen resiko diperketat.  Selanjutnya batasi diri untuk hanya melakukan one-day trading (dimana Anda membeli dan menjual kembali saham dalam hari yang sama) untuk menghindari gap down yang dalam.

Atau Anda tentunya juga dapat meng-hedge portofolio Anda dengan menjual indeks saham Asia di bursa berjangka.  Sebagai contohnya, penjualan satu atau beberapa kontrak Nikkei, Kospi, ataupun Hang Seng bisa digunakan untuk mengkompensasi kerugian yang diderita oleh investor di saham individual ketika bursa terperosok.

Selamat berinvestasi di bursa saham Indonesia, dan semoga sukses dan sehat selalu!

Categories: Pasar Internasional Tags:
  1. bs
    February 24th, 2012 at 02:33 | #1

    terima kasih pak nico atas ulasannya, apakah komiditi emas akan menglami hal yang sama, sperti yg diketahui IHSG turun, maka emas biasanya akan turn (tahun2008)?

  1. No trackbacks yet.