Archive

Archive for June, 2012

GUEST POST: Rebound AUDUSD akan jadi peluang jual kembali?

June 28th, 2012 No comments

Oleh: Rekhmen Abadi (Staf Research Dept. Valbury Asia Futures)

Optimisnya data ekonomi AS dan kenaikan harga minyak mentah AS semalam memicu bangkitnya kembali bursa saham utama dunia, termasuk juga mayoritas bursa saham Asia di sesi Kamis (27 Jun) pagi ini.

Kemarin bursa saham Eropa rebound dari tekanan besarnya dan saham-saham di bursa Wall Street memperoleh kenaikan terbesar pekan ini, rata-rata lebih dari setengah persen, setelah data menunjukkan demand untuk barang-barang manufaktur tahan lama (durable goods order) serta pending home sales meningkat di bulan Mei.

Berlanjut melemahnya demand global maupun domestik AS masih beresiko menekan aktifitas order-order barang-barang manufaktur tersebut, sehingga kenaikannya di bulan Mei tersebut nampaknya sulit untuk berlanjut di periode berikutnya.

Namun demikian pembelian rumah bekas AS melonjak ke level tertingginya selama 2 tahun, mendorong optimisme bahwa pasar perumahan sedang dalam pemulihan.

Indeks Nikkei Jepang <.N225> pagi ini naik hingga 1,4 persen, dan seperti yang dikatakan oleh Guy Stear, kepala riset Societe Generale Hong Kong:

“People don’t want to go short into the meeting (EU Summit), that’s why we have a bit of a short-covering bounce. There’s always a potential in Europe for a surprise.”

Jika KTT Uni Eropa mengecewakan, maka fokus pasar akan beralih pada apa yang dilakukan ECB di sidang moneter regulernya awal Juli nanti, mungkin akan ada antisipasi pemangkasan suku bunga.

Dalam laporan risetnya, ANZ mengatakan: “The ECB meets next week and it is pretty clear the region is in need of some more stimulus as soon as possible.”

Yield obligasi Italia jangka pendek bertenor 6 bulan naik hingga 2,957 persen pada lelangnya Rabu lalu, level tertinggi sejak Desember. Kamis ini akan digelar lelang obligasi jangka panjang Italia bertenor 5 dan 10 tahun, yang nampaknya akan menjadi ujian untuk melihat minat investor terhadapnya.

Sementara harga minyak mentah AS di bursa berjangka </CLc1> berlanjut naik ke $80.86 per barel Rabu lalu, atau naik 1,3 persen dari penutupan Selasa sebelumnya.

Saya tertarik melihat pergerakan AUDUSD belakangan ini yang melawan trend pasar mata uang yang relatif cenderung melemah atas dolar AS. AUDUSD dalam beberapa hari terakhir justru menunjukkan rebound seiring dengan kian dekatnya pelaksanaan KTT Uni Eropa, mayoritas pelaku pasar ini terjadi karena aksi short-covering dari tekanan jual besar sebelumnya.

What Do the Charts Say?

Namun demikian pelaku pasar belum menampik peluang kelanjutan penurunan suku bunga Australia, seperti diproyeksikan oleh Credit Suisse Rabu lalu bahwa akan terjadi pemangkasan suku bunga hingga 100 bps (1,0%) dalam 12 bulan ke depan. Dan RBA pun masih mempertahankan dovish tone-nya terhadap kebijakan moneter, oleh karenanya Aussie dollar sebagai mata uang ber-yield tinggi berpotensi menghadapi tekanan lebih lanjut dalam jangka pendek.

Jika rebound AUDUSD menjelang akhir Juni dan akhir kuartal kedua ini masih tertahan di bawah SMA-200 seperti yang terlihat pada daily chart di bawah ini, maka high bulan Juni akan menjadi resistance memasuki kuartal ketiga pekan depan.

Pada weekly chart di atas, AUDUSD terlihat telah menyelesaikan 5 gelombang akselerasi menurut Elliot Wave sejak level terendah  2008 saat krisis finansial AS di 0.6004 hingga level puncak 2011 di 1.1080. Ini akan memicu fase konsolidasi meskipun saat ini sedang tertahan dalam formasi triple bottom di sekitar level 0.9535.

Akan sangat menarik melihat apakah tekanan AUDUSD mampu menembus dan bertahan di bawah level 0.9535, terutama jika prospek pemangkasan suku bunga kian meningkat.

Jika YA, maka konsolidasi akan lebih dalam untuk masuk ke fase retracement dari kenaikan tersebut.

Tetap ikuti dengan seksama perkembangan pasar untuk memperoleh peluang maupun mengetahui resiko yang mungkin ada di depan mata.

Dibuat Tanggal 28 Juni 2012

Categories: Pasar Internasional Tags:

GUEST POST: Bullish Divergence pada Minyak Mentah AS

June 28th, 2012 No comments

Oleh: Rekhmen Abadi (Staf Research Dept. Valbury Asia Futures)

Semakin dekat pelaksanaan KTT Uni Eropa semakin rendah ekspektasi terhadap terobosan yang akan diambil dari pertemuan tersebut, dan semakin enggan investor mengambil posisi apapun secara agresif. Tetapi momentum kepanikan yang memicu tekanan jual nampaknya telah mereda, mengindikasikan investor mulai melihat peluang untuk pasar bangkit setelah mengalami tekanan belakangan ini.

Saham-saham di Wall Street ditutup naik rata-rata sekitar setengah persen kemarin (26 Juni), sementara harga minyak mentah AS berhasil bertahan di atas level $79 di pertengahan sesi Asia Rabu ini (27 Juni) menjelang rilis data inventory minyak mentah AS yang diproyeksikan akan mengalami penurunan meskipun di sisi lain masih besarnya kekhawatiran terhadap krisis hutang Eropa dapat membatasi kenaikan harga minyak dari data tersebut.

Rebound di pasar finansial AS kemarin (26 Juni) dipicu oleh data indeks harga perumahan April AS dari S&P/Case-Shiller terhadap nilai indeks properti di 20 kota AS yang mengalami penurunan tidak seperti yang dikhawatirkan, yakni -1.9% yang merupakan penurunan terkecilnya selama lebih dari setahun.

Inventory minyak mentah AS di pekan lalu diproyeksikan akan merosot 500k barel karena penurunan impor, demikian ditunjukkan oleh hasil polling Reuters terhadap para analis. Data dari Energy Information Administration (EIA) tersebut akan dirilis Rabu (27 Juni) malam pukul 21.30 WIB.

Selain data inventory minyak, pasar juga akan menantikan data durable goods order Mei AS di hari yang sama pada pukul 19.30 WIB, yang diproyeksikan akan membaik +0.5% dari April sebelumnya.

Sementara itu, perusahaan Statoil akan menutup 4 pusat produksi minyaknya di Laut Utara akibat aksi mogok kerja yang mempengaruhi pengiriman minyak dan gas, demikian dinyatakan oleh pihak perusahaan. Aksi mogok kerja ini telah memangkas produksi minyak Norwegia sebesar 150k barel per hari sehingga memicu kenaikan harga minyak Brent di pasar berjangka sebesar 2 persen untuk settle di atas level $93 per barel Selasa (26 Juni) kemarin.

Ladang minyak Majnoon Irak, salah satu ladang minyak terbesar di antara anggota  OPEC, juga mulai ditutup karena proses perbaikan dan pemeliharaan, namun belum diketahui berapa lama lagi akan beroperasi normal, demikian dikatakan oleh seorang operator dari Royal Dutch Shell.

Penutupan pusat-pusat produksi minyak tersebut berpotensi memicu kenaikan harga minyak dalam jangka pendek ini.

Namun di Teluk Meksiko, sejumlah produsen minyak dan gas justru mulai kembali beroperasi setelah dilanda badai tropis Debby Selasa lalu (26 Juni) yang mengganggu operasional industri energi di sana. Perjalanan badai tropis yang namanya juga baru diberikan tahun ini tersebut ternyata mulai melemah dan terhenti di sekitar Florida. Hal ini akan menghindari gangguan produksi minyak lebih buruk, dan bersama dengan sentimen pesimis terhadap KTT Eropa bisa saja akan menghambat kenaikan tajam pada harga minyak.

What Do the Charts Say?

Minyak mentah AS di pasar berjangka </CLc1> telah tertekan hampir 30% dari puncak sementara 2012 di 110.55 yang dicapai pada February. Kemudian di areal terendah sementara tahun ini, di 77.56, kita dapat melihat pola bullish divergence pada daily chart di bawah ini.

Resistance awal akan berada pada areal yang sebelumnya merupakan horizontal support, yakni di sekitar 81an. Boleh jadi dapat mengundang para buyer jika harga mampu test break dan bertahan di atas areal tersebut. Sementara high pekan lalu di 85.60 hingga high sementara Juni ini di 87.03 dapat dijadikan target untuk pola ini, yang menurut saya masih cukup dipandang sebagai koreksi normal dari penurunan tajam sebelumnya.

Masih tetap perlu diwaspadai tekanan bagi pasar belumlah sirna, kita boleh berharap yang terbaik namun juga harus mewaspadai resiko terburuk. Penurunan harga menembus ke bawah level 77.56 dan penurunan RSI-14 ke bawah garis uptrend-nya akan menggagalkan pola bullish divergence tersebut.

Dibuat Tanggal 27 Juni 2012

Categories: Pasar Internasional Tags:

GUEST POST: Emas kok turun?

June 28th, 2012 No comments

Oleh: Rekhmen Abadi (Staf Research Dept. Valbury Asia Futures)

Moody’s Investors Service kemarin (25 Juni) menurunkan peringkat the long-term debt dan deposit ratings 28 bank Spanyol, setelah memangkas peringkat sovereign debt-nya mendekati level junk status awal bulan ini.

Hal ini menambah kekhawatiran bagi para investor yang sedang mengantisipasi lemahnya pertumbuhan ekonomi global dan bagi mereka yang masih belum yakin bahwa KTT Uni Eropa pada 28-29 Juni pekan ini akan melahirkan solusi kongkrit untuk krisis Uni Eropa. KTT Uni Eropa di Brussel pekan ini merupakan yang ke-20 kali diadakan sejak krisis Yunani di awal tahun 2010.

Juga di hari Senin, kanselir Jerman Angela Merkel memudarkan harapan pasar finansial mengenai obligasi bersama untuk membantu negara-negara yang dililit hutang, dan menyebutnya sebagai ‘economically wrong’ and ‘counterproductive’.

Dari Yunani diberitakan bahwa menteri keuangannya yang baru mengundurkan diri kemarin (25 Juni) karena alasan kesehatan, sehingga membuat upaya untuk melonggarkan persyaratan bailout internasional belum menemui titik terang. Sementara PM Antonis Samaras telah mengatakan tidak akan hadir dalam KTT Uni Eropa pekan ini karena baru selesai operasi retinanya.

Spanyol akhirnya secara formal meminta dana talangan hingga 100 milyar euro ($125 milyar) untuk membantu sektor perbankannya yang sedang bermasalah, namun jumlah pinjaman pasti belum ditentukan.

Selain itu, Cyprus juga akan menjadi negara Eropa kelima yang meminta bantuan dana ke Brussel, ini semakin menyoroti kegagalan Eropa meredam krisis hutangnya, meskipun dampak ekonomi dari Cyprus tidak akan terlalu besar.

Yang telah dijelaskan di atas cukup meredam harapan bahwa KTT Uni Eropa pekan ini akan melahirkan langkah kongkrit untuk solusi krisis hutang regionalnya, yang saat ini tidak hanya mengancam Spanyol namun juga Italia, negara ekonomi terbesar ke-3 di Eropa.

Bursa saham turun di awal pekan namun komoditas merangkak naik meskipun dolar AS masih dalam rebound-nya.

Sementara USDJPY merosot cukup besar ke areal 79.41 Senin kemarin dan masih bertahan di bawah areal 80 di awal sesi Asia hari ini (26 Juni), dari level tertingginya selama hampir 2 bulan di 80.59 yang dicapai pada awal sesi Asia Senin kemarin. Berkembangnya kembali risk-aversion memicu tekanan USDJPY meskipun masih terbuka support dari ketidakpastian politik Jepang setelah rencana kenaikan pajak dari PM Jepang, Yoshihiko Noda, mulai ditentang.

Emas <XAU=> rebound ke areal 1587 Senin kemarin ketika Cyprus mengumumkan permintaan dana talangan untuk perbankan dan anggarannya. Kekhawatiran penyebaran krisis hutang Eropa telah mendorong harga emas ke rekor tertingginya di sekitar $1920 per ounce tahun lalu karena investor beralih ke aset-aset aman resiko yang statusnya (safe haven) masih menempel ketika itu.

Kekhawatiran terhadap inflasi, dari pelonggaran moneter global, juga telah menjadi faktor pendorong emas untuk naik selama 11 tahun beruntun pada 2011, namun saat ini pasar sedang mengkhawatirkan perlambatan ekonomi global karena krisis di Eropa. Hal ini pun membuat kolektor perhiasan, investor maupun spekulator memperketat belanja mereka.

Di pasar fisik, seperti yang saya kutip dari Reuters, belakangan ini mencatat aksi bargain hunting, namun di tengah kondisi saat ini kenaikan harga hanya akan mengundang tekanan jual kembali. Seperti seorang pelaku pasar emas di Asia mengatakan pagi ini (26 Juni): ‘If the U.S. dollar remains strong, then gold may easily move down a little bit. We have to see if people are losing confidence in gold. One thing for sure the world’s economy is slumping.”

What Do the Charts Say?

Di atas adalah monthly chart emas <XAU=> yang saya lihat telah membentuk gelombang ke-3 dari 5 gelombang Elliot Wave untuk akselerasi kenaikan sejak Agustus 1999, dengan low di $251.70 hingga ke rekor tertinggi yang dicapai tahun 2011 di $1920.30. Ada beberapa pandangan yang mengatakan bahwa di puncak rekornya tersebut, emas telah menyelesaikan 5 gelombang akselerasi Elliot Wave. Namun menurut saya keduanya sama-sama mengindikasikan bahwa saat ini merupakan fase konsolidasi emas sejak rekor tertingginya tersebut. Serta potensial memasuki fase retracement yang saya tarik dari low 2008 di 680.80 (krisis finansial AS) hingga puncak rekornya.

Berikutnya pada weekly chart juga memperlihatkan gelombang konsolidasi yang sama antara konsolidasi 2008 dan saat ini – yang terdiri dari 5 gelombang konsolidasi. Dan saat ini emas sedang berjalan di gelombang konsolidasi ke-5 yang seharusnya bisa menembus ke bawah gelombang ke-3, di level 1521.94.

Di bawah ini juga merupakan wekkly-chart emas yang saya zoom-in sehingga lebih fokus pada fase konsolidasi saat ini. Ada pola descending triangle namun juga  ada formasi triple bottom yang dicapai pada gelombang ke-1, ke-3 dan areal low di kuartal kedua 2012 ini. Dan menurut saya cukup menarik saat ini untuk melihat apakah penurunan bisa memecahkan areal tersebut, yakni antara level 1527 dan 1521.

Namun perlu diwaspadai jika ada rebound menembus ke atas gelombang ke-4 di 1790.30, akan menggagalkan formasi 5 gelombang konsolidasi seperti yang terjadi pada krisis finansial AS 2008 lalu. Untuk saat ini lebih baik terlebih dahulu perhatikan resistance awal di 1640.30, yang merupakan high sementara Juni ini.

Jika downside menembus ke bawah 1521, pola kondolidasi 5 gelombang akan menempuh target awal yang merupakan 38.2% Fibonacci Retracement dari kenaikan sejak 2008 (lihat dalam monthly chart emas di atas).

Secara persentase, konsolidasi 2008 dari puncak 1030.80 ke 680.80 adalah sekitar 34%. Dan jika kekuatan konsolidasi sama, karena sama-sama dipicu oleh krisis, maka target konsolidasi saat ini akan mencapai ke sekitar level 1267 – yang merupakan areal 50% and 61.8% Fibonacci Retracement dari kenaikan seperti yang terlihat pada monthly chart di atas. Dan ini menurut saya masih konsolidasi yang sehat jika dilihat dari gelombang kenaikan pada monthly chart tersebut.

Dibuat Tanggal 26 Juni 2012

Categories: Pasar Internasional Tags:

GUEST POST: Inverse Head & Shoulders USDJPY & Nikkei

June 25th, 2012 No comments

Oleh: Rekhmen Abadi (Staf Research Dept. Valbury Asia Futures)

USDJPY naik hingga 80.59, yang merupakan areal horizontal resistance 80.60 yang terlihat di grafik harian pada posting sebelumnya, berhasil menutup perdagangan pekan lalu dengan meningkat dan masih bertahan di atas areal 80 pada awal sesi Asia Senin ini (25 Juni). Mata uang safe haven dolar AS naik akibat kekhawatiran melambatnya pertumbuhan global dan pasar pun masih belum yakin apakah KTT Uni Eropa pada Kamis dan Jumat nanti akan menghasilkan lagkah kongkrit untuk mengatasi krisis.

Para analis dari Barclay Capital memproyeksikan bahwa KTT akan lebih mengarah pada retorika yang lebih kuat yang mendukung upaya pengetatan integrasi fiskal, ketimbang langkah solusi kongkrit.

Apakah kenaikan USDJPY akan berlanjut? Berikut sejumlah fokus dari dalam dan luar negeri Jepang pekan ini, yang dikutip dari Forex Crunch.

The absence of QE3 from the FOMC decision certainly pushed the pair higher. Last week  Bank of Japan Governor Masaaki Shirakawa spoke in Tokyo about the global market turmoil following the pro-bailout Greek election outcome saying Japan has to monitor developments in the EU and watch from a worsening of EU stability in the near future. He also referred to the moderate growth rate of Japan’s domestic market claiming it is on the right path to recovery and that the BOJ will increase its asset purchases by Y19 trillion to Y70 trillion by the end of June 2013 to boost growth. Will Japan succeed to maintain a recovery trend?

Let’s see:

  • Retail Sales: Wednesday, 23:50 GMT. Japan’s marked the fifth straight month of annual increase with a 5.8% gain in April due to growing demand for automobiles, evoked by government subsidies for buying low-emission vehicles. The increase was broadly in line with expectations and followed 10.3% leap in March. A further increase of 3.1% is predicted this time.
  • Manufacturing PMI: Thursday, 23:15 GMT. Japanese manufacturing activity continued to grow in May at the same rate as the previous month reaching 50.7. The index stayed above the 50 point line indicating expansion. The index increased for the sixth consecutive month, but output, domestic new orders and export orders all slowed.
  • Household Spending: Thursday, 23:30 GMT. Japanese household spending increased by 2.6% in April from a year earlier rising hand in hand with consumer sentiment following March 2011 earthquake. The rise was above the 2.5% predicted by analysts. An increase of 2.5% is anticipated this time.
  • Tokyo Core CPI: Thursday, 23:30 GMT. The Tokyo Core Consumer Price Index (CPI) measuring the change in the price of goods and services purchased by consumers in Tokyo, excluding fresh food dropped unexpectedly 0.8% in May after a 0.5% decline in the month before suggesting deflation is hard to overcome. Another decline of 0.7% is forecasted now.
  • Prelim Industrial Production: Thursday, 23:50 GMT. Industrial production in Japan expanded less-than-expected in April rising to a seasonally adjusted 0.2% upwardly revised from a preliminary -0.2%. Analysts had expected industrial production to rise 0.5% last month. A drop of 2.6% is expected now.
  • Housing Starts: Friday, 5:00 GMT. Housing starts in Japan jumped 10.3% in April from a year earlier following 5.0% increase in March. The boost in construction had resulted from reconstruction work in quake-hit areas. It was the biggest rise since August last year, when orders rose 14 percent. Another nice rise of 6.6% is anticipated now.

Kalau di sisi Eropa, akan dinantikan KTT Uni Eropa pekan ini, maka dari Jepang akan dinantikan voting penambahan pajak penjualan. Mungkin pasar akan mengalami volatilitas dalam volume rendah karena investor enggan melakukan transaksi sampai mereka memperoleh pemahaman dari hasil kedua peristiwa tersebut.

Media massa Jepang melaporkan bahwa partai Demokrat, yang berkuasa di Jepang, bersama dengan oposisinya telah menyepakati prinsip voting penambahan pajak penjualan pada 2015, dua kali lipat dari level 5% saat ini.

Pada posting sebelumnya kita telah melihat pola inverse head and shoulders pada grafik harian USDJPY, dan pergerakannya sudah memasuki fase retracement penurunannya dari puncak tertinggi tahun ini yang dicapai Maret lalu, di 84.17.

Horizontal resistance (garis merah) di level 80.60, areal antara 38.2% dan 50.0% Fibonacci Retracement penurunannya tersebut, masing-masing di 80.14 dan 80.91. Mari kita lihat update chart-nya kembali …

Jika berhasil naik dan bertahan di atas 80.60 – kita bisa lihat formasi triple top di areal tersebut – maka gerak upside akan berlanjut, lebih jauh memasuki fase retracement dan potensial memenuhi target dari pola inverse head and shoulders disekitar 81.90, yang juga merupakan areal 61.8% Fibonacci Retracement penurunan tersebut, di 81.68.

Lalu apa yang akan terjadi dengan Nikkei? Pelemahan yen akan memberikan dukungan untuk indeks Nikkei Jepang, yang tercatat masih terakumulasi naik lebih dari 6 persen sejak menyentuh level terendahnya selama 6 bulan pada 4 Juni lalu. Namun untuk kuartal ke-2 berjalan ini, Nikkei masih terakumulasi turun 13 persen, tertekan oleh kekhawatiran mengenai krisis hutang Eropa yang kian mendalam dan lemahnya pertumbuhan ekonomi global.

What Do the Charts Say?

Ternyata Nikkei <.N225> juga membentuk pola inverse head and shoulders pada grafik harian serta telah menembus ke atas neckline-nya (garis hijau putus-putus), namun belum memasuki fase retracement seperti USDJPY.

Untuk jangka pendek kita akan memperhatikan neckline di 8665.80 sebagai level support. Sementara high pekan lalu di 8859.04 akan menjadi resistance. Target kenaikan Nikkei dari pola inverse head and shoulders tersebut akan berada di sekitar 9090, yang merupakan areal antara 38.2% and 50% Fibonacci Retracement penurunannya dari puncak tertinggi tahun ini yang dicapai Maret lalu.

Kita juga dapat melihat kecenderungan USDJPY terlebih dahulu, apakah mampu menembus dan bertahan di atas 80.60, sebelum kita memproyeksikan apakah Nikkei dapat menembus resistance-nya saat ini.

Potensinya adalah jika areal resistance masing-masing tembus, maka keduanya dapat memenuhi target masing-masing dari pola inverse head and shoulders mereka.

Semoga Sukses…

Dibuat 25 Juni 2012

Categories: Pasar Internasional Tags:

GUEST POST: Tentang USDJPY

June 25th, 2012 No comments

Oleh: Rekhmen Abadi (Staf Research Dept. Valbury Asia Futures)

Bursa saham dan mata uang di pasar Asia di awal sesi Jumat (22 Juni) tertekan karena investor kembali menjauhi diri dari aset-aset beresiko, yang memicu penguatan mata uang safe haven dolar AS ke level tertinggi 1,5 pekan terhadap mata uang utama dunia. Hal ini dipicu oleh meningkatnya kembali kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global diawali setelah rilis pesimis data-data manufaktur global; dari Cina zona euro dan AS yang menyuramkan prospek ekonomi dunia.

Adalah data manufaktur Juni Cina mengawali pesimisme tersebut, tertekan dalam zona kontraksinya selama 8 bulan beruntun akibat export order-nya merosot ke level terendah sejak awal tahun 2009. Aktifitas manufaktur zona euro Juni juga tertekan selama 5 bulan beruntun. Sementara dari AS, indeks manufakturnya tertekan ke level terendah selama 11 bulan dan daya serap tenaga kerja di sektor tersebut melamban menyusul turunnya demand global terhadap produk-produk AS.

Pesimisme data tersebut menekan bursa Wall Street sekitar 2 persen Kamis (21 Juni) lalu, dan merupakan tekanan terbesarnya selama 3 pekan terakhir.

Yang menambah kekhawatiran investor berikutnya adalah downgrade peringkat kredit 15 bank global, termasuk Morgan Stanley dan JP Morgan, oleh Moody’s – yang sudah lama diantisipasi pasar karena warning dari Moody’s di awal tahun ini.

Bolehlah ada sedikit hiburan dari pesimisme tersebut, bahwa pemangkasan peringkat untuk Morgan Stanley hanya 2 level ke Baa1, bukan 3 level seperti yang diperingatkan Moody’s Februari lalu.

Berikut adalah rinciannya:

  • Bank of America L-T senior unsecured debt cut to Baa2 from Baa1, outlook negative.
  • Barclays L-T issuer rating cut to A3 from A1, outlook negative
  • Citigroup L-T senior debt cut to Baa2 from A3, outlook negative
  • Credit Suisse Group L-T deposit, senior rating cut to A1 from Aa1, outlook stable
  • Goldman Sachs Group L-T senior unsecured debt cut to A3 from A1, outlook negative
  • HSBC Holdings L-T senior debt cut to Aa3 from Aa2, outlook negative
  • JPMorgan Chase L-T senior debt cut to A2 from Aa3, outlook negative
  • Morgan Stanley L-T senior unsecured debt cut to Baa1 from A2, outlook negative
  • Royal Bank of Scotland Group L-T senior debt cut to Baa1 from A3, outlook negative
  • BNP Paribas L-T debt, deposit rating cut to A2 from Aa3, outlook stable
  • Credit Agricole L-T debt, deposit rating cut to A2 from Aa3, outlook negative
  • Royal Bank of Canada L-T deposit rating cut to Aa3 from Aa1, outlook stable
  • Societe Generale L-T debt, deposit cut to A2 from A1, outlook stable
  • UBS L-T debt, deposit cut to A2 from Aa3, outlook stable
  • Deutsche Bank AG L-T deposit rating cut to A2 from Aa3, outlook stable

Kita tidak melihat Moody’s memangkas peringkat perbankan Jepang saat ini, dan saya mulai tertarik dengan pergerakan yen belakangan ini terutama sejak the Fed memutuskan belum melakukan QE3 di pertemuannya lalu, melainkan hanya melakukan Operation Twist.

USDJPY pun melanjutkan kenaikan menembus dan bertahan di atas areal 80 untuk pertama kalinya sejak pertengahan Mei lalu. Dari Jepang juga nampaknya turut memicu kenaikan USDJPY, yakni rilis data perdagangannya periode Mei yang menunjukkan defisit selama 3 periode beruntun serta adanya peningkatan biaya impor energi meskipun beberapa pembangkit tenaga nuklirnya mulai berjalan kembali.

Apakah USDJPY akan kehilangan status ‘safe haven’?

Mari kita lihat penjelasan Yohay Elam dari Forex Crunch di bawah ini, seperti yang telah dipublikasikannya dalam “Forex Outlook June 2012”:

The Japanese yen was the big winner of May, against the will of Japanese authorities. Japan continues maintaining its safe haven status, despite quite a few factors that point to the lack of safety.

  • Japan stopped using nuclear energy. It is now reliant on imports of oil and coal for energy. This changes the trade balance and means that more money leaves Japan.
  • Japan has a debt mountain that is set to reach 239% of GDP. This is far worse than Spain, Italy or Greece. This mountain is considered safe as it isn’t held by foreigners but rather by domestic investors. However, pension funds are becoming net sellers of Japanese debt, as they need the money to pay an aging population.
  • Downgrade: Credit rating of Japan was lowered by Fitch and more downgrade could follow.
  • Intervention: So far, the BOJ and MOF haven’t intervened in the markets to weaken the yen. If a stealth intervention was made, its effect weren’t seen. An intervention could happen in June, although Japan needs to fight very strong market forces, and this is no easy task.
  • Economy: The impact of stronger yen and the global slowdown weighs on the economy, and some signs could be seen in June.

All in all, Japan is far from being safe, and some day, the ‘safe haven’ status will disappear instantly.

USDJPY akan terdukung lagi oleh kelanjutan pelonggaran moneter BOJ?

Kemarin (21 Juni), seorang anggota dewan BOJ, Koji Ishida, mengatakan bahwa meskipun ekonomi Jepang tampak memenuhi estimasi BOJ, yakni mengalami pemulihan moderat, tapi itu tidak cukup menjadi jaminan yang akan membuat bank sentral Jepang tetap mempertahankan kebijakan moneternya di pertemuan reguler bulan depan.

Di pertemuan regulernya pekan lalu, BOJ memutuskan mempertahankan kebijakan moneternya sambil merevisi naik assessment ekonominya, dengan menyatakan bahwa pertumbuhan masih berlanjut moderat karena didukung oleh demand lokal.

Dan juga, parlemen Jepang Kamis kemarin (21 Juni) menyetujui nominasi 2 ekonom terkemuka, yang keduanya dikenal sebagai pendukung pelonggaran moneter agresif, untuk masuk dalam 9 anggota dewan moneter BOJ.

Meskipun kapan waktu pasti bergabungnya mereka di dewan moneter BOJ belum diketahui, banyak ekspektasi mengatakan mereka sudah berada dalam dewan moneter bank sentral Jepang di pertemuan 11-12 Juli mendatang.

What Do the Charts Say?

Ada pola inverse head and shoulders pada grafik harian USDJPY di atas, dan harga sudah menembus ke atas neckline-nya (garis hijau putus-putus) untuk masuk ke fase retracement penurunan dari puncak tertinggi tahun ini yang dicapai Maret lalu, di 84.17.

Horizontal resistance (garis putus-putus merah) di level 80.60, yakni antara 38.2% and 50.0% Fibonacci Retracement penurunan tersebut, masing-masing di level 80.14 dan 80.91.

Jika rebound menembus ke atas level-level tersebut maka kenaikan potensial menuju ke target rebound dari pola inverse head and shoulders, yakni di 81.90, yang ternyata juga merupakan areal 61.8% Fibonacci Retracement dari penurunannya tersebut, yakni di 81.68.

Dibuat Tanggal 22 Juni 2012

Categories: Pasar Internasional Tags: