Home > Pasar Internasional > Apakah Eropa Akan Terperangkap dalam Deflasi?

Apakah Eropa Akan Terperangkap dalam Deflasi?

Make no mistake about it: Though it may not seem that Europe is the problem, I can assure you it is. Europe is sinking deeper and deeper into a depression. Unemployment continues to rise, banks in Europe are getting weaker and weaker, and the strength in the euro is not a sign of health. Rather, it’s a sign of severe deflation taking root in Europe, a force that will eventually cause Europe to meltdown. I urge all investors to stay out of European equity and bond markets. That’s where the real crisis is.”

– Larry Edelson

Nico-176

“A new risk to activity stems from very low inflation in advanced economies, especially the euro area, which, if below target for an extended period, could de-anchor longer-term inflation expectations. Low inflation raises the likelihood of a deflation in case of a serious adverse shock to activity. In the euro area, low inflation also complicates the task in the periphery where the real burden of both public and private debt would rise as real interest rates increased.”

– International Monetary Fund

 

Kekhawatiran zona euro mudah terbakar, yang setiap menitnya dapat beresiko pada kehancuran finansial, seolah sudah hilang.

Namun kini seperti bom waktu yang siap meledak, dapat menyebabkan pasar global seperti krisis Rusia 1998 ataupun krisis AS 2007/08 (pailitnya Lehman Brothers). Apakah ini mampu diatasi?

Menurut saya tidak.

Belakangan ini, Zona Eropa mengalami tingkat inflasi yang sangat rendah, sebagai salah satu akibat karena memiliki hutang besar.

Ketika hutang mencapai level tertentu yang membebani ekonomi, maka akan menekan potensi pertumbuhannya.

Sumber daya yang seharusnya lebih baik dimanfaatkan di suatu hal, kini terpaksa digunakan untuk kepentingan hutang tersebut. Dengan kata lain yang lebih sederhana, segala energi (kekuatan) tertuju hanya untuk menopang hutang dan masalah-masalah yang muncul karenanya.

Bagi debitur, inflasi akan menjadi pengikis beban hutang.

Namun ketika deflasi menyerang, nilai ‘real’ dari hutang akan meningkat sehingga beban akan semakin berat. Dengan kondisi sedemikian, maka energi lebih besar dibutuhkan dan ini akan membuat debitur semakin terpuruk.

Ini bukanlah situasi yang kondusif bagi pemulihan yang nampaknya mulai terjadi di Yunani, Italia, Irlandia, Portugal ataupun Spanyol.

Dan semakin banyak investor yang khawatir terhadapnya, semakin mereka menyadari bahwa kondisi Eropa yang sebelumnya banyak dikatakan pulih bukanlah sebuah akhir dari krisis.

Mike Amey dari perusahaan bond fund, Pimco, mengatakan bahwa Zona Eropa sedang “sleepwalking into a decades-long deflation trap” seperti Jepang tahun 1990an yang salah langkah menurunkan suku bunga mendekati 0%.</